Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
32. Kericuhan


__ADS_3

Pagi begitu cerah, secerah hati Andy. Suara gahar sepeda motor miliknya memasuki gerbang sekolah. Seperti biasa, kehadiran Andy selalu di tunggu dan di sambut banyak murid wanita di sekolahnya.


“ANDY! ANDY I LOVE YOU!” teriak murid berdiri di masing-masing koridor kelas mereka.


Andy membalas teriakan murid-murid tersebut dengan melambaikan tangannya. Sepeda motor terus melaju dan terhenti di tempat biasa, bawah pohon mangga.


Tak lama Andy datang, suara sepeda motor Andreas terdengar masuk dan terhenti di samping sepeda motor Andy.


“Tumben,” cetus Andreas sambil membuka helm sport miliknya, meletakkannya di tangki minyak.


“Bising!”


Kesal karena mood ceria di pagi hari di ganggu Andreas. Andy melangkah terlebih dahulu menuju kelas mereka.


“Tunggulah woy! Macam cewek PMS kau, baru di bilang kayak gitu uda merajok!” teriak Andreas sambil berlari mengejar Andy, dan berjalan seirama dengannya.


Langkah kaki Andy terhenti di depan kelas, ia menoleh ke Andreas saat mengingat ucapan Andreas kemarin siang, mengatakan akan menunjukkan seorang wanita ia sukai.


“He, kau bilang mau menunjukkan cewek yang kau sukai?”


“Iya, ingatnya aku. Tapi kalau jam segini belum datang dia. Aku rasa masih bantu mamaknya dia di dapur. Racik-racik makanan,” sahut Andreas sembari melangkah masuk ke dalam kelas.


Penasaran siapa cewek di taksir Andreas. Andy berlari kecil mengikuti langkah Andreas dan duduk di kursinya.


“Loh, kok racik-racik di dapur. Nggak sekolah rupanya perempuan itu?” tanya Andy penasaran.


“Sudah tamat, dia membantu Mamaknya jualan,” sahut Andreas sambil memutar posisi duduknya ke samping, menyandarkan tubuhnya ke dinding kelas.


“Jangan-jangan anak ibu kantin. Iya?!” tebak Andy tepat.


Andreas mengangguk.


“Gila kau ya! Itu sudah kakak-kakak. Aku rasa pun kakak itu sudah punya pacar,” celetuk Andy histeris.


“Diamlah kau. Seharusnya kau juga sadar diri, wanita yang kau sukai malah lebih tua dari wanita yang aku sukai. Kalau kau bisa gaskan cowok yang dekat-dekat sama cewek kau, kenapa aku nggak! Aku akan sikat habis amuba-amuba itu dari wanita yang aku sukai dengan sekali kepalan tangan!"


“Iya juga ya. Hem…” Andy menggaruk rambutnya tak gatal. “Kenapa kita bisa menyukai wanita yang lebih tua dari kita, ya. Apa sebenarnya kita berdua tidak waras,” lanjut Andy menggerutu sendiri.


“Suka ati kau lah!” Andreas mendekatkan wajahnya ke wajah Andy, dan bertanya. “Bagaimana dengan perjalananmu dengan bu Karina. Apakah semuanya berjalan sesuai dengan keinginanmu?”


“Tentu saja. Bahkan aku juga mengatakan akan menaruh benih di rahim bu Karina, agar ia tidak menggatal dengan pria lain selain aku!” sahut Andy sambil menatap kedua nanar mata Andreas.

__ADS_1


Sejenak Andreas tercengang mendengar jawaban dari Andy. Kemudian bibir nya bergerak, tertawa terbahak-bahak sehingga semua murid di kelas mereka memandang aneh.


“Hahaha!”


“Kima*k lah kau. Bisa diam nggak muncung kau itu?” celetuk Andy sambil memukul tubuh Andreas dengan tas ransel miliknya.


Perdebatan kecil Andy dan Andreas benar-benar mengundang perhatian teman sekelasnya. Sehingga sekumpulan murid lelaki di kelas mereka membicarakan hal buruk tentang Andy dan Andreas.


“Lihatlah, kedua anak berandalan itu benar-benar terlihat cocok.”


"Tawa yang mereka keluarkan sungguh menjijikkan di kedua telinga ku!"


"Benar, kenapa kedua berandalan itu tidak di keluarkan dari sekolah kita aja sih! Melihat mereka berdua terus-menerus di sini membuat aku ingin memukul mereka."


“Papa ku bilang, kalau aku harus menjauhi mereka berdua. Sebab kedua orang tua mereka itu memiliki kebiasaan buruk yang sama.”


“Maksudnya?”


“Mamanya Andreas suka membooking pria muda seperti kita. Bahkan salah satu pria itu adalah teman nongkrong ku sendiri. Sedangkan Andy, Papanya suka membayar wanita-wanita malam untuk di gauli.”


“Pantas saja. Kalau keturunan darah kotor, memang rata-rata kelakuannya seperti itu.”


Ucapan sekelompok murid lelaki terhenti saat Andy dan Andreas berdiri di belakang mereka. Andy mencengkram keras leher pria berkata kasar.


Kepalan tinju melayang ke pelipis murid lelaki tersebut. Tidak puas hanya sekali memberi pukulan ke wajah murid lelaki banyak bicara tadi. Andy berulang kali memukul wajah murid lelaki itu sampai mengeluarkan darah.


“Banyak bacot kelen anjin*g!” maki Andy sambil melayangkan pukulan satu persatu ke wajah murid lelaki. Begitu juga dengan Andreas.


Karena takut akan terjadi hal buruk lebih parah lagi, salah satu murid berlari ke ruang BK untuk memanggil Karina.


"Bu, gawat Bu. Andy, Andreas dan murid lainnya berkelahi di dalam kelas!"


"Apa?"


"Ayo Bu, cepat!" desak murid perempuan itu.


Karina dengan cepat berlari menuju kelas Andy.


“ANDY!” teriak Karina setelah ia masuk ke kelas Andy.


Andy menggantung kepalan tinjunya, melepaskan cengkraman kerah baju murid tersebut. Begitu juga dengan Andreas.

__ADS_1


“Bu, lihat kedua bajinga*n ini telah mengeroyok kami!” adu murid dengan wajah lebam ke Karina.


Andy dan Andreas membuang wajah mereka dengan dada terlihat naik turun menahan amarah.


“Kenapa kamu melakukan hal seperti ini Andy?” tanya Karina tegas.


Andy menatap penuh kebencian ke sekumpulan murid lelaki sedang menyeka darah di masing-masing wajah mereka.


“Bacot kelen anjin*g! APA KALIAN PIKIR SUDAH BAGUS KALI KELUARGA KALIAN SEMUA, SEHINGGA BISA MENGHAKIMI KAMI SEPERTI ITU!” maki Andy meninggikan nada suara. Tangannya menunjuk ke salah satu murid lelaki dengan wajah penuh luka. “Kau! Kau tadi yang mengatakan jika Papamu bilang tak perlu dekat-dekat dengan kami berdua karena kami adalah anak dari orang tua yang tidak beres. APA KAU PIKIR BAPAK KAU ADALAH ORANG TUA YANG BERES? NGACA KAU! Papa kau itu sebenarnya memiliki selingkuhan yang belum dinikahinya di luar sana. Nggak percaya kau? Maka akan ku kirimkan bukti video mesum yang beredar secara rahasia tentang Papa KAU!” tambah Andy emosi.


Tidak senang aib akan di bongkar di depan teman sekelasnya. Murid tersebut melayangkan tinju ke hidung Andy. Membuat tulang halusnya patah.


Melihat darah mengalir dari hidung Andy, seluruh tubuh Karina gemetar.


“STOP! STOP!” teriak Karina menghentikan pertikaian.


Murid-murid langsung duduk tenang. Kecuali, Andy dan Andreas.


“Andreas, tolong bawa aku ke rumah sakit. Aku ingin meluruskan hidung yang patah ini,” perintah Andy, tangan masih memegang hidungnya agar tidak mengeluarkan banyak darah.


“Iya!” sahut Andreas, lirikan mata ingin membunuh menatap sekumpulan murid lelaki. “Awas kalian semua!” ancam Andreas.


Seluruh tubuh Karina melemah, ia duduk di kursi murid saat melihat darah mengalir deras dari hidung Andy.


“Kenapa kalian tega menghina Andy seperti itu?” tanya Karina lemah.


Sambil berjalan melewati kelas, Andy menyempatkan diri melihat Karina dari jendela kelas. Kemudian mempercepat langkahnya agar tidak membuat Karina bertambah cemas.


Waktu begitu cepat berlalu.


Siang itu juga, pukul 12:00, di lingkungan sekolah.


Andy dan Andreas telah pulang dari rumah sakit. Terlihat hidung Andy sudah tertutup perban dan tangannya memegang bungkusan berisi obat-obatan. Langkah kaki Andy dan Andreas terhenti di samping parkiran sepeda motor mereka di bawah pohon mangga. Sorot mata mereka berdua menatap lurus ke ruang BK, dimana sekelompok murid tadi telah berdiri dengan wajah tertunduk di depan ruang BK.


“Bu Karina telah memanggil semua orang tua kita. Hal seperti ini paling aku benci,” gumam Andreas memberitahu.


“Bersyukurlah kalian yang orang tuanya mau datang. Aku, apa yang aku harapkan dari Papaku,” cetus Andy lirih. Tangannya menepuk punggung Andreas. “Mari kita pergi ke ruang BK, kita selesaikan masalah ini!” lanjut Andy, melangkah terlebih dahulu.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2