
Setelah pulang bekerja. Andy menyempatkan diri untuk melihat keadaan rumah Karina. Namun, sesampai di sana terlihat sepi, seperti tidak ada orang, bahkan pintu rumahnya tertutup. 10 menit setelah menunggu di sebrang jalan, Andy memutuskan menyuruh Venda untuk memutar mobil, balik ke rumah.
Di tengah-tengah kemacetan di lampu merah. Sebuah sepeda motor matic berhenti tepat di samping mobil Andy. Dari balik kaca jendela gelap, tak menerawang dari luar, Andy melirik sejenak ke pengemudi wanita tersebut.
“Karina,” gumam Andy membulatkan kedua bola matanya.
Ingin rasanya ia keluar, berlari, dan memeluk Karina. Namun, apalah daya mereka terjebak di lampu merah, dan sepeda motor Karina berhenti sangat dekat dengan pintu mobilnya sehingga menyulitkan Andy membuka pintu mobil. Andy hanya bisa memandang dari dalam mobil, dan tersenyum puas melihat Karina terlihat baik-baik saja.
Sakit memang kalau hanya bisa memandang tanpa menyapa dan menyentuh. Padahal jarak sangatlah dekat. Apalah daya, takdir belum bisa mempertemukan mereka kembali.
Ingin berkunjung langsung ke rumah, tapi apalah daya, pemilik rumah tidak mempersilahkan. Jalan satu-satunya hanya bisa memandangi dari jarak jauh.
Lampu merah sudah berubah menjadi hijau. Semua pengendara melaju dengan cepat agar tidak kejebak di lampu merah selanjutnya, termasuk mobil milik Andy.
Andy hanya bisa memandangi Karina dari kaca spion samping sampai pantulannya menghilang di tutupi ramainya kendaraan kala itu.
“AAAA!” teriak Andy mengejutkan Venda.
“A-apakah Bos baik-baik saja?” tanya Venda takut-takut.
“Kau tengok. Apakah aku ini baik menurutmu. Gara-gara kau melajukan mobil dengan cepat, aku tidak bisa melihat wanitaku lagi!” celetuk Andy menyalahkan Venda.
“Wa-wanita! Apakah bos ingin kita berhenti di depan sana?” tanya Venda menunjuk ke sisi jalan.
“Tidak perlu. Aku masih menunggu dirinya untuk menghubungiku, barulah aku mau menjumpai wanitaku,” sahut Andy gengsi. Padahal dalam hatinya, ‘Ialah, bodoh kali ku rasa kau ini. Apa nggak pernah kau jatuh cinta sampai tergila-gila kepada seorang wanita!’
“Maaf. Saya hanya bisa beri saran, kenapa tidak bos jumpai aja langsung. Kalau memang cinta, seharusnya Bos tidak perlu malu untuk menjumpai wanita itu lebih dulu. Daripada menunggu seperti ini, buat Bos merasa tidak nyaman,” cetus Venda memberi saran.
“Matamu. Diamlah, kau malah membuatku bertambah pusing aja,” omel Andy sembari memijat pelipisnya terasa tegang.
“Ma-maaf bos!” maaf Venda kembali fokus ke jalan.
30 menit kemudian.
__ADS_1
Mobil Andy telah memasuki gerbang rumah, mobil berhenti di depan teras rumahnya.
Sebelum Venda membuka pintu untuk Andy. Andy lebih dulu turun, bergegas masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendengar suara ******* dari ruang kerja milik Khandar.
“Apa Papa sudah pulang?” gumam Andy, kedua kakinya menyerong ke sisi kanan, dimana ada koridor kecil terdapat sebuah ruangan di sudutnya.
Suara ******* tersebut semakin jelas saat jarak langkah Andy 1 meter dari ruang kerja Khandar. Penasaran dengan suara tersebut, Andy mengintip dari celah pintu terbuka sedikit. Kedua bola mata Andy langsung membulat sempurna saat di dalam sana terdapat 2 orang wanita sedang bermain dengan Khandar.
Benci melihat sikap sang Papa sampai sekarang belum berubah total. Andy melangkah besar meninggalkan ruangan tersebut. TK lupa kedua tangan Andy menyambar semua benda di sepanjang koridor sehingga membuat Khandar spontan keluar dari ruangannya.
“ANDY!” teriak Khandar berdiri di depan pintu ruangannya, kedua tangan sibuk mengancing resleting miliknya.
Andy tidak menjawab, ia hanya melirik tajam ke belakang. Lalu terus melangkah menuju lantai 2.
Sesampainya di dalam kamar.
Andy merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sorot matanya memandang ke langit-langit kamar miliknya.
“Nasibmu lah memang. Sudah kaya, memiliki wajah tampan, semuanya bisa kau gapai. Kecuali satu hal, yaitu kebahagian. Kenapa sulit sekali bagiku menggapai kebahagian? Apa itu semua karena ulah Papa yang suka berbuat zina?” Andy mengubah posisi tidurnya jadi terlungkup. “Akh! Mati ajalah. Apa pun hal itu aku juga tidak perduli. Yang penting bagiku saat ini, aku ingin tidur dan berharap terbangun dan menetap di dunia lain,” tambah Andy saking suntuknya.
“Siapa sih!” gumam Andy suara berat akibat mengantuk.
Andy turun dari ranjang, membuka pintu kamarnya. Rasa kantuk teramat berat kini seketika menghilang, melihat Khandar berdiri di depan pintu kamarnya.
“Ada apa, Pa?” tanya Andy santai.
“Kenapa kamu menjatuhkan semua barang-barang mahal milik Papa?” Khandar balik bertanya.
“Karena supaya Papa tahu, gimana rasanya kehilangan barang begitu kita suka,” sahut Andy tenang.
“Apa maksud kamu?”
“Maksudku. Kenapa Papa tidak pernah berubah? Apa harus aku pergi dulu supaya Papa bisa berubah?” jelas Andy sedikit mengancam.
__ADS_1
“Buat apa Papa berubah. Bukannya semua yang Papa lakukan tidak merugikan dirimu?”
“Oh! Gitu ya, Pa,” angguk Andy.
“Andy, suatu saat jika kau sudah menikah dan kehilangan sosok wanita yang kamu cintai. Kamu pasti akan tahu. Gimana rasanya menahan semuanya,” cetus Khandar tiba-tiba. Kedua tangannya memegang kedua lengan Andy, menatap lekat dan dekat wajah suram Andy. “Yang Papa lakukan semua ini hanya ingin menuntaskan masalah hasrat Papa saja. Tidak ada masalah lain lagi,” tambah Khandar.
Andy perlahan menurunkan kedua tangan Khandar dari lengannya.
“Menuntaskan hasrat, ya!” angguk Andy. Lalu ia menatap lekat kedua nanar bola mata sendu Khandar. “Apa Papa pikir aku juga tidak memiliki hasrat seperti Papa? Alibi yang sempurna,” tambah Andy bergumam.
“Papa tidak berlalasan. Semua yang Papa ucapkan benar. Kenapa kamu tidak percaya?”
“Kalau Papa ingin melakukan hal seperti itu. Aku masih bisa menoleransi dengan cara Papa harus menikah. Bukan berzina seperti ini!” tegas Andy.
Khandar menunduk. “Tidak ada wanita yang Papa cintai kecuali, almarhum Mama kamu,” cetus Khandar lirih.
“Dan, tidak ada seorang istri yang rela melihat suaminya berzina. Apa Papa pikir, almarhum Mama tidak bisa melihat semua perbuatan Papa dari sana?” Andy memegang hadle pintu, perlahan menutup pintu sembari berkata. “Maaf, aku muak melihat Papa. Bisa tinggalkan aku sendiri!”
Andy menutup pintu kamarnya, membiarkan Khandar masih berdiri di depan pintu kamarnya.
“Maafkan, Papa!”
Khandar melangkah cepat menuju lantai dasar, menjumpai 2 wanita bayaran sedang menunggu uang hasil pekerjaan mereka.
Karena rasa kantuk sudah hilang bersama dengan kedtaangan Khandar. Andy memutuskan untuk bergegas masuk ke kamar mandi. Membersihkan dirinya dari semua kotoran melekat di pori-pori tubuhnya.
Sambil berendam air hangat, Andy menyempatkan diri menikmati wine tersedia di dalam lemari gantung di dalam kamar mandi.
“Alasan bodoh apa yang sudah kamu berikan kepadaku, Pa? bisa-bisa kamu dengan mudahnya berkata seperti itu tadi. Aku saja yang masih menunggu chat dari seseorang masih sanggup setia, dan bahkan aku sampai jijik jika ada seorang wanita mneyentuhku. Alasan yang nggak masuk akal!” gumam Andy dengan sisa kesalnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung