Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
20. Andy Menang. Walau Harus Berkorban


__ADS_3

Ucapan Andreas terngiang-ngiang di dalam pikiran Karina sehingga Karina tidak bisa fokus untuk melakukan apa pun. Sepulang mengajar les, Karina menyempatkan diri untuk mengunjungi satu persatu tempat tinggal Andy. Namun, Karina tidak dapat menemukan Andy karena Andy telah pergi bersama Andreas.


Masih berhenti di luar gedung rumah Andy. Di dalam mobil Karina masih terus memikirkan kemana Andy akan melakukan balap liar malam ini. Berulang kali Karina menghubungi nomor ponsel Andy, berulang kali juga Andy tidak mengangkat panggilan teleponnya.


“Kamu dimana, sih? Jangan buat saya cemas, kalau kamu melakukan balap liar dan terluka seperti kemarin lagi, maka kamu akan sulit untuk sekolah. Aduh! Kamu nakal banget sih, Andy,” gumam Karina cemas.


Karina terus menunggu di luar tembok gerbang rumah Andy sampai jam 23:30 malam.


Sampai Khandar baru saja pulang dari bekerja menyempatkan menghentikan laju kendaraannya di samping mobil Karina dengan posisi pintu mobil kemudi terbuka. Perlahan jendela kaca mobil Khandar bagian penumpang turun, Khandar mengulurkan kepalanya dari jendela, dan bertanya.


“Malam bu Karina,” sapa Khandar lembut.


“Malam Pak Khandar, baru pulang?” sahut Karina sekaligus menyapa.


“Iya. Ngomong-ngomong ibu kenapa menunggu di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam rumah?” tanya Khandar berbasa-basi.


“Kebetulan saya ingin bertemu dengan Andy. Tapi, Andy dari sore sudah pergi bersama dengan Andreas. Hem…kalau saya boleh tahu, apakah Pak Khandar tahu dimana tujuan Andy pergi?”


“Wah, kurang tahu. Andy dan Andreas suka pergi entah kemana. Mereka juga suka melakukan pertandingan balap liar. Hahaha! Memang anak muda zaman sekarang susah di atur,” celetuk Khandar seolah sudah tahu kebiasaan buruk Andy.


Karina mengernyitkan dahinya. Sejenak ia berpikir kenapa ada orang tua seperti Khandar tidak cemas saat mengetahui anaknya melakukan balap liar.


“Maaf, kalau memang Andy sering melakukan balap liar. Kenapa Bapak tidak melarangnya? Apa Bapak tidak takut jika terjadi hal buruk kepada Andy?” tanya Karina penasaran.


Sejenak Khandar menghela nafas berat, tangannya memijat pelipisnya tegang mengingat kelakuan Andy. Lalu menatap Karina masih duduk di bangku kemudi mobilnya.


“Kalau di bilang cemas, sudah pasti aku cemas. Tapi mau gimana lagi. Kalau dengan itu Andy merasa senang dan puas, maka aku tidak akan melarangnya agar dia tidak membenciku. Meskipun aku tahu kalau Andy sangat membenci kelakuan burukku. Haha!” jelas Khandar diselingi tawanya.


‘Baru kali ini saya melihat orang tua yang aneh. Bisa-bisanya ia menjawab diselingi tawa puas,’ gumam Karina dalam hati.


“Oh, kalau memang bu Karina ingin melihat Andy balap liar. Datang aja ke alamat jalan Batang Kuis. Cari saja ia disekitar sana, aku yakin pasti dia ada di sana,” lanjut Khandar memberitahu.


“Kalau gitu saya permisi dulu, Pak. Assalammualaikum, selamat malam,” pamit Karina.


Karina menutup pintu mobilnya, melajukan mobilnya secara perlahan menuju alamat tersebut.


“Wa’alaikumsallam,” sahut Khandar sembari menatap kepergian Karina dari sen mobilnya.


.

__ADS_1


.


Di sisi lain.


Di jalan besar dan sunyi itu telah berjejer rapih sepeda motor dari geng motor milik Andy dan Lin. Di sana juga ada satu unit mobil jeep, tempat Dodi di sekap dalam kondisi tubuh lemah tak berdaya.


Di depan garis ‘START’ telah bersiap Andy dan Lin telah duduk di masing-masing sepeda motor miliknya.


Broom brrooomm!


Lin menarik gas berulang kali sembari menatap Andy. Tak mau kalah Andy juga menarik gas miliknya, menatap Lin dari kaca helm miliknya dengan tatapan tajam.


“Bersiaplah untuk menerima kekalahan lu!” hina Lin.


“Baco*t kau anjin*g!” umpat Andy.


Wanita milik Lin berjalan dengan anggun ke tengah-tengah garis start.


“SIAP, MULAI!” teriak wanita itu sembari melemparkan sapu tangannya ke udara.


Brooomm broom!


Di tengah-tengah perjalanan banyak paku bertebaran, dan batu kerikil di jalan raya. Itu sudah pasti ulah dari Lin. Karena ulah Lin, Andy hampir jatuh dan kalah. Kini Lin memimpin pertandingan, tak lupa jari tengah ia acungkan kepada Andy sembari terus melaju kencang ke depan.


Namun, siapa sangka di pertengahan jalan menuju garis finish. Andy melihat seorang wanita berdiri di samping mobil sambil melambaikan tangan dan menyoraki Andy.


“SEMANGAT ANDY!” teriak wanita itu tak lain adalah Karina.


Deg!


“Bu’ Karina!” gumam Andy dengan jantung tiba-tiba berdegup kencang.


Andy kembali semangat sehingga melajukan sepeda motornya dengan kencang untuk menyusul Lin.


Broom brroomm!


Andy berhasil mengejar ketinggalannya. Namun, saat 100 meter mendekati garis finish, bagian depan sepeda motor Andy mulai memunculkan asap, perlahan laju kendaraannya tersendat. Andy tak mau berhenti begitu saja, ia terus memaksa untuk melaju agar bisa menyelamatkan Dodi tanpa memikirkan dirinya sendiri.


Dari jarak kejauhan, Andreas, Joni, begitu juga Karina terlihat sangat cemas karena api mulai muncul dari bagian depan. Sehingga asap bagian depan motor semakin banyak. Mereka pun mulai bersorak untuk menyuruh Andy turun.

__ADS_1


“ANDY TURUN! ANDY LOMPAT! ANDY CEPAT LOMPAT DARI KERETA SEBELUM KERETANYA MELEDAK!” teriak Andreas, Karina dan Joni secara bersamaan.


Bukan Andy Pratama, sih berandalan namanya kalau dia tidak bisa menaklukan semua rintangan berat membahayakan dirinya demi bisa mendapatkan perhatian banyak orang dan menyelamatkan orang terdekatnya.


Melihat Lin menyusul dirinya dan kini memimpin pertandingan dengan senyuman liciknya untuk Andy. Andy menekan tombol otomatis terpasang pada bagian starter kendaraannya.


Bush!


Seperti ada tambahan gas untuk mendorong kecepatan keluar dari asap knalpot milik Andy.


Hal itu sontak saja membuat sepeda motor Andy melaju dengan kecepatan tinggi sehingga bisa mengejar ketinggalannya dan berhasil memenangkan perlombaan. Meski Andy harus mengorbankan dirinya untuk bisa menghentikan laju kendaraannya.


“Buset! Sepertinya aku akan mati di sini. Tapi tidak masalah, asal aku bisa membebaskan Dodi, dan tadi aku juga sudah puas melihat senyum manis bu Karina,” gumam Andy puas.


Andy membanting stir ke sisi kiri jalan raya, menabrakkan bagian depan sepeda motornya ke trotoar jalan hingga tubuh Andy terpental jauh ke jalan, dan sepeda motor miliknya melayang ke udara, meledak.


“ANDY!” teriak Karina, Andreas, dan Joni.


Karina segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju lokasi tempat Andy terjatuh. Andreas juga ikut melajukan sepeda motornya mendekati Andy. Joni dan anggota lainnya mendekati Jeep mobil Lin, mengambil paksa Dodi walau ada sedikit perkelahian di sana.


Melihat tubuh Andy terkulai dengan sejuta luka dan tumbuh dilumuri darah. Karina segera mengangkat tubuh Andy, meletakkan kepalanya di atas pangkuannya. Menjadikan kedua pahanya sebagai alas bantal. Meski roknya kini dipenuhi darah.


“Andy, kenapa harus melakukan seperti ini?” tanya Karina di sela tangisannya.


Perlahan kedua mata Andy terbuka, tangan gemetar di penuhi luka itu berusaha meraih pipi Karina, menghapus air mata di pipi mulus Karina.


“A…pakah…Do..di…su..dah. Se..lamat bu?” tanya Andy terputus-putus, kemudian tangannya terjatuh dan kedua matanya terpejam.


“Ketua! Ketua! Bangun bajinga*n. Dodi sudah selamat. Wouy!” teriak Andreas berusaha membangunkan Andy. Namun, Andy tak kunjung bangun.


Karina menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Andy. Namun, Andreas segera berdiri mengulurkan tangannya kehadapan Karina.


“Cengeng kali ibu ini. Mana kunci mobil, cepat berikan padaku agar kita bisa membawa Andy ke rumah sakit sebelum dia di jemput malaikat maut!” desak Andreas meminta kunci mobil Karina.


Walau bibir dan wajah terlihat tegar, sebenarnya dalam hati Andreas terlihat rapuh. Hatinya terus menggeram dan ingin saja menghabisi Lin dan seluruh anggotanya. Namun, semua hal itu harus ia redam karena ia harus segera menolong Andy.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2