Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
69. Berdebat Di Saat Ingin Serius


__ADS_3

Setelah mendapat restu dari kedua orang tua Karina. Andy bergegas pulang, ingin menyampaikan kabar baik ini kepada sang Papa. Namun, sesampainya di rumah, Andy malah mendapatkan Khandar terbaring lemah di ranjang kamar.


“Kamu sudah pulang?” tanya Khandar melirik ke Andy berdiri di depan pintu kamarnya.


Kuatir melihat wajah pucat Khandar, Andy masuk ke dalam kamar, berdiri di samping ranjang Khandar.


“Kenapa wajah Papa sangat pucat?” tanya Andy cemas.


“Papa hanya kelelahan saja,” sahut Khandar lemah.


“Sudah pergi ke dokter?”


“Belum, Papa hanya kelelahan saja. Jadi, sebaiknya—”


“Aku akan telepon dokter untuk memeriksa kesehatan Papa,” sela Andy.


Andy mengambil ponsel dari dalam saku celananya, dan menelepon dokter.


“Sebentar lagi dokter akan segera tiba. Sebaiknya Papa beristirahat dulu,” ucap Andy setelah dirinya selesai mematikan sambungan telepon dari dokter.


“Kamu tidak usah kuatir, setelah istirahat Papa akan segera sembuh,” cetus Khandar tidak ingin membuat Andy kuatir.


Tidak ingin menunda pembicaraan baik mengenai dirinya telah mendapat restu dari kedua orang tua Karina. Andy langsung saja memberitahu Khandar.


“Pa..”


“Iya,” sahut Khandar cepat sembari bangkit dari tidurnya dan duduk, menyandarkan tubuhnya di sandaran kepala ranjang.


Karena jarangnya berbicara, Andy sedikit kaku dan gugup memberitahu Khandar.


“Aku…kedua orang tua Karina…” Andy menggaruk kepala tak gatalnya. “Akh! Sudahlah, lupakan saja. Sebaiknya aku turun, menunggu dokter saja,” lanjut Andy tidak jadi memberitahu Khandar mengenai kabar baik telah ia bawa.


Khandar mengangguk, tak memaksa putranya untuk berbicara.


Andy melangkah keluar dari kamar Khandar, memutuskan menunggu Dokter di bawah. 10 menit menunggu dokter datang. Andy bergegas membawa dokter tersebut masuk ke dalam kamar Khandar.


“Silahkan masuk dok,” ucap Andy mempersilahkan masuk dokter ke dalam kamar Khandar.


Dokter tersebut masuk, duduk di tepian ranjang, lalu memeriksa kondisi tubuh Khandar.


“Gimana keadaan Papa, dok?” tanya Andy setelah dokter selesai memeriksa kondisi tubuh Khandar.


“Pak Khandar hanya kelelahan saja. Saya akan memberi suntikan vitamin untuk Pak Khandar,” sahut pak dokter mengambil suntikan dan vitamin dari tas miliknya, lalu menyuntikan vitamin tersebut.


“Tuh, kan, Papa bilang juga apa. Papa hanya kelelahan saja,” cetus Khandar kembali mengingatkan.


“Iya, tetap saja aku harus tahu apa penyebabnya,” gumam Andy berwajah datar.


Setelah selesai memberikan suntikan, dokter menyusun peralatannya, berpamitan pada Khandar.


"Karena tugas saya sudah selesai, sebaiknya saya permisi pulang, Pak," pamit pak Dokter.


"Iya, terima kasih ya, Dokter," terima kasih Khandar.

__ADS_1


"Sama-sama Pak Khandar," sahut Pak dokter sudah menenteng tas miliknya.


"Mari, aku antar," tawar Andy.


"Terima kasih," sahut Pak dokter.


Andy dan dokter melangkah pergi dari kamar Khandar. 5 menit setelah mengantar pak dokter, Andy kembali ke kamar Khandar.


“Sebaiknya Papa beristirahat, aku akan menyuruh bibi membuatkan sup dan makanan sehat lainnya untuk menambah stamina Papa,” ucap Andy setelah menyelimuti tubuh Khandar.


"Iya, kebetulan setelah di suntik Papa jadi mengantuk," sahut Khandar, kedua kelopak matanya terlihat sayu.


"Ya, sudah!"


Andy pun melangkah pergi meninggalkan kamar Khandar menuju dapur. Selesai menyuruh bibi memasak, Andy naik ke kamarnya, memutuskan untuk mandi.


“Akh! Kenapa harus ada drama seperti ini?” gumam Andy setelah tubuhnya masuk ke dalam bathub. “Bagaimana aku harus menjelaskannya pada Papa kalau aku harus segera meminang Karina,” lanjut Andy di sela kebingungannya.


Lelah terus berpikir tiada mendapatkan jalan. Andy memutuskan untuk melanjutkan mandinya, lalu turun ke bawah, mengajak Khandar makan malam bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di ruang makan sederhana di rumah Karina.


Sambil menikmati santap makan malam bersama, Junaidi kembali membicarakan masalah lamaran antara Andy dan Karina.


“Bu, kalau sampai 1 minggu ini, anak nakal itu tidak membawa orang tuanya melamar Karina. Maka Karina harus putus dengannya,” tegas Junaidi pura-pura mengancam.


Bola mata Karina membulat sempurna, makanan baru saja masuk ke dalam mulut segera ia telan bulat-bulat. Rasa takut tiba-tiba melanda dirinya karena ia cukup tahu gimana hubungan Khandar dan Andy.


Karina hanya menunduk, nafsu makanannya seketika menghilang.


“Bu, kalau tidak diberi waktu seperti itu. Nanti bocah nakal itu akan mempermainkan perasaan Karina. Bagaimana kalau dirinya tidak berniat tulus untuk melamar putri kita?” ucap Junaidi tegas.


“Iya, ibu tahu Pak. Tapi, ya nggak mungkin juga, kan nak Tama di beri waktu melamar hanya 1 minggu lamanya,” bela Tina.


“Tapi bapak tetap ingin memberi waktu kepada anak itu hanya 1 minggu lamanya!” tegas Junaidi tak bisa di bantah.


Tak terima mendengar ucapan Junaidi. Karina meletakkan sendoknya, lalu beranjak dari duduknya.


“Mau kemana, nak?” tanya Tina cemas.


“Karina ingin masuk ke kamar bu,” sahut Karina, kedua kakinya pun melangkah pergi meninggalkan ruang makan.


Tina menarik nafas panjang. Hatinya terasa sedih saat melihat raut wajah putri semata wayangnya tak bersemangat.


“Jangan salahkan Bapak!” tegas Junaidi takut disalahkan oleh Tina.


“Bapak itu sungguh keterlaluan!” tegas Tina, ia pun meninggalkan meja makan, menuju kamar Karina.


“Kenapa jadi marah,” gumam Junaidi menatap kepergian Tina.


...****************...

__ADS_1


Di dalam kamar Karina.


Tok tok!


“Apa ibu boleh masuk?” tanya Tina setelah mengetuk pintu kamar Karina.


“Masuk saja bu,” sahut Karina dengan nada suara terdengar serak.


Karina tadi berbaring kini segera bangkit dan duduk di pinggiran ranjang.


Tina masuk, dan duduk di tepian ranjang, sebelah Karina.


“Kamu marah atas perkataan Ayah kamu?” tanya Tina menatap wajah cemberut Karina.


“Ibu tahu, kan gimana hubungan Andy dan Papanya?” Karina balik bertanya.


Tina mengangguk.


“Ibu tahu, kan kalau membahas hal penting pasti tidak mungkin sebentar, dan semulus yang kita inginkan?” Karina balik bertanya.


“Iya-ia, ibu tahu,” sahut Tina kembali mengangguk.


“Andy itu tidak seburuk yang Ayah pikirkan dan bayangkan, loh bu. Karina yakin jika Andy akan segera melamar Karina. Tapi, tidak mungkin secepat yang Papa inginkan,” jelas Karina lirih.


Tina mengelus pundak Karina. “Iya, ibu percaya sama Tama. Ibu juga sangat yakin jika dirinya benar-benar ingin menikahi kamu,” ucap Tina menyemangati sang putri.


“Karina, kan jadi sedih kalau Ayah menargetkan hari untuk Andy,” rengek Karina kembali.


“Sudah, kamu tenang, ya. Ibu akan bujuk Ayah kamu untuk tidak egois,” bujuk Tina kembali menenangkan Karina.


“Janji ya, bu!”


“Iya, ibu janji!” sahut Tina berjanji.


Merasa lega setelah mendengar janji Tina. Karina melepaskan pelukannya, wajah cemberutnya kembali bersinar.


“Gimana dengan pekerjaan kamu, nak?” tanya Tina basa-basi.


“Menyenangkan bu. Selama hampir 1 bulan bekerja di sana, Karina banyak mendapatkan ilmu di sana,” sahut Karina semangat.


“Alhamdulillah,” syukur Tina.


“Karena gaji di sana besar, sebagian gajinya untuk ibu, dan sebagiannya lagi Karina simpan ya, bu!” cetus Karina mulai membagi gaji.


“Kamu tidak perlu memberikan sebagian gajimu kepada ibu. Gaji kamu, untuk kamu saja. Simpan uang itu untuk masa depan kamu,” sahut Tina memberitahu.


“Gaji Karina lebih dari cukup di sini. Sebagian uang diberikan oleh Karina, ibu simpan saja. Siapa tahu Ayah dan ibu nanti mau pergi umroh atau Haji,” sahut Karina serius.


Tidak ingin berdebat terlalu banyak. Tina hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Karina.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2