Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
37. Sholat Maghrib dan Ajakan Lin


__ADS_3

Selesai sudah mereka beberes dapur. Karina memutuskan untuk melaksanakan sholat maghrib di rumah Andy.


“Kebetulan sudah adzan Maghrib. Saya numpang sholat, boleh?” tanya Karina.


“Oh, tentu saja boleh,” sahut Andy sedikit gugup. “Ma-mari aku antar ke ruang sholat,” lanjut Andy melangkah terlebih dahulu ke sisi kiri.


Langkah kaki Andy terhenti di samping teras rumahnya. Sebuah musholah kecil dengan perlengkapan mengambil air wudhu tersedia di sana. Di dalamnya juga sudah terdapat mukenah, sajadah dan al-qur’an di dalam lemari kaca kecil.


Selesai mengambil air wudhu, Karina menghampiri Andy masih berdiri di depan musholah


“Kamu tidak sholat?” tanya Karina lembut.


“A-aku menunggu ibu di sana saja,” sahut Andy gugup, tangannya mengarah ke kursi tunggu depan musholah.


“Katanya ingin menjadi calon pacar sekaligus calon suami saya. Masa di ajak sholat, kamu langsung memberi sebuah alasan,” ucap Karina sengaja.


“A-apa semua pria harus sholat? Aku rasa tidak, bu. Sebaiknya aku menunggu ibu di sana saja, ya!” tanya Andy masih mengelak.


“Semua pria harus melaksanakan ibadah, agar suatu hari jika meninggal dunia mereka bisa bertemu dengan istrinya di akhirat. Tapi, kalau suami tidak melaksanakan ibadah dan mendoakan istrinya, kemungkinan sang suami tidak akan dipertemukan oleh sang istri di akhirat kelak. Dan… sang suami akan digantikan oleh pria tampan di akhirat nanti,” sahut Karina sengaja berbohong.


“Akh! Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi. Kalau gitu ceritanya, aku sebagai calon pacar dan calon suami ibu, harus ikut melaksanakan ibadah sholat!” cetus Andy percaya akan ucapan Karina.


Andy melangkah menuju tempat air wudhu. Sementara Karina masuk ke dalam musholah, memakai mukenah.


‘Ya Allah, maafkan saya telah berbohong kepada Andy,’ batin Karina.


Selesai mengambil air wudhu, Andy masuk ke dalam musholah. Ia telah berdiri di atas sajadah tepat di depan Karina. Namun, Andy terlihat ragu saat hendak menjadi imam.


“Bu, sebenarnya aku sudah lama tidak sholat. Tapi, aku masih bisa mengingat sedikit demi sedikit ayat dan gerakan sholat nya. Kalau aku ada salah, aku mohon maafkan aku, ya!” ucap Andy memberitahu.


“Tentu saja, Kalau gitu silahkan adzan,” sahut Karina, lalu menyuruh Andy adzan.


Sejenak Andy menarik nafas panjang, lalu ia mulai mengumandangkan adzan magrib.


Lantunan suara adzan begitu merdu dan pas menggema dan menyebar hampir di seluruh ruang rumah istana milik Khandar.


Kedua bibi sedang membersihkan dapur, dan Khandar berada di dalam ruang kerjanya di buat keluar dari ruangan mereka, melangkah menuju musholah.


Sesampainya di depan musholah, suara adzan terhenti di ganti dengan komat.

__ADS_1


“Andy!” gumam Khandar dengan gerakan bibir tanpa suara.


Sementara kedua bibi merasa kagum sampai meneteskan air mata.


Tidak ingin mengganggu ibadah sholat magrib Andy dan Karina. Khandar menegur pelan kedua bibi rumahnya, menyuruh mereka untuk bubar dan kembali ke ruangan mereka masing-masing, termasuk Khandar sendiri.


Selesai sholat, Karina dan Andy bersalam-salaman, dan hal itu benar-benar membuat hati Andy berbunga-bunga.


“Biar tidak membuang waktu. Gimana kalau kamu katakan apa yang harus kita lakukan malam ini,” ucap Karina setelah ia menyimpan mukenah miliknya ke dalam lemari.


“Kalau seperti ini ceritanya, lebih baik kita langsung tidur di kamarku aja lah bu,” sahut Andy sambil menggenggam pergelangan tangan Karina.


Karina terkejut hingga pikiran aneh mulai menusuk otak kecilnya. Namun, ia harus tetap tenang dan berpikir positif.


“Andy,” panggil Karina sedikit menekan nada suaranya.


Andy melepaskan genggaman tangannya dan tertawa renyah.


“Serius dong, Andy!” ucap Karina lagi.


“Sebenarnya waktu yang ibu berikan kepadaku hari ini sungguh luar biasa. Rasanya aku tidak ingin meminta hal apa pun lagi kepada ibu. Namun…setelah aku pikir-pikir, karena pertemuan ini adalah hal langkah bagiku. Maka aku ingin meminta ibu untuk menemani aku nongkrong di jalan Halat. Gimana, apakah ibu mau?”


Saking senangnya, spontan Andy memeluk Karina, lalu melepaskan nya dengan wajah malu.


Tidak ingin membuang waktu, Andy segera meminta izin kepada Khandar untuk pergi bersama dengan Karina. Khandar pun mengizinkannya.


Sepeda motor milik Andy kini perlahan melaju keluar pagar dengan pelan. Karena malam terasa panjang, Andy memutuskan untuk mengajak Karina berkeliling sebentar di kota Medan.


1 jam berkeliling, dan mengobrol singkat, akhirnya sepeda motor milik Andy terparkir di depan tempat nongkrong di jalan Halat.


“Tidak masalahkan, kalau aku mengajak ibu nongkrong di tempat seperti ini?” tanya Andy setelah mereka berdua duduk di kursi pelanggan.


“Tidak masalah. Asal janji saya ke kamu terpenuhi,” sahut Karina berbohong.


Sebenarnya Karina tidak suka nongkrong di tempat umum dimana banyak lelaki di dalamnya.


“Kalau gitu ibu mau pesan apa?” tanya Andy sembari berdiri dari duduknya.


“Jus alpukat dingin,” sahut Karina.

__ADS_1


“Sebentar ya, bu. Aku akan memesankan minuman dan makanan ringan untuk kita berdua,” izin Andy memesan minuman dan makanan ringan buat mereka berdua.


Baru saja Andy pergi memesan makanan dan minuman di meja pesanan. Karina di hampiri oleh seorang pria berwajah tampan seperti orang korea. Pria itu adalah Lin.


“Ternyata Andy pintar juga memilih wanita cantik seperti lu!” ucap Lin sembari mendudukkan dirinya di samping Karina.


“Walau semua pakaian sopan seperti ini. Kedua mata gue tetap bisa melihat betapa mulus dan bersihkan tubuh lu. Rasanya gue ingin mengajak bajinga*n itu untuk balapan malam ini. Tentu saja, hadiahnya adalah lu, cewek polos yang begitu menggairahkan!” lanjut Lin berbisik di telinga Karina.


Bisikan itu membuat Karina takut. Namun, rasa takut itu harus Karina simpan agar tidak membuat Lin semakin menggodanya.


“Terima kasih atas pujiannya,” ucap Karina sedikit membungkukkan tubuhnya.


Bukannya menghormati kesopanan Karina. Lin malah diam-diam mengangkat sebelah tangan kanannya dari belakang, perlahan-lahan tangan Lin ingin memegang punggung Karina. Namun, Andy segera mencengkram tangan Lin.


“Bajinga*n!” umpat Andy menghempaskan tangan Lin.


Karina segera beranjak dari duduknya, berlari dan berdiri di belakang Andy dengan wajah ketakutan.


Menyadari ketakutan begitu jelas terlihat di wajah Karina. Andy langsung menggenggam sebelah tangan Karina terasa begitu dingin.


“Jangan takut, aku sudah ada di sini bersama dengan ibu!” ucap Andy lembut, membuat Karina terlihat sedikit tenang.


“Cih, najis banget gue mendengar ucapan lu!” hina Lin sembari beranjak dari duduknya.


“Mau apa kau ke sini?” tanya Andy datar.


“Hanya ingin mengajak kamu taruhan dengan hadiahnya adalah…” ucapan Lin terhenti, lirikan matanya mengarah pada Karina semakin bersembunyi di balik tubuh Andy. “Gue ingin wanita yang sedang bersembunyi di belakang lu,” tambah Lin memberitahu.


“Aku sudah bertaubat, sebaiknya kau pulang dan berhenti menggangguku!” cetus Andy memberitahu.


“Baiklah, karena gue masih ada urusan. Jadi, gue pergi dulu,” pamit Lin sembari memainkan sebelah matanya untuk Karina.


Setelah kepergian Lin.


Andy mengajak Karina untuk duduk kembali, mencoba menenangkan Karina dengan cara mengobral hangat agar tidak takut lagi.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2