
Keesokan paginya.
Seperti biasa, Andreas menjemput Andy untuk berangkat pergi sekolah bersama karena saat ini Andy tidak bisa mengendarai sepeda motornya sendiri.
Sepanjang perjalanan Andy terus tersenyum memandang kotak bekal di atas pangkuannya itu.
‘Bocah nakal ini benar-benar jatuh cinta dengan bu Karina. Ha,ah! Sungguh menyebalkan. Awas saja jika bu Karina sempat menyakiti Andy,’ batin Andreas, sorot mata melirik Andy dari kaca spion.
Sesampainya di parkiran sekolah. Andy melompat turun, berdiri di samping Andreas.
“Cepat buka helmku!” perintah Andy dengan menengadahkan wajahnya.
“Sabarlah, baru aja turun!” gerutu Andreas sambil membuka helm Andy dan meletakkannya di bangku belakang.
“Aku duluan, ya?”
“Eh! Mau kemana kau?” tanya Andreas menahan tas ransel Andy dari belakang.
“Macam anak kecil kau, narek-narek tas aku. Lepaskan bodoh! Nggak kau tengok sebelah tanganku masih sakit dan sebelah tanganku sedang memegang kotak bekal makanan. Kalau kotak bekal makanan ini tumpah. Apa kau mau memasaknya ulang dengan rasa yang sama?” omel Andy.
Andreas melepaskan tangannya, berdiri di samping Andy.
“Macam perempuan juga mulutmu itu, ya. Hem, ngomong-ngomong kotak bekal itu untuk siapa rupanya?” tanya Andreas menunjuk kotak bekal di tangan Andy.
“Macam emak-emak nawar cabe di pajak kau! Banyak kali cakapmu dari tadi. Kotak makan ini untuk bu Karina lah. Masa untuk Pak Kepala Sekolah!” sahut Andy sewot.
Perdebatan mereka membuat para murid baru saja berdatangan melirik Andy dan Andreas. Terdengar suara bisik-bisik membuat Andreas dan Andy menjadi kesal sehingga ingin menghajar semua murid membisikkan mereka.
Kalau tidak ingat ada Karina di sekolah ini, dan sudah berjanji akan menjadi anak baik sampai lulus sekolah. Mungkin Andy dan Andreas sudah menghajar murid-murid tersebut.
Andreas merangkul Andy, kemudian berbisik di telinganya.
“Apa kau suka dengan bu Karina?”
Andy langsung melepaskan rangkulan Andreas, menatapnya sinis dan berkata. “Bukan hanya sekedar suka. Aku juga akan membuatnya menjadi milikku!” kemudian Andy berlari mendekati Karina baru saja tiba memarkirkan mobil.
“Bukan hanya menyukai bu Karina, tapi Andy terlihat benar-benar sudah terobsesi. Jangan, jangan sampai ini terjadi padamu Andy. Jika kau mengetahui Bu Karina akan pergi ke Luar Negeri, pasti kau akan terluka,” gumam Andreas menatap lurus ke Andy berdiri berhadapan dengan Karina, tawa kecil dari bibir keduanya terlihat jelas di kedua mata Andreas.
Lamunan Andreas teralihkan saat seorang pria memanggil namanya.
“ANDREAS KEMARI!” panggil pria itu, Pak Guan.
Andreas langsung berlari mendekati Guan, berdiri berhadapan dengannya.
__ADS_1
“Ada apa Pak?” tanya Andreas bingung.
“Bukannya itu Andy Pratama, anak kelas 3 IPA yang suka bolos dan ugal-ugalan di jalanan saat malam hari?” Guan balik bertanya mengenai Andy.
“Aku rasa Andy tidak seburuk yang bapak bayangkan. Intinya ada apa bapak memanggilku?”
“Kamu berkata seperti itu karena Andy adalah teman dekatmu. Begini Andreas, saya minta kepada kamu untuk beri tahu Andy agar tidak berbuat masalah dan merepotkan Karina lagi,” sahut Guan tegas.
Bukannya takut dan segan atas ucapan sang guru. Andreas malah mengernyitkan dahinya, menyatukan kedua alisnya dan menatap nanar bola mata Guan.
“Maaf! Tentang hal itu bukan urusan aku. Bapak punya mulut, punya suara, kan? Kalau bapak ingin menyampaikan hal seperti ini, lebih baik sampaikan saja secara langsung kepada Andy. Dan…kenapa bapak ikut campur dengan pekerjaan bu Karina? OOOHH! Apakah bapak adalah kekasih, atau calon suami, bu Karina?”
“KAMU!” geram Guan menahan amarahnya hingga seluruh tubuhnya bergetar.
“Hem! Daaa, Pak Guan. Atau…bapak King Kong!” ejek Andreas sembari melangkah pergi dengan kedua tangan melambai.
“Dasar berandalan sekolah yang tak tahu diri!” gerutu Guan kesal.
Karena Karina masih ada pekerjaan dan jam pelajaran pertama akan segera di mulai. Andy masuk ke dalam kelas, bibirnya terus melantunkan nada nyanyian.
Andreas memutar posisi duduknya menghadap belakang.
“Senang kayaknya nih?”
“Kau tengok!”
“Menghinaku kau? Aku ini masih anak sekolah, belum pantas menyatakan cinta kepada seorang wanita yang lebih tua dan sudah memiliki status perkejaan seperti bu Karina!” sahut Andy berbohong. Padahal beberapa malam lalu ia sudah menyatakan cintanya kepada Karina, tapi Karina menolaknya karena Andy masih berstatus pelajar.
“Oh ya, kenapa dengan guru olah raga tadi? Apa yang sedang kalian bicarakan sehingga terlihat begitu serius aku lihat,” tambah Andy saat mengingat Guan berbicara dengan Andreas di koridor depan ruang guru.
“Aku rasa guru olah raga itu menyukai bu Karina,” sahut Andreas tidak membahas percakapannya tadi.
“Anjin*g! tidak akan aku biarkan bu Karina jatuh di tangan pria seperti itu. Bu Karina hanya milikku seorang,” gumam Andy serius.
“Ya, biarkan ajalah bu Karina berpacaran dengan Pak Guan. Lagian mereka juga sudah sama-sama dewasa dan sama-sama berstatus sebagai guru!” ucap Andreas sengaja, ia ingin melihat reaksi Andy saat marah kalau membahas Karina.
Andy spontan berdiri, mencengkram kerah baju sekolah bagian depan Andreas. Kedua bola matanya memerah karena marah.
“Sebelum mulutmu ku cabik, maka berhenti berbicara tentang bu Karina. Berhenti berbicara untuk menyuruhku merelakan bu Karina jatuh ke tangan orang lain. Bu Karina adalah segalanya bagiku. Kalau ada orang yang ingin merebutnya dariku, maka bersiaplah untuk menggali kematiannya sendiri!” celetuk Andy menekan nada suaranya.
Andreas tercengang melihat sikap tak terduga Andy. Andy benar-benar telah terobsesi oleh Karina sehingga membuatnya bisa melakukan apa saja kepada orang menyinggung Karina di hadapannya.
Tidak ingin terlarut dalam suasana tegang. Andreas memegang kedua lengan Andy, perlahan menurunkan lengan mencengkram kerah baju sekolah miliknya, dan tertawa lepas.
__ADS_1
“Ha..hahaha! Ternyata kau sungguh menyukai bu..”
Andreas menghentikan ucapannya saat melihat seluruh murid di dalam kelas memandang mereka. Tidak ingin terjadi kesalahpahaman. Andreas segera merangkul Andy, dan berulang kali menyikut lengannya sambil tertawa.
Kring kring!
Jam pelajaran pertama di mulai.
Semua mata membulat sempurna saat melihat guru olah raga wanita masuk ke dalam kelas Andy dan Andreas.
“Buset! Guru olah raga baru kita, nih!” celetuk Andreas dengan sorot mata tertuju ke dua gunung kembar terlihat menonjol.
“Awas bintitan mata kau!” tegur Andy.
“Gila, gila. Guru ini lebih bagus dari bu Karina. Kau lihat saja body nya itu. Uhuy! Semok di mana-mana. Gini, wanita seperti ini yang aku inginkan. Kalau dia ngajak berhubungan selama 7 hari 7 malam aku juga ayok. Sanggup aku!” gumam Andreas masih dengan sorot mata memandang guru olah raga tersebut.
“Gatel! Jangan terus kau pandangi 2 semangkanya itu. Coba kau lihat ke resleting mu, masih aman nggak?” gurau Andy sengaja.
“Aman, aman boda*t! Kau pikir aku langsung nafsu begitu saja. Kalau lihat langsung tanpa busana barulah benda kwik-kwik ku langsung berdiri tegak. Kalau tertutup seperti ini, mana lah—”
Ctak!
Ucapan Andreas terhenti karena Andy memukul puncak kepalanya dengan buku tebal.
“SAKIT BODOH!” teriak Andreas membuat semua murid memandang mereka kembali.
“Kalian berdua yang dari tadi terus mengobrol dan berantem di belakang. Cepat ke depan. Kalian harus mendapatkan hukuman dari saya. Buat yang lain, cepat ganti baju olah raga karena kita akan melakukan pemanasan di lapangan!” perintah guru olah raga tersebut.
Dengan wajah tanpa bersalah Andy dan Andreas berjalan ke depan kelas, berdiri di samping bu guru olah raga.
“Maaf bu!” maaf Andy dan Andreas serentak.
“Sebelum mendapatkan hukuman, kalian harus mengganti baju seragam sekolah dengan baju olah raga. Kemudian, lari keliling lapangan sebanyak 20 kali!”
“APA?!”
“Ngaur ibu, yakan? Lihatlah, macam mana aku mau lari, tanganku masih sakit!” protes Andy menunjukkan perban di lengannya.
“Yang sakit dan di perban itu tangan kamu, bukan kedua kaki kamu. Lagian tadi saya melihat tenaga kamu cukup kuat untuk mengayunkan benda. Kalau nilai kalian berdua tidak ingin saya kurangi, maka jangan protes. Mau lulus atau tidak?” ancam bu guru olah raga tersebut.
“Baiklah!” sahut Andy dan Andreas patuh.
.
__ADS_1
.
Bersambung