
Saking senangnya Andy dan Andreas melajukan sepeda motor mereka dengan beriringan mengelilingi kota Medan. Lelah terus berkeliling tanpa tujuan, akhirnya Andy menghentikan sepeda motor mereka di pinggir trotoar Lapangan Merdeka, berdiri di samping sepeda motor mereka.
“Bosan juga ya,” cetus Andy.
“Gimana kalau kita keliling Berastagi, Perapat, Siantar. Atau…gimana kalau kita pergi ke Kilometer 0!” usul Andreas semangat.
“Jauh kali. Nggak bisa aku. Setelah dinyatakan lulus, Papa menyuruhku untuk menjalankan bisnis sendiri,” sahut Andy memberitahu.
“Sebenarnya aku juga sih. Padahal aku ingin berkuliah di luar negeri biar bisa hidup bebas. Tapi, wanita tua itu bilang ‘setelah menjadi pemimpin Perusahaan kamu bebas berkeliling kemanapun dengan cara bekerja. Tidak perlu berkuliah juga, praktek di lapang bersama ahli pendidik yang sudah Mama berikan lebih bagus daripada berkuliah’. Itulah ucap Mama,” curhat Andreas dengan wajah malas.
“Gimana dengan anak-anak, ya? Apakah mereka semua lulus?” tanya Andy mencemaskan anak geng motornya.
“Lulus, tapi ada beberapa anak yang akan pergi merantau karena ingin langsung bekerja,” sahut Andreas memberitahu.
“Enak banget hidup bebas seperti mereka,” hela Andy lesu.
“Syukuri aja. Enak di pikiran kita belum tentu enak di pikiran mereka,” tepis Andreas.
“Iya juga,” Andy menatap Andreas. “Mau kemana selanjutnya kita ini?” lanjut Andy bertanya.
“Balek aja lah. Aku rasa sih, wanita tua itu telah menungguku di rumah,” sahut Andreas telah duduk di sepeda motornya.
“Aku juga,” ucap Andy, ia pun naik ke sepeda motornya.
Perlahan sepeda motor milik Andy dan Andreas melaju meninggalkan pinggiran Lapangan Merdeka, kembali ke rumahnya masing-masing.
1 jam kemudian.
Sepeda motor milik Andy telah terparkir di garasi. Andy bergegas turun dan masuk ke dalam rumah penuh gembira setelah melihat mobil Khandar terparkir di halaman rumah.
“Pa, Papa. Aku lulus, Pa!” teriak Andy memberitahu saking senangnya.
Langkah kaki Andy terhenti di ruang tamu, dimana Khandar duduk santai sambil membaca Koran.
“Pa, ini amplop surat kelulusan milikku. Lihatlah,” ucap Andy kembali memberitahu, tangan memegang amplop terulur.
Bibir Andy terus terukir senyuman, melupakan sejenak rasa benci kepada Khandar, demi mendapatkan pujian dari hasil kerja kerasnya selama ini. Namun, harapan dan senyum tulus Andy harus menghilang setelah mendengar kalimat tak menyenangkan dari Khandar.
“Lulus juga kamu. Papa pikir anak berandalan dan tak memiliki sopan santun seperti kamu akan menjadi murid abadi di sekolah!”
Andy meremas amplop putih di tangannya, tatapan dingin mengarah ke wajah santai Khandar sedang menatapnya.
“Begitu buruk kah aku di mata Papa sehingga Papa tidak percaya dengan ucapanku dan hasil kerja kerasku?” tanya Andy lirih.
__ADS_1
“Papa tidak bilang seperti itu. Sekarang kamu naik ke atas, ganti baju karena kita akan makan siang bersama, kemudian lanjut pergi ke Perusahaan yang akan kamu kelola nantinya,” ucap Khandar memberi perintah.
“Baik Pa,” sahut Andy lirih.
Andy mengajak kedua kakinya melangkah cepat menuju kamarnya dengan tangan terus meremas amplop berisi hasil ke lulusan masih di tangannya.
Sesampainya di kamar, Andy membuang kasar amplop tersebut ke tong sampah.
“AAAAA!” teriak Andy begitu kesal.
Di tengah-tengah kekesalannya kepada Khandar, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Ia segera mengambil ponsel miliknya, dan melihat nama panggilan video call dari Karina. Dengan cepat jempol tangannya menekan tombol berwarna hijau, mengarahkan lensa kamera ke langit kamar.
📲 [“Assalamualaikum.”] ucap Karina. Terlihat Karina sedang duduk di bangku taman universitas.
📲 [“Salam.”] sahut Andy singkat.
📲 [“Gimana dengan hasil kelulusannya?”] tanya Karina penasaran.
📲 [“Lulus.”] sahut Andy dengan wajah kecut, kedua kakinya melangkah mendekati sofa panjang dan menghempaskan tubuhnya di sana, kamera tetap mengarah ke langit kamar.
📲 [“Alhamdulillah. Sepertinya kamu sedang lelah, kalau gitu saya matikan panggilan teleponnya…”]
📲 [“Ja-jangan, aku hanya kesal saja dengan Papa.”]
📲 [“Kesal kenapa?”] tanya Karina penasaran.
📲 [“Oh, jadi hanya karena masalah seperti itu. Karena Pak Khandar tidak memuji kamu. Gimana gantinya saya saja yang memuji kamu.”] usul Karina.
📲 [“Aku rindu bu.”] ucap Andy tiba-tiba, ia pun memutar kameranya ke arah wajahnya.
📲 [“Kalau saya tidak.”] sahut Karina membuat Andy kecewa.
📲 [“Jangan bilang ibu telah memiliki orang lain di sana. Jujur ibu padaku!”] desak Andy dengan wajah cemburu bercampur kesal.
📲 [“Untuk saat ini tidak ada orang lain di hati saya kecuali, kedua orang tua saya, dan kamu.”] sahut Karina membuat Andy malu.
📲 [“Yakin?”]
📲 [“Iya. Hem, karena saya sudah menjadi seorang guru, dan kamu bukanlah seorang pelajar. Gimana kalau kamu berhenti menyebut saya dengan sebutan ‘ibu’.”] usul Karina tiba-tiba.
📲 [“Loh, kenapa?”]
📲 [“Biar lebih asik aja mengobrol nya. Gimana kalau kamu memanggil saya dengan sebutan Karina, atau kamu.”] usul Karina kembali memberi nama sebutan.
__ADS_1
📲 [“Baiklah.”]
📲 [“Karena saya masih ada kelas lagi. Saya pamit dulu. Buat kamu, tetap semangat dan jangan pernah patang menyerah sebelum semua keinginan kamu tercapai. Assalamu'alaikum.”]
📲 [“Wa’alaikumsalam.”] sahut Andy, ia pun mematikan panggilan telepon dari Karina.
Setelah mendapatkan panggilan telepon dan mendengar suara serta melihat wajah langsung Karina, kesedihan Andy perlahan menghilang. Kedua kakinya dengan cepat melangkah, mengganti pakaian untuk bertemu dengan Khandar telah menunggunya di bawah.
.
.
Di ruang tamu milik Andreas.
Andreas terus menunggu kedatangan sang Mama, sudah berjanji akan pulang cepat. Hampir setengah jam menunggu dengan wajah kusut di ruang tamu. Akhirnya pintu rumah terbuka, terdengar suara hentakan serentak dari tumit sepatu hak tinggi milik sang Mama.
“Assalamu'alaikum, siang anakku yang tampan dan juga blaem-blaem!” ucap Mimi sembari melangkah dengan kedua tangan di penuhi bungkusan plastik berisi barang belanjaan dan makanan.
“Walaikumsallam,” sahut Andreas dengan wajah datar.
Mimi mendudukkan dirinya di sofa kosong sebelah Andreas, meletakkan semua barang belanjaannya di atas meja.
“Mana amplop kelulusan milik kamu,” ucap Mimi mengulurkan tangannya.
“Ini Ma,” Andreas memberikan amplop putih di atas telapak tangan Mimi.
Mimi membuka amplop miliknya, dan membaca hasil pengumuman kelulusan milik putranya.
“Lulus! Kamu lulus sayang!” celetuk Mimi, spontan memeluk dan menciumi wajah Andreas, membuat wajah tampannya dipenuhi lipstik merah maron.
“Lepas Ma, aku bukan anak kecil lagi,” ucap Andreas berusaha melepaskan pelukan kuat dari Mimi.
Puas telah menghujani Andreas dengan ciuman dan pelukan. Mimi melepaskan pelukannya, lalu mengibaskan rambut panjang berwarna coklat ke wajah Andreas. Membuat Andreas dengan cepat menyingkirkan wajahnya.
“Mmm, wanita tua ini memang ada-ada aja kelakuannya,” gumam Andreas sembari membersihkan sisa lipstick di seluruh wajahnya.
“Karena hari ini kamu telah lulus. Gimana kalau besok kita liburan ke Luar Negeri. Kamu mau, kan?”
“Mau, aku mau, Ma!” sahut Andreas cepat saking senangnya.
“Okelah, kalau gitu Mama akan pesan tiket pesawat,” ucap Mimi mengambil ponsel miliknya, dan langsung memesan tiket pesawat untuk mereka berdua.
.
__ADS_1
.
Bersambung