
Masih di dalam restaurant. Andy terus menatap wanita memakai hijab dengan pandangan tertunduk di hadapannya. Berulang kali ia berpikir, mencaritahu sampai kepalanya berdenyut hebat, siapa wanita soleh bersama dengan Andreas.
Saking kesal dan tak tahan terus mencaritahu dalam pikirannya siapa wanita tersebut, tangan Andy spontan menggebrak meja, membuat Andreas dan wanita itu terkejut.
“Siapa? Siapa wanita ini?!” tanya Andy dengan wajah kejam.
“Dia adalah Anissa Syafitri, Kak Fitri anak ibu kantin sekolah kita,” sahut Andreas menjelaskan.
Andy tercengang, sampai-sampai dahinya mengernyit heran.
“Biasa aja lah!” cetus Andreas.
Fitri hanya tersenyum, pandangannya masih tertunduk.
“Hehehe!” tidak bisa berkata apa pun lagi, Andy menyengir, menggaruk rambut bagian belakangnya tak gatal.
Pelayan datang membawa makanan dan minuman mereka. Pelayan-pelayan tersebut menyajikan makanan di atas meja, lalu mereka pergi meninggalkan meja.
Begitu hidangan tersaji di atas meja, Andy hendak menyuapkan mulutnya dengan makanan. Namun, Fitri langsung menyatukan kedua tangannya, dan membaca doa sehingga Andy ikutan membaca doa bersama dengan mereka.
30 menit berlalu. Andy, Andreas dan Fitri telah selesai menikmati santap makan siang mereka. Karena perut masih terasa penuh, Andy, Andreas, dan Fitri memutuskan untuk beristirahat sejenak.
“Sejak kapan?” tanya Andy ambigu.
“Apanya yang sejak kapan?” Andreas balik bertanya karena penasaran.
“Kalian berdua jadian. Gitu aja meski aku perjelas!”
“Oh, sejak kita dinyatakan lulus SMA,” sahut Andreas tanpa bersalah.
Andy terkejut bukan main. Tidak menyangka jika Andreas sebagai sahabatnya tidak memberitahu hubungannya.
“Wah! Kawan bangsa*t kau memang. Kenapa selama itu kau tidak pernah memberitahuku!” celetuk Andy emosi.
“Karena aku lupa!” sahut Andreas santai.
Mendengar jawaban Andreas, darah Andy menggelegar, ia pun spontan menyepak tulang kering Andreas dari bawah meja.
“Auw! Bodoh kali la, kurasa kau ini,” kesal Andreas mengelus tulang keringnya.
__ADS_1
“Kesal aku sama kalian berdua,” gumam Andy, ia beranjak dari duduknya. “Karena waktuku tidak banyak, aku mau kembali ke kantor. Buat kalian berdua, jangan lupa beri aku surat undangan secepatnya,” tambah Andy dengan sisa kekesalan tersimpan di hatinya.
Lagi dan lagi, Andreas malah menjawab dengan santainya. “Mengingat umur Kak Fitri lebih tua dariku, sebenarnya aku dan Kak Fitri sudah bertunangan 1 tahun lalu, dan bulan depan kami akan menikah!”
Andy mendekati Andreas, lalu menepuk sebelah bahu Andreas. “Andai saja tidak ada seorang wanita yang lembut seperti Kak Fitri di sini, maka detik ini juga. Kau akan ku bunuh!” celetuk Andy setengah mengancam karena dirinya merasa tidak dianggap sahabat oleh Andreas.
“Maka arwahku akan terus menghantui mu, dan kau pun harus menikahi Kak Fitri untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu,” ucap Andreas sekali lagi membuat Andy kesal.
Andy tidak menjawab, ia pergi setelah memberikan uang merah 5 lembar di atas meja mereka.
“Hahaha!” tawa Andreas terdengar puas setelah kepergian Andy.
“Kamu teman yang jahat,” ucap Fitri hanya tersenyum.
“Kak Fitri melihat wajah polos Andy tadi, kan?”
“Iya, walaupun anak itu terkenal memiliki tingkat kenakalan di lingkungan sekolah dulu. Tapi, sisi baik dan wajah polosnya masih terlihat jelas,” sahut Fitri bibir masih tersenyum.
“Dia pikir kita beneran akan menikah. Padahal kita saja baru jumpa di sini 2 jam yang lalu. Itu pun karena aku sedang membantu Kak Fitri untuk terbebas dari mantan pacar Kakak,” lanjut Andreas kembali tertawa.
“Iya, terima kasih telah menolong saya,” terima kasih Fitri tulus.
“Jangan bilang seperti itu. Kakak cukup berterima kasih dengan cara menjadi pacarku saja. Kebetulan aku sudah lama menjomblo!” ucap Andreas to the point.
Fitri tersenyum, tertawa kecil. Lalu, Andreas menatapnya dengan serius.
“Aku serius!” tegas Andreas, Fitri terdiam seribu bahasa.
.
.
Sementara itu, di ruang kerja Andy.
Kekesalan Andy terbawa sampai di ruang kerja miliknya. Belum lagi masalahnya bersama Karina selesai, Andreas malah membuat masalah baru dengan mengkhianati persahabatan mereka.
Cemas melihat sikap aneh Andy. Haniffah masuk ke dalam ruang kerja Andy, berdiri di belakang kursi besar sembari memijat bahu Andy.
Karena kecewa, dan kesal, Andy tidak menyadari Haniffah menyentuh dirinya.
__ADS_1
“Bos kenapa?” tanya Haniffah berbasa-basi.
“Stres!” sahut Andy belum sadar jika Haniffah memijat bahunya.
“Setelah pijitan ini, saya harap stress bos akan menghilang,” ucap Haniffah semakin memijat bahu Andy lembut dan penuh gairah. Tak lupa bola mata dan mimik wajah mesumnya terus terpancar.
Bug!
Menyadari ada gerakan mesum dari tangan Haniffah. Andy mengayunkan dokumen tebal ke arah tubuh Haniffah. Saking kuatnya, Haniffah sampai bergeser dari tempatnya.
“Duh, kenapa bos memukul saya? Apakah pijitannya tidak enak?” tanya Haniffah kembali memijat bahu Andy. Namun Andy spontan berdiri dan mengarahkan tangannya ke pintu.
“Kau telah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Cepat keluar dari ruanganku!” tegas Andy mengusir Haniffah.
“Ta-tapi…”
“CEPAT KELUAR SEBELUM AKU PECAT!” teriak Andy menggelegar.
Saking takutnya, Haniffah berlari tergesa-gesa keluar ruangan Andy.
“Iss, takutnya aku!” gumam Haniffah mengelus dadanya berdetak sangat kuat. Langkah kakinya juga terhenti di depan pintu ruangannya, bersebelahan dengan ruangan Andy.
“Penasaran aku. Hati wanita mana yang kini sedang ia jaga, ya. Sehingga godaan dari Sekretaris cantik dan seksi seperti aku saja tidak membuat dirinya tidak bernafsu,” tambah Haniffah bertanya-tanya sendiri.
Sedang asik terus bertanya dan memandang ke pintu ruangan Andy. Salah seorang karyawan memegang tumpukan dokumen menghampiri Haniffah.
“Der! Ayo, kamu ketahuan terus memandang ke arah ruangan Bos Andy,” cetus karyawan wanita memakai kaca mata.
“Aku heran deh. Bagaimana ceritanya bos setampan dan setajir Bos Andy tidak tertarik pada salah satu karyawannya. Biasanya, kan. Seorang bos yang tampan akan memanfaatkan dirinya untuk mengambil keutungan dalam kesempitan,” sahut Haniffah sedikit kesal.
“Sepertinya kamu benar-benar kesal,” karyawan itu mendekatkan bibirnya ke daun telinga Haniffah. “Menurut isu dan rumor yang beredar. Bos muda kita itu sudah memiliki wanita idaman. Dan saat ini wanita idamannya telah melanjutkan studi S2 nya di Luar Negeri,” lanjut karyawan itu.
“Iss, kenapa aku baru tahu!” dengus Haniffah. Kedua tangannya dilipat di depan dada, sebelah alisnya menaik. “Tidak masalah bagiku. Kita lihat saja, bos muda akan memilih wanita itu, atau aku, sekretaris cantik yang tiada duanya,” tambah Haniffah percaya diri.
Karyawan tersebut mengambil salah satu tangan Haniffah, lalu meletakkan dokumen di tangannya. “Jangan terlalu pede!” celetuk karyawan itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Haniffah.
“Kita lihat saja nanti. Godaan wanita mana yang paling kuat untuk memikat Andy. Aku, sebagai sekretarisnya atau wanita idamannya itu,” gumam Haniffah benar-benar penuh percaya diri.
.
__ADS_1
.
Bersambung