Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
77. Pamit Berulang


__ADS_3

Selesai mengobrol singkat, dan jarum jam panjang sudah menunjukkan pukul 22:30 malam. Khandar memutuskan untuk mengajak Andy pulang. Tina, Junaidi, dan Karina mengantarkan mereka berdua sampai ke teras rumah.


“Kalau begitu ceritanya kami pamit pulang. Terima kasih telah menyambut kedatangan kami, dan memberikan hidangan lezat untuk mengganjal perut yang lapar,” ucap Khandar berterima kasih pada Tina dan Junaidi.


“Sama-sama. Kami berdua juga berterima kasih karena bapak menyempatkan diri untuk membahas masalah pernikahan anak kita,” sahut Tina ikutan berterima kasih.


Junaidi mengangguk, membenarkan ucapan sang istri.


Tanpa rasa malu, Andy mengambil tangan Tina dan Junaidi secara bergantian, dan mencium punggung tangan sambil mengucapkan salam.


Melihat sikap sopan Andy, Khandar spontan mengernyitkan dahinya, tak percaya jika putra semata wayang terkenal nakal dan membangkang bisa bersikap sopan kepada orang lain.


‘Pantesan Andy banyak berubah, ternyata kedua orang tua Karina yang memberikan contoh baik kepadanya. Kalau seperti ini ceritanya, aku benar-benar yakin untuk menikahkan Karina dengan Andy,’ batin Khandar.


Bukan hanya Andy yang mencium tangan kedua orang tua Karina. Karina sebaliknya seperti itu, sehingga lamunan Khandar buyar, menatap Karina mencium punggung tangannya.


‘Anak ini,’ batin Khandar terharu.


“Hati-hati di jalan ya, Pak,” ucap Karina selesai mencium punggung tangan Khandar.


“Iya,” sahut Khandar.


“Kalau gitu kami pulang dulu Om dan Tante,” pamit Andy, lirikan mata mengarah pada Karina. Melihat Karina menunduk malu, kedua kaki Andy melangkah mendekati Karina, tanpa rasa segan ia mengecup kening Karina.


Perbuatan Andy sukses membuat Junaidi, Tina dan Khandar terkejut.


“Kecupan manis untuk menemani calon istriku tidur,” celetuk Andy sambil mengedipkan matanya.


Tak terima putrinya di cium di depan matanya. Junaidi melayangkan protes.


“Hei, bocah nakal. Berani sekali kau mencium kening mulus anakku!”


“Dikit aja, dikit aja Om,” ucap Andy.


Takut kenak amukan dan pukulan dari Junaidi, Andy berlari kecil, masuk ke dalam mobil.


“Hei, lari kau, lari!” teriak Junaidi untuk Andy sudah masuk ke dalam mobil.


Andy hanya mengeluarkan tangannya dari jendela, dan melambaikannya untuk Junaidi.


Khandar dan Tina hanya menggeleng sambil tertawa.


“Maafkan sikap Andy yang tak tahu sopan santun ya, bu,” maaf Khandar kepada Tina.


“Tidak masalah. Nak Tama memang selalu melakukan hal seperti itu di depan kami. Selagi masih dalam batas wajar, bagi saya itu tidak masalah,” sahut Tina sambil tersenyum.


“Wah, sepertinya saya harus menerapkan sopan santun kepada Andy setelah pulang dari sini,” gumam Khandar.


“Jangan dimarahi ya, Pak. Soalnya kasihan,” pinta Tina karena baginya Andy sudah seperti anak kandungnya sendiri.


“Tentu saja tidak. Kalau gitu saya pamit untuk kesekian kalinya,” pamit Khandar kembali.

__ADS_1


“Iya, silahkan Pak,” sahut Tina.


“Saya pamit, Karina,” pamit Khandar pada Karina.


“Iya, Pak. Hati-hati,” sahut Karina dengan wajah merona karena malu.


Khandar melangkah mendekati mobil, dan masuk.


“Keluarga yang harmonis, ya?” celetuk Khandar kepada Andy sembari memasang seatbelt nya.


“Iya, tidak seperti kita,” sahut Andy sorot matanya memandang pada wajah Karina terlihat begitu cantik karena rona di wajahnya.


Khandar menghidupkan mesin mobilnya, setelah memberikan klakson untuk Junaidi, Tina dan Karina. Khandar memutar stir kemudi, dan pergi meninggalkan halaman rumah Karina.


Sambil melajukan mobilnya, Khandar kembali mengobrol singkat dengan Andy.


“Syukurlah jika pilihan kamu itu adalah Karina,” cetus Khandar, sesekali melirik ke Andy duduk tepat di sampingnya.


“Awalnya pun aku tidak menyangka jika kami berdua bisa sampai ke tahap seperti ini,” ucap Andy, pandangannya mengarah ke jendela, memandang jalan.


“Karena Karina dan kedua orang tuanya terlihat baik padamu. Papa harap setelah menikah nanti kamu tidak boleh menyakiti hati Karina, apalagi sampai menduakannya,” pesan Khandar.


“Papa tenang saja. Aku pastikan itu tidak akan terjadi pada kehidupan rumah tanggaku,” sahut Andy tegas.


“Syukurlah,” lega Khandar, kembali fokus ke jalan.


Setelah itu tidak ada pembahasan lagi, Andy dan Khandar saling diam menikmati suasana jalan sedikit sunyi malam itu.


Sementara itu di rumah Karina


Karina, Tina dan Junaidi duduk di ruang tv, menonton siaran tv malam itu.


“Sepertinya nak Tama adalah anak orang kaya. Apakah benar itu?” tanya Junaidi mengingat cara berpakaian Khandar, dan kulit bersih Khandar.


“Benar, Ayah,” sahut Karina membenarkan.


“Tapi, mereka tidak terlihat seperti orang kaya yang sombong. Apakah karena masih pertama kali bertemu?” gumam Junaidi mengingat kalau orang kaya biasanya terkenal sombong pada orang awam.


“Mereka tidak seperti itu, Ayah. Karina sudah paham betul siapa Pak Khandar dan Andy,” ucap Karina meluruskan pikiran buruk Junaidi.


“Semoga saja mereka adalah orang yang tepat untuk kamu,” ucap Junaidi mencoba mengalihkan kecemasannya.


“Amiin,” amin Karina dan Tina serentak.


“Kalau ibu boleh tahu, Papanya itu usaha apa?” tanya Tina penasaran.


“Karina kurang tahu bu. Bisnis milik orang tua Andy, dia tidak pernah membahas dan membicarakannya pada Karina. Karina hanya tahu bisnis yang di pegang oleh Andy saja,” sahut Karina.


“Bukan bisnis yang haram, kan?” tanya Junaidi dengan pikirannya.


“Ya, enggak lah,” sahut Karina cepat.

__ADS_1


Kesal mendengar pertanyaan aneh sang suami, Tina melayangkan protes.


“Bapak ini, jangan berpikiran buruk seperti itu kenapa. Lagian mana mungkin Pak Khandar memiliki bisnis haram,” bela Tina.


“Iya-ia deh!”


“Karina,” panggil Tina.


“Iya, bu,” sahut Karina cepat.


“Ibu nggak nyangka jika kamu akhirnya akan menikah,” cetus Tina terdengar lirih.


“Sama bu. Sampai sekarang Karina berfikir jika semua ini adalah mimpi,” sahut Karina tak menyangka.


“Biar setelah menikah kamu bisa langsung mendapatkan anak. Izin, kan ibu membuatkan jamu ajaib buat kalian berdua, ya?” tanya Tina.


“Ibu, Karina belum berfikir sampai ke sana loh!”


“Biar kamu cepat dapat anak, ya!”


“Masalah anak itu rezeki dari sang pencipta, bu,” ucap Karina mengingatkan.


“Dan kita sebagai manusia harus berjuang untuk mendapatkannya,” sambung Tina.


“Ya, uda deh! Kalau memang itu maunya ibu,” ucap Karina pasrah.


“Okay!”


“Sudah malam, Karina pamit ke kamar dulu,” pamit Karina setelah melihat jarum jam di dinding menunjukkan pukul 23:30 malam.


“Iya, kurangi begadang agar wajahnya fresh di hari pernikahan nanti,” sahut Tina cepat.


Karina pergi meninggalkan ruang tv.


Sesampainya di dalam kamar, Karina terus tersenyum senang. Benar-benar tidak menyangka jika dirinya dan Andy akan segera menikah.


“Alhamdulillah ya, Allah,” ucap Karina bersyukur.


Karina merebahkan tubuhnya sambil terus tersenyum senang.


...----------------...


Sementara itu di kamar Andy


Andy berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan wajahnya sendiri.


“Bentar lagi kau akan menikah lek,” ucap Andy pada pantulannya sendiri, tangannya mengusap dagu kasarnya. “Hem, mau gaya bulan madu kayak mana yang akan kau pilih nanti. Gaya bebas yang aduhai ajalah, ya. Jangan lupa stok baju dinas buat Karina. Beli wangi-wanginya juga agar kau terus tancap gas!” tambah Andy mulai memikirkan hal aneh. Setelah itu Andy tertawa dengan pikiran mesumnya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2