
Tak memperdulikan pandangan pengunjung dan staf karyawan restaurant, Andy terus mengejar Karina.
“Karina, Karina!” teriak Andy berhasil menggapai pergelangan tangan Karina.
Langkah kaki Karina terhenti di teras restaurant.
“Kenapa menghentikan saya. Kenapa kamu tidak terus tertawa seolah ucapan saya tadi benar?” cetus Karina sinis.
Andy tidak menjawab, ia menarik Karina dan memeluk tubuh Karina, tanpa memikirkan para pengunjung yang berdatangan memandang ke arah mereka.
“Maaf. Aku benar-benar minta maaf padamu. Jujur saja tadi itu aku tertawa karena gemas melihat wajah cemburu kamu,” ucap Andy jujur.
“Bohong. Pasti kamu sedang menyembunyikan perselingkuhan kamu dengan wanita itu, kan?” tanya Karina tak percaya.
Andy melepaskan pelukannya, mengambil ponsel miliknya dari dalam saku celana. Membuka pesan wa miliknya, dan menunjukkan siapa saja mengirim pesan wa kepadanya.
“Semua isi pesan wa ku hanya dari mereka berdua, Andreas dan Fitri. Masih tidak percaya?” Andy membuka isi pesan terakhir dari Andreas.
Karina membaca dalam hati. ‘Memang sahabat nggak ada ota*k kau. Kau kasih pula nomorku sama wanita gatal!’
Selesai membaca isi pesan Andreas dalam hati. Karina tertawa geli, dan hal itu membuat jantung Andy tadinya hampir copot karena kebingungan bagaimana membujuk Karina, kini detak jantungnya kembali normal.
“Sudah percaya?” tanya Andy sedikit lega.
“Maaf, ya!” maaf Karina merasa bersalah.
“Aku ingin maaf kamu dengan menerima lamaranku. Gimana?” tanya Andy memberikan sebuah penawaran.
“Kamu ini. Serius kenapa sih!”
“Aku serius. Kalau tidak percaya, nanti malam aku akan datang bersama Papa ke rumah kamu,” jelas Andy membuat Karina benar-benar syok.
“Kok mendadak?” tanya Karina.
“Biar kamu percaya kalau aku ini benar-benar memiliki niat serius untuk kamu,” sahut Andy serius.
“Gimana kalau pertemuannya kita tanya ibu saja,” usul Karina sepertinya menyetujui lamaran Andy.
“Baiklah, nanti pulang dari mengantar kamu, aku akan bertanya pada tante,” Andy menggenggam tangan Karina. “Karena makanan dan minuman milik kita telah datang. Sebaiknya kita habisi dulu, baru kita pulang,” lanjut Andy merayu Karina untuk kembali masuk.
“Malu ah. Gimana makanan dan minumannya di bungkus, dan di bawa pulang saja,” ucap Karina memberitahu.
“Baiklah, kamu tunggu di mobil, aku akan membayar dan mengambil pesanan kita,” sahut Andy, tangannya mengulur kunci mobil.
__ADS_1
“Kamu beneran tidak malu untuk kembali?” tanya Karina cemas.
“Tidak. Cari uang itu susah. Jadi mana mungkin aku rela membuang uang yang sudah aku keluarkan,” sahut Andy di sela senyumannya. Tangannya mengarah pada mobil miliknya di tempat parkiran. “Sudah, pergi sana!” tambah Andy.
Karina pergi. Namun, sesekali ia menoleh kebelakang melihat Andy masih berdiri, menatap kepergiannya.
Karina sudah masuk ke dalam mobil. Andy bergegas kembali masuk ke restauran, dan kini ia berdiri di depan meja kasir.
“Aku ingin membungkus makanan dan minuman yang sudah aku pesan tadi,” ucap Andy sembari mengeluarkan dompet dari saku celananya.
“Tunggu sebentar ya, bang,” sahut staff kasir tersebut, tangannya memanggil staff pelayan, memberi kode untuk membungkus makanan dan minuman pesanan milik Andy.
“Berapa total semuanya?” tanya Andy tak sabar.
“Total makanan dan minuman yang dipesan semuanya menjadi 450 ribu,” sahut staf kasir tersebut setelah menotalkan.
Andy mengeluarkan uang tunai sebanyak 5 lembar uang merah.
“Nah, ambil saja kembaliannya,” sahut Andy.
“Terima kasih bang,” terima kasih staf kasir.
“Hem!”
“Kamu pasti haus, kan?” tanya Andy setelah ia masuk ke dalam mobil.
“Kamu beneran mengambil pesanan kita?” Karina masih tak percaya.
“Benar dong,” Andy mengeluarkan minuman milik Karina, dan memberikannya. “Mumpung masih segara, sebaiknya kamu minum dulu,” tambah Andy sambil menusukkan pipit minuman.
Karina mengambil minumannya, mencicipi minuman tersebut, lalu tanpa aba-aba mengecup sebelah pipi Andy.
Andy tadinya hendak minum kopi miliknya harus terhenti. Lirikan maut mengarah pada wajah malu Karina.
“Karena umpan sudah di dapat, maka pemancingnya harus menerima hukumannya,” cetus Andy menangkup tengkuk Karina, dan mencium rakus bibir Karina.
Ciuman tersebut berlangsung cukup lama, sehingga membuat seluruh oksigen di paru-paru habis. Andy dan Karina saling melepaskan tautan bibir mereka.
“Terima kasih,” terima kasih Andy dengan nafas terputus-putus, dan menempelkan keningnya ke kening Karina.
Karina membalasnya dengan anggukan.
“Karena hari mulai sore, sebaiknya aku antar kamu pulang,” tambah Andy memasangkan seatbelt milik Karina, kemudian seatbelt miliknya.
__ADS_1
Mobil perlahan maju meninggalkan parkiran restaurant.
Setelah menempuh perjalanan 1 jam setengah terkena kemacetan di jalan. Mobil milik Andy kini telah terparkir di depan teras rumah Karina. Di depan teras duduk Junaidi dan Tina seperti sedang menikmati pemandangan jalan di sore hari.
“Assalamua’alaikum, bu…Ayah,” ucap salam Karina setelah berdiri di hadapan kedua orang tuanya. Tak lupa Karina menyalami dan mencium punggung Junaidi dan Tina.
“Assalamu'alaikum, om dan tante,” ucap salam Andy ikutan mencium punggung tangan Tina dan Junaidi.
“Wa’alaikumsalam,” sahut Tina dan Junaidi serentak.
Junaidi beranjak dari duduknya. “Mari masuk dulu kau!” ajak Junaidi kepada Andy.
Andy membuka sepatunya, lalu masuk ke dalam diikuti Tina, dan Karina.
“Saya buatkan minuman dulu,” pamit Karina ingin membuat minuman.
“Ayah nggak usah nak,” ucap Junaidi karena kopi di gelasnya masih panas.
“Aku juga,” sambung Andy.
“Ibu juga nak. Sebaiknya kamu duduk dulu di sini, soalnya Ayah kamu mau membahas hal penting,” pinta Tina.
“Penting!” gumam Andy mulai cemas.
Karina patuh, ia duduk di sebelah Tina.
Andy sekilas melirik Karina, memberi kode hal penting apa yang ingin disampaikan oleh Junaidi. Tapi, Karina malah menaikkan kedua bahunya seolah dirinya juga tidak tahu. Namun, gerakan mereka berdua ketangkap basah oleh Junaidi.
“Ekhem! Kenapa memberi kode pada putriku. Apa kau takut akan pertanyaan yang akan segera aku ajukan padamu?” tanya Junaidi sinis.
“Ti-tidak Om. A-aku malah semakin tak sabar ingin mendengar pertanyaan itu,” sahut Andy gugup.
“Bagus. Begini, kau, kan sudah lama bawa-bawa anak perawanku. Nah, daripada besok-besok besar perutnya sih Karina kau buat. Lebih baik segera kau bawak lah bapak kau itu ke rumahku. Kalau kau berniat serius dengan anak gadis perawanku, maka lamar dan nikahi Karina secepatnya. Kalau enggak, kau tinggalkan saja Karina. Karena putriku ini sangat cantik, pasti banyak laki-laki yang ingin menikahinya!”
“Ya, tega kali Om berkata seperti itu. Serius kali pun aku sama putri om ini. Udah lama ku pepet kenapa baru sekarang aku mendapat restu. Kalau gitu secepatnya akan ku bawa Papa ku ke sini untuk melamar anak gadis Om ini,” sahut Andy tak mau kalah.
“Bagus!”
.
.
Bersambung
__ADS_1