Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
38. Goni Beras


__ADS_3

Waktu terus berjalan, malam semakin larut, dan Karina harus segera kembali pulang ke rumah.


Setelah mengantar Karina kembali pulang, Andy langsung berpamitan kepada Ayah dan ibunya. Mulai dari pulang mengantar Karina, sampai Andy kini telah sampai di rumahnya. Bibir Andy terus mengukir senyuman kebahagian.


“Andy!” panggil Khandar setelah Andy masuk ke dalam rumah.


“Iya, ada apa Pa?” tanya Andy mendekati Khandar duduk di sofa ruang tamu.


“Kamu tidak menyukai bu Karina, kan?” Khandar balik bertanya.


“Suka, kenapa?”


“Tidak apa, hanya ingin mengetahui saja,” sahut Khandar.


“Oh!”


Andy melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya di lantai 2.


Khandar hanya diam, menatap kepergian Andy telah mendekati anak tangga.


.


.


Keesokan paginya.


Pukul 07:45.


Andy dan Andreas duduk santai di bangku panjang depan kelas mereka. Sorot mata Andy masih terus tertuju ke pintu ruang BK masih terkunci dari luar.


“Kenapa bu Karina belum datang?” gumam Andy.


“Kenapa? Kamu rindu padanya. Bukankah sudah 2 malam ini kalian bermain bersama,” ucap Andreas mengingatkan.


“Iya, sih!” angguk Andy.


Saat sedang asik mengobrol terdengar suara sekumpulan wanita berdiri di belakang mereka. Terusik dengan suara itu, Andy dan Andreas menoleh ke belakang.


“Kalian kenapa?” tanya Andreas menatap 3 murid wanita, di masing-masing tangan memegang bungkusan berisi kotak kecil seperti kado.


Andy melirik ke masing-masing tangan murid wanita itu, dan bertanya. “Apakah itu sebuah hadiah?”


“I-iya,” sahut murid memakai hijab.


“Emang siapa yang ulang tahun?” tanya Andy penasaran.


“Ti-tidak ada, hanya saja karena ini adalah hari valentine. Jadi, aku ingin memberikannya padamu,” sahut murid memakai hijab perlahan melangkah mendekati Andy.


“Karena tidak memiliki kekasih, aku sampai lupa,” celoteh Andy tersenyum manis.

__ADS_1


Murid memakai hijab dan bando mendekat dengan serentak mengulurkan kotak kado kepada Andy.


Andy menerimanya, kedua murid tersebut langsung berlari pergi dengan wajah malu. Sementara itu murid wanita berkuncir satu masih diam berdiri di samping Andreas.


“He, tanyai!” bisik Andy memberi saran Andreas.


“Kau kenapa masih berdiri di sini?” tanya Andreas menuruti saran Andy.


“Sa-saya hanya ingin memberikan hadiah valentine ini kepada kamu,” sahut murid wanita berkuncir satu, kedua tangannya mengulurkan kota besar. “Terima dan pakailah!” tambah murid tersebut dengan kepala tertunduk.


“Terima kasih,” terima kasih Andreas setelah menerima pemberian kado dari murid berkuncir satu.


Murid tersebut tidak mengatakan sepatah kata apa pun lagi, kedua kaki berlari dengan cepat sehabis Andreas menerima kotak pemberiannya, dan masuk ke dalam kelasnya.


Bukan hanya ketiga murid wanita tadi memberikan hadiah valentine kepada Andy dan Andreas. Melainkan puluhan wanita menghampiri Andy, memberikan hadiah mereka. Dan 10 orang wanita memberikan kotak hadiahnya kepada Andreas.


Dari depan ruang BK, Karina baru saja tiba hanya bisa tersenyum dan menggeleng melihat pangkuan dan sekitar Andy dipenuhi kotak hadiah.


Andreas dan Andy saling sikut.


“Sepertinya kita bisa membuka toko souvenir,” cetus Andy belum menyadari Karina sedang menatapnya. Bibir-bibirnya masih mengulas senyum sembari memegang 10 kotak hadiah.


“Kau benar. Sebenarnya aku tidak tertarik menerima hadiah dari gadis-gadis ini. Tapi mau gimana lagi. Daripada mereka menangis bombay, lebih baik aku terima aja,” cetus Andreas.


Andy tiba-tiba terdiam, sorot matanya memandang lurus ke ruang BK, dimana Karina sedang tersenyum kepadanya.


“Nasib sial!” gumam Andy sembari menjatuhkan semua kotak kado dari pangkuannya.


“Kau lihat di depan sana! Bu Karina ternyata sudah datang dan dia sedang tersenyum padaku,” sahut Andy mengarahkan pandangan Andreas lurus ke depan.


Bukannya takut, gelisah, atau ikutan cemas seperti Andy. Andreas malah melambaikan tangannya, dan berteriak.


“SELAMAT HARI VALENTINE, BU KARINA!” teriak Andreas memberikan symbol hati dan itu membuat Andy langsung marah, memukul puncak kepala Andreas.


Karina tidak menjawab, kepalanya hanya menggeleng, bibirnya tersenyum, dan masuk ke dalam ruangannya.


“Bangsa*t, sudah ku katakan jika Bu Karina hanya milikku. Nggak usah gatel kali burung kau itu,” omel Andy.


“Duuh! Namanya aku ingin menyapa,” sahut Andreas mengelus puncak kepalanya.


“Menyapa kau bilang? Gigi kau, jelas-jelas kau sedang merayunya!” Andy beranjak dari duduknya. “Bentar ya, aku mau ke kantin dulu untuk meminta plastik kresek,” pesan Andy.


“Biar aku saja yang ke sana, sekalian aku ingin mengecek, apakah kakak itu sudah sembuh,” cegah Andreas sembari meletakkan semua kado di atas bangku.


Tinggal di sana Andy, memungut semua kado dan menyusunnya di bangku agar mudah baginya untuk memasukkan semua kado ke dalam plastik.


5 menit menunggu, Andreas akhirnya datang membawa karung goni beras besar.


“Nah!” ucap Andreas dengan santainya mengulurkan karung goni beras tersebut ke Andy.

__ADS_1


“Besar kali, apa kau ingin memasukkan aku ke dalam goni ini juga?” omel Andy.


“Cerewet kali kau, macam perempuan mulutmu!” cetus Andreas. Tangannya memasukkan satu persatu kotak hadiah ke dalam goni. “Kayak gini, ini fungsinya!” lanjut Andreas mengomel.


“Oh!” gumam Andy sambil ikut memasukkan kotak hadiah ke dalam karung goni.


Selesai sudah memasukkan kado ke dalam goni. Andy dan Andreas melangkah masuk ke dalam kelas. Semua mata sekumpulan murid lelaki memandang sinis ke Andy dan juga Andreas.


“Mata kau lah lay!” gertak Andreas hendak melemparkan bangku ke sekumpulan teman lelaki di kelasnya.


Takut akan gertakan Andreas, murid-murid tersebut merubah posisi duduk mereka.


Bel tanda pelajaran pertama berbunyi nyaring. Semua murid berhamburan di luar segera masuk ke dalam kelas mereka, dan guru pengajar juga ikut masuk ke dalam kelas.


“Pagi semuanya!” sapa guru olah raga baru, karena guru olah raga lama telah mengundurkan diri sebelum di pecat akibat ulah di perbuatannya kepada Andy.


“Pagi, Pak…” sahutan semua murid di kelas Andy terhenti saat mereka tidak mengetahui nama guru olah raga baru tersebut.


“Karena bapak guru baru di sini. Boleh tidak kita saling berkenalan?” tanya guru tersebut.


“Boleh!” sahut teman sekelas Andy dan Andreas.


Lain dengan jawaban Andy dan Andreas.


“Boleh kali lah! Lebih dari perkenalan juga boleh.”


Karena telah mendengar kenakalan Andy dan Andreas, guru olah raga tersebut hanya menggeleng, melanjut perkenalan dirinya.


“Perkenalkan nama saya, Bapak Nelson. Umur bapak 27 tahun,” ucap Nelson memperkenalkan dirinya.


Di tengah-tengah perkenalan Nelson, beberapa murid wanita saling siku-menyikut dan berbisik.


“Ganteng kali bapak ini, ya?”


“Iss, bapak ini adalah ciri-ciri cowok yang aku sukai.”


“Aku pepet teruslah. Siapa tahu jodoh.”


Andy dan Andreas hanya saling melihat dan menendang kaki satu sama lain.


“Kau dengar itu?” tanya Andreas sedikit berbisik.


“Dengarlah. Makanya aku nggak suka kali mendengar pujian dari cewek-cewek ini. Pantang lihat cowok ganteng aja, mata dan jantungnya sudah berdebar-debar. Kadang-kadang aku sempat berpikir, dimana rasa urat malu mereka,” sahut Andy dengan wajah datarnya.


Karena tidak mendengarkan penjelasan dari Nelson. Andy dan Andreas di hukum keliling lapangan, setelah itu baru lanjut mengikuti pelajaran olah raga.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2