Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
8. Meski Bibir Terus Berkata Kasar


__ADS_3

Pukul 20:30 malam.


Meski bibir terus berkata kasar dan selalu menolak ajakan Karina. Tapi hati Andy terus mendorong untuk segera ingin bertemu dengan Karina.


“Sial! Kenapa aku bisa berhenti dan menunggu hampir 1 jam di sini?” gerutu Andy.


Andy terus menunggu kedatangan Karina di tempat sepi. Ia terus duduk di atas sepeda motor KLX miliknya, sorot matanya terus liar memandang semua pelintas di jalan Halat tidak terlalu ramai malam ini.


“Bodohnya lah aku ini. Sudah menolaknya, tapi masih berharap bisa bertemu di sini. Aih! Dasar kau manusia yang bodoh, Andy!” umpat Andy menghujat dirinya sendiri sembari menghidupkan mesin sepeda motornya.


Baru saja hendak pergi meninggalkan tempat ia berhenti. Andy tidak sengaja melihat Karina lewat menggunakan sepeda motor matic dari arah berlawanan. Tanpa pikir panjang, Andy langsung melajukan KLX miliknya mengejar Karina.


Broom broom!


Andy sengajar menggeber Karina setelah ia bisa berjalan sejajar.


Karina menoleh sekilas, lalu ia kembali fokus ke jalan. Merasa asing dengan pria memakai helem KLX berada di sampingnya, Karina melajukan sepeda motornya dengan cepat sehingga membuat Andy tercengang.


“Iyah! Apa dugong ini rabun saat malam hari?” gumam Andy.


Tak mau kalah, Andy juga mengejar Karina. Setelah mendapat persimpangan jalan menuju Tanah Merah, Andy sengaja menyalip di depan Karina, membuat Karina harus menepikan motornya.


Andy turun dari KLX nya, ia berjalan dengan helm masih melekat di kepalanya.


“Bohong Kakak, ya!” omel Andy setelah mendekati Karina.


Jangan bingung ya! Kalau di sekolah Andy memanggil Karina dengan sebutan “Ibu”, tapi kalau di luar Andy memanggil Karina dengan sebutan “Kakak”.


Karina masih diam, ia terus memperhatikan siapakah pria tersebut.


“Hei! Kenapa melamun? Bukannya tadi mengatakan jika mau mengajakku nongkrong di Halat? Mendadak lupa atau sengaja amnesia?” tanya Andy ngegas mengingatkan Karina kembali.


“Apa kamu, Andy Pratama?” tanya Karina mengingat perjanjian itu hanya untuk Andy.


Andy membuka helmnya, kemudian membuka kaca helm milik Karina sembari memasukkan wajahnya ke dalam helm Karina.

__ADS_1


“Lihat! Apa kurang besar lagi wajahku ini di mata Kakak?” tanya Andy dengan sangat dekat sehingga tercium aroma asap rokok dari mulut Andy.


“Bau banget sih, mulut kamu!” celetuk Karina mendorong Andy sehingga Andy melangkah mundur ke belakang.


“HAAKH!! HAAKH!” ucap Andy mencium nafasnya sendiri setelah dihembuskan di telapak tangannya.


“Bau apalah coba?” Andy pura-pura bertanya, padahal ia sangat malu karena nafasnya di bilang bau.


“Sebaiknya kita mengobrol di rumah saya saja,” ajak Karina kembali menghidupkan sepeda motornya.


“Di rumah nanti hanya kita berdua, atau ada kedua orang tua Kakak?” tanya Andy sembari memasang kembali helm nya.


“Ada keduanya. Kenapa?” sahut Karina mulai melajukan sepeda motornya secara perlahan.


Andy mengikutinya berjalan kaki sambil mendekati KLX nya terparkir berjarak 5 meter.


“Yah, malas lah. Kalau hanya Kakak saja di rumah aku mau mampir. Tapi, kalau Kakak tinggal dengan kedua orang tua, sebaiknya aku pergi saja!” ucap Andy menolak secara halus.


“Ya, sudah. Kamu maunya kita duduk dimana?” tanya Karina sedikit mengalah.


“Gimana kalau Kakak ikut aku. Aku punya tempat private untuk berdua tak jauh dari sini,” sahut Andy memberi saran.


“Ikut aku saja. Lagian aku janji tidak akan melakukan hal apa pun kepada Kakak sekaligus ibu guru ku,” sahut Andy mulai menghidupkan KLX nya.


‘Bismillah saja, demi bisa dekat dan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Andy saat di luar sekolah,’ batin Karina menyakinkan dirinya.


Karina mengikuti laju sepeda motor Andy menuju kota Medan. Meski sedikit ragu-ragu, Karina tetap menyakinkan dirinya jika Andy tidak akan mungkin melakukan hal jahat kepadanya.


1 jam berlalu.


Akhirnya Andy menghentikan sepeda motornya di sebuah rumah ruko bertingkat 2. Andy membuka kunci pintu ruko, memasukkan KLX miliknya, kemudian mendekati Karina.


“Turun dulu, biar aku masukkan ke dalam,” ucap Andy memberi perintah.


Karina turun tanpa bertanya, ia pun berjalan mendekati pintu rumah ruko tersebut.

__ADS_1


“Ini ruko milik siapa?” tanya Karina mengintip ke dalam ruko kosong. Hanya beberapa sofa dan meja di dalamnya.


“Masuk dulu biar aku jelaskan,” sahut Andy mempersilahkan Karina masuk.


Setelah Karina masuk, Andy mengunci pintu rukonya. Kemudian ia melangkah terlebih dahulu melewati Karina.


Sebenarnya ada rasa takut saat mengetahui jika Karina berduaan di dalam ruko dengan pencahayaan redup itu. Namun, Karina tetap harus berpikir positif demi mencapai tujuannya.


“Kenapa terus menatap sekeliling rumah ruko seperti itu. Apa Ibu, eh…maksudku, apa Kakak takut kalau aku akan memperkosa Kakak di sini?” celetuk Andy tanpa berpikir.


“Saya yakin kalau kamu tidak akan melakukan hal seperti itu kepada saya,” ucap Karina berbohong. Padahal ia juga sedang menyadari hal sama.


“Iya, aku juga tidak berselera melakukan hal seperti itu kepada Kakak,” sahut Andy menghentikan langkahnya di ruangan kecil, tangannya mengarah ke sofa single, “Silahkan duduk di sini. Aku mau ke dapur untuk membuatkan minuman,” lanjut Putra mempersilahkan Karina duduk.


“Ti-tidak usah repot-repot. Kebetulan saat mengajar les privat, saya diberi makan oleh orang tua murid,” tolak Karina lembut.


“Hem? Mencurigakan. Di tempat orang yang tidak di kenal mau makan dan minum. Sedangkan di tempat murid yang sudah ia kenal menolak. Atau jangan-jangan Kakak beneran takut sama aku. Jujur aja deh?!” desak Andy mendekatkan wajahnya.


“Tidak, saya tidak takut Andy. Tapi, kalau kamu memaksa, ya sudah. Saya akan menerima apa pun yang akan kamu suguhkan,” sahut Karina mencoba percaya.


“Baik, tunggulah sebentar di sini,” ucap Andy terlihat semangat, ia pun berlari menuju dapur sekaligus bar kecil di dalam rumah ruko itu.


Sambil menunggu Andy membuatkan makanan dan minuman untuknya. Karina memutuskan untuk berkeliling sejenak di dasar rumah ruko tersebut. Karina memandang sebuah foto terpajang di dinding tangga. Foto seorang wanita berusia 35 tahun, terlihat anggun dan berwajah teduh. Kemudian foto wanita tersebut dengan seorang bayi tampan.


“Apa foto-foto ini adalah milik mendiang Mamanya Andy. Tapi, kenapa foto-foto ini tidak ada gambar Pak Khandar?” gumam Karin bertanya sendiri.


Karina melajutkan kembali melihat foto-foto di dinding tersebut. Dahi Karina mengernyit saat melihat gambar Andy, Andreas, dan 8 pemuda remaja seusia Andy sedang duduk di salah satu ruang tamu terkesan mewah seperti Apartemen. Di sudut ruangan terlihat seorang wanita memakai pakaian serba terbuka, wajah wanita tersebut juga sedikit lebih tua dari mereka, di tangannya memegang nampan berisi minuman beralkohol. Karina melangkah kembali, pergi ke sisi kiri, melihat foto Andy, Andreas, dan 8 pemuda tadi memakai baju seragam geng motor.


“Jangan-jangan!” gumam Karina terkejut melihat foto-foto tersebut.


Karina dengan cepat ingin kembali ke tempat duduknya. Namun, Andy ternyata sudah berdiri di belakang Karina dengan tatapan menyeramkan.


“A-Andy!”


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2