Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
51. Ketahuan


__ADS_3

Bug bug bug!


Kehabisan oksigen di dalam paru-paru. Karina tanpa segan memukul punggung Andy, bahkan menggigit bibir bagian bawah Andy sampai berdarah.


“Auw!”


Andy melepaskan ciumannya, jari jempolnya mengusap tetesan darah miliknya di bibir Karina. Kemudian mengusap darah di bibirnya sendiri.


“Kenapa kamu mencium saya?” tanya Karina duduk menyudut, ketakutan.


“Ciuman itu menunjukkan rasa cintaku yang terlalu besar kepada kamu,” sahut Andy sembari memakai seatbelt miliknya, dan menghidupkan mesin mobil.


“Wah! Jangan berkilah kamu. Kalau kamu masih mencium ku seperti itu lagi, maka kita akan putus!” ancam Karina tegas.


“Kenapa saat aku mencium kamu tadi, kamu tidak mendorong tubuhku. Bahkan kedua kelopak mata kamu sampai terpejam,” cetus Andy menggoda Karina.


“Sa-saya tadi hanya terkejut. Be-benar, hanya terkejut,” tepis Karina gugup, membela diri.


Sebenarnya bukan karena itu. Sebenarnya Karina memang ingin membiarkan Andy menciumnya, karena ia juga menyukai Andy.


“Mau menuju dan merasakan hal lain tidak?” tanya Andy menawarkan sekaligus menggoda.


“KAMU!” celetuk Karina memelototi Andy.


“Bercanda,” ucap Andy di sela tawa garing nya.


Selesai menggoda Karina, dan hari sangat malam, Andy melajukan mobil miliknya menuju rumah Karina. Sepanjang perjalanan mereka saling diam. Karina memalingkan wajahnya, menatap jalan raya. Sedangkan Andy fokus ke jalan, dan sesekali melirik Karina sambil senyum-senyum sendiri.


Kayak mana tidak senyum-senyum sendiri. Orang Andy sudah cukup lama memendam hasratnya. Walau hanya bisa mencium bibir Karina, tapi hal itu sudah membuatnya sangat puas. Apalagi perasaannya akhirnya terbalas sudah.


.


.


30 menit kemudian.


Mobil Andy telah terparkir di depan halaman rumah Karina. Andy buru-buru keluar dari dalam mobil, membuka pintu mobil untuk Karina.


“Silahkan turun, sa..yang!” ucap Andy sedikit berbisik.


“Apaan sih! Malu tahu,” cetus Karina menyikut bidang dada Andy.


Saat ingin memegang tangan dan memberi kecupan sekali lagi di kening Karina. Andy dan Karina tidak menyadari jika Tina dan Junaidi telah berdiri di depan pintu rumah. Menatap kedua insan di mabuk asmara sedang asik ingin bermesraan.


“Wouy!” panggil Junaidi, sorot mata suram memandangi wajah Andy.

__ADS_1


“A-Ayah!” gumam Karina langsung melepaskan genggaman tangan Andy.


“Eh, ada Om sama Tante,” ucap Andy tersenyum tipis.


“Karina, masuk!” perintah Junaidi sambil mengayunkan tangannya ke dalam rumah.


Karina menunduk, sembunyi-sembunyi ia melambaikan tangannya kepada Andy. Namun, hal itu di lihat Junaidi, membuat Junaidi kembali meninggikan nada suaranya.


“KARINA!”


“I-iya, Ayah!” Karina bergegas masuk, sesekali ia melirik ke belakang, melihat Andy sedang tersenyum padanya.


Di depan rumah tinggallah Andy bersama dengan Junaidi. Tina sendiri masuk, mengikuti Karina.


“Kamu. Ke sini!” panggil Junaidi berwajah seram.


Seolah tak merasa bersalah dan takut, Andy melangkahkan kedua kakinya mendekati Junaidi, lalu ia tersenyum.


“Ada apa Om?” tanya Andy sopan.


“Ada apa, ada apa. Kau tahu apa salahmu?”


“Enggak. Emang apa Om?” Andy balik bertanya seolah tanpa beban.


Junaidi dan Andy telah duduk di ruang tamu.


“Kenapa ya, Om?” tanya Andy pura-pura polos.


Junaidi mendekatkan bibirnya ke daun telinga Andy, dan berkata. “Baru jadian kau sama anakku?” tanya Junaidi.


“Menurut Om?” Andy balik bertanya.


Kesal pertanyaannya tidak di jawab, Junaidi menggebrak meja, menatap lekat wajah tenang Andy.


“Aku bertanya samamu!”


“Dan aku sangat yakin Om pasti tahu jawabannya,” ucap Andy bersikeras ingin main tebak-tebakan.


Di tengah-tengah ketegangan Andy dan Junaidi. Tina datang bersama Karina, membawa nampan berisi minuman hangat dan makanan ringan.


“Mumpung masih hangat, silahkan di minum teh nya,” ucap Tina mempersilahkan.


“Terima kasih calon ibu mertua,” terima kasih Andy sambil mengambil gelas berisi teh manis hangat dan menyeruputnya.


Baru 3 kali teguk, Junaidi mengambil gelas dari tangan Andy, meletakkannya di atas meja, lalu menatap lekat dan suram wajah bingung Andy.

__ADS_1


“Untung minumannya nggak tumpah Om. Kalau tumpah, kan jadinya mubazir. Kasihan juga calon ibu mertua dan calon istri yang sudah susah payah membuatkan teh untuk kita,” cetus Andy menasehati Junaidi.


Sedikit memahami sikap Andy. Junaidi berulang kali menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Sudah cukup tenang, barulah Junaidi kembali mengintrogasi Andy.


“Kenapa kamu bilang istri ku calon ibu mertua, dan anakku calon istri. Berharap ingin aku restui kamu?” tanya Junaidi nyolot.


Seolah tak tahu malu dan bermuka tembok. Wajah Andy berubah menjadi senang, ia mengambil punggung tangan Tina dan Junaidi.


“Terima kasih, terima kasih telah merestui kami berdua. Secepatnya, secepatnya ketika Karina telah menemukan dan menggapai semua cita-citanya, aku akan melamar anak Bapak dan tante!” celetuk Andy senang.


Karina mendengarnya malu, sampai-sampai ia menundukkan kepalanya. Tina menyadari jika putri semata wayangnya menyukai Andy, akhirnya ikut angkat bicara.


“Kalau ibu sebenarnya tidak melarang atau ingin menghalangi niat baik nak Tama. Tapi, kamu tahu sendiri, kan bahwa putri ibu baru saja pulang dari study S2 nya. Karina juga baru saja melamar pekerjaan di salah satu psikolog khusus anak-anak di kota kita. Tentang sebuah lamaran dan pernikahan. Gimana membahasnya setelah Karina bekerja saja,” ucap Tina memberi saran.


“Iya, Karina sangat ingin menjadi psikolog anak. Jadi, aku sebagai Ayahnya tidak terima jika kamu melamarnya sebelum keinginannya terwujud!” tambah Junaidi tegas.


Karina hanya menunduk.


Andy melirik sekilas wajah Karina penuh harap akan membiarkan ia sampai masuk ke salah satu pekerjaan ia sukai. Kemudian mengalihkan pandangan ke Tina dan Junaidi.


“Om dan ibu tenang saja. Aku tidak terburu-buru kok. Aku bisa menahan semuanya sampai Karina masuk ke pekerjaan yang ia inginkan. Tapi, sebelum menuju ke jenjang serius. Bolehkan kami berdua pacaran, ya!”


“Tidak-tidak. Enak aja kamu ingin pacaran sama anak perawanku. Emang kau bisa jamin untuk tidak memiliki nafsu dan melakukan hal lebih?” tolak Junaidi.


“Kalau ibu, setuju, setuju aja, karena menurut ibu, nak Tama itu adalah anak yang baik dan bisa menjaga kehormatan Karina,” ucap Tina berbeda dari Junaidi, dan itu membuat Karina dan Andy senang.


“Om tenang saja. Aku janji tidak akan melakukan hal lebih kepada Karina. Paling, tipis-tipis hanya pegangan tangan sama cium kening,” cetus Andy penuh keyakinan dan pede.


“Ini!” Junaidi menunjukkan kepalan bogem ke hadapan Andy.


Andy membalasnya dengan tertawa, tangannya menggaruk rambut belakang tak gatal.


Menyadari jika putri semata wayang telah berumur, Junaidi menurunkan egonya. Mencoba percaya pada Andy.


“Baiklah, aku akan mencoba untuk merestui hubungan kalian berdua,” gumam Junaidi pasrah. “Tapi, kalau kau menyakiti putri kesayanganku. Maka kau akan ku habisi dengan kedua tanganku!” tambah Junaidi mengancam dengan memberi bogem mentah.


“Aku janji tidak akan pernah menyakiti hati Karina. Malah yang lebih sering menyakiti adalah Karina,” janji Andy.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2