
Menyadari seperti ada pengintai di balik pintu ruangan. Andy segera melirik ke pintu sedikit terbuka, tangannya spontan mengambil asbak rokok dan melayangkannya.
Praaang!
Sepasang mata itu langsung menghilang.
“Kenapa kau melemparkan asbak rokok itu?” tanya Andreas penasaran.
“Ada yang mengintip,” sahut Andy santai.
Andy beranjak dari duduknya, melangkah mendekati pintu, mengambil asbak telah terbagi bagi tersebut dan mendapatkan sebuah jepit rambut wanita terjatuh di luar pintunya. Ia kembali melangkah meninggalkan pintu, dan duduk di sofa.
“Lihatlah, aku menemukan jepitan rambut ini di luar pintuku,” ucap Andy menunjukkan jepitan rambut kupu-kupu.
Andreas mengambil jepitan rambut dari tangan Andy. Ia terus memandang dan memandang jepitan rambut di tangannya itu. Dahinya mengernyit seolah pernah melihat jepitan rambut itu.
“Sepertinya aku pernah melihatnya,” gumam Andreas.
“Sudahlah, biarkan aja,” tangannya mengulur. “Berikan jepitan itu kembali padaku,” lanjut Andy meminta jepitan rambut itu.
“Jangan, sepertinya ini seru,” tolak Andreas menggenggam erat jepitan rambut.
“Terserah kau aja,” cetus Andy benar-benar malas membahas jepitan rambut itu.
Rencana sudah tersusun rapih di dalam pikiran Andreas.
“Aha!” celetuk Andreas sembari beranjak dari duduknya.
“Kenapa lagi. Jangan katakana jika kau memiliki ide konyol?”
“Bukannya ini hari sabtu, dan semua karyawan pulang cepat?” tanya Andreas semangat.
“Kenapa?” tanya Andy singkat.
“Sebaiknya kamu menyuruh semua karyawanmu untuk berkumpul. Maka, di saat itu pula aku akan memberikan pelajaran kepada karyawan wanita yang memiliki—” ucapan Andreas terhenti karena Andy merampas jepitan rambut dari tangan Andreas.
“Lama, sebaiknya kita lihat cctv saja,” sela Andy langsung mengeluarkan ponsel lain tersimpan di laci meja kerjanya.
“Apa kau memasang cctv di koridor?” tanya Andreas telah berdiri di samping kursi kerja Andy.
“Karena aku tidak mempercayai semua orang kecuali, Karina, dan kau. Maka aku harus selalu waspada pada manusia lain,” sahut Andy menjelaskan.
“Masa lalu yang sulit kau lupakan,” gumam Andreas.
Karena cctv terhubung pada tab miliknya. Andy langsung saja mencari siapa pelakunya. Begitu melihat cuplikan ulang cctv, segaris senyum dan sebelah alis Andy dan Andreas menaik.
“Ternyata wanita itu!” cetus Andreas mengangguk.
“Sudah tahu, kan siapa orangnya?” tanya Andy sembari meletakkan kembali tab miliknya ke dalam laci, dan mengunci laci tersebut.
“Wanita yang langkah itu,” gumam Andreas.
__ADS_1
“Bukan hanya langkah, tapi luar biasa,” timpal Andy. Ia pun beranjak dari duduknya. “Ayolah, sebaiknya kita segera pulang aja,” lanjut Andy mengajak Andreas pulang.
Andy dan Andreas mulai melangkah keluar dari ruangan kerja. Sambil melangkah mereka menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan tujuan selanjutnya.
“Habis pulang, mau kemana lagi kita?” tanya Andreas.
“Kalau aku sudah jelas mau ngapel Karina,” sahut Andy santai.
“Enak kali lah yang punya pasangan ini. Dikit-dikit bisa bertemu,” gumam Andreas lirih.
“Makanya cari pacar kau,” usul Andy sambil menghentikan langkah kaki mereka di depan pintu lift. Begitu juga dengan Andreas.
Pintu lift terbuka. Andy dan Andreas masuk ke dalam, dan melanjutkan obrolan mereka. 5 menit kemudian lift sampai terhenti di lantai dasar. Andy dan Andreas keluar dari lift, kedua kaki mereka terus melangkah santai sambil tetap mengobrol. Kini langkah kaki mereka terhenti di parkiran mobil.
“Kalau begitu, sampai jumpa lain waktu!” teriak Andreas perlahan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran. Andy hanya melambai dan mengangguk.
Baru saja hendak masuk ke dalam mobil. Haniffah tiba-tiba telah berdiri di sampingnya dengan rambut berantakan.
“Bos,” panggil Haniffah berwajah sedih.
Andy melirik sekilas, dan mencampakkan jepitan rambut milik Haniffah ke bawah.
“Kau cari itu, kan?” tanya Andy, ia pun masuk ke dalam mobil tanpa ingin mengetahui alasan Haniffah.
“MAAFKAN saya, bos!” maaf Haniffah tiba-tiba menghadang jalan Andy.
Beberapa karyawan keluar dari gedung melihat ke arah mereka dengan tatapan aneh, dan saling berbicara.
Tiinn tiiin tinn!
Tak gentar dengan rencana buruk apa telah di susun Haniffah. Haniffah berlutut di depan mobil Andy sambil menangis tersedu-sedu.
“Saya tahu kalau saya ini salah. Maafkan saya, bos. Tapi…tapi saya mohon jangan berlaku kasar lagi pada saya. Walau dahi ini terluka karena terkena lemparan asbak rokok. Saya janji akan melakukan kerja yang lebih baik lagi di Perusahaan ini,” teriak Haniffah membuat semua karyawan heboh.
Andy di dalam mobilnya terkejut sampai tercengang. “Lumayan juga acting wanita ini,” gumam Andy masih bertahan di dalam mobilnya.
Merasa telah membuang-buang waktunya. Andy langsung menyerongkan ban mobilnya untuk menghindari Haniffah, lalu pergi begitu saja seolah tak berbelas kasih kepada Haniffah.
Melihat sikap cuke Andy membuat Haniffah mendengus kesal. Ia pun beranjak dari duduknya, dan berteriak seperti orang kesurupan.
“AAAA! KESAL, KESAL, KESAL! SIAPA SIH WANITA ITU?!”
Merasa aneh melihat Haniffah, semua karyawan pergi meninggalkannya masih saja berteriak tak tentu arah di parkiran.
“Awas saja kau!” gumam Haniffah penuh siasat buruk untuk Karina.
.
.
Sementara itu di rumah Karina.
__ADS_1
Karina duduk di ruang tv bersama Tina sambil melipat pakaian.
“Nak,” panggil Tina menggantung.
“Iya bu,” sahut Karina, kedua tangan melipat pakaian kering, dan menumpuknya.
“Kalau ibu boleh tahu, kamu beneran berpacaran dengan Tama?” tanya Tina memastikan.
Karina mengangguk malu-malu.
“Kamu tahu, kan bagaimana resiko berpacaran dengan pria yang lebih muda darimu?”
“Apa pun resikonya, Karina akan menghadapinya dengan dewasa dan berpikir jernih,” sahut Karina.
“Kalau gitu ibu hanya bisa memberikan doa terbaik untuk kamu,” ucap Tina mendoakan putri semata wayangnya.
“Terima kasih ya, bu,” terima kasih Karina penuh cinta.
“Oh ya. Gimana tentang interview kamu. Kenapa ibu belum ada mendengar kabar apa pun sampai sekarang?” tanya Tina penasaran kenapa belum ada tanda-tanda pemanggilan kerja untuk Karina.
“Karina juga tidak tahu, bu. Mungkin karena pelamar sangat banyak,” sahut Karina tenang.
“Kalau gitu, ibu harus memberikan doa ekstrak double duo. Semoga saja secepatnya anak ibu yang cantik, baik, dan penurut ini segera di panggil,” cetus Tina mendoakan Karina penuh semangat.
“Amiiin!” Karina mengaminkan dengan bibir tersenyum lebar.
“Eh, gimana dengan kabar oppa korea ibu?” tanya Tina ambigu.
“Oppa korea ibu. Maksudnya siapa?” Karina balik bertanya karena bingung.
“Han. Sih, Han yang tampan itu loh!”
“Oh! Han sudah sampai di rumahnya, dan sesampainya di sana dia langsung diberikan pekerjaan oleh atasannya,” sahut Karina memberitahu.
“Sudah ganteng, menjadi wartawan eksklusif. Kerena banget, ya!” puji Tina berlebihan.
“Apakah ibu tidak ingin memuji Andy? Andy juga keren, loh!”
“Kalau tentang Tama beda urusan. Calon menantu satu itu adalah seorang pria yang hebat. Lain dari yang lain,” ucap Tina memberikan 2 jempol tangan kepada Karina.
“Masa sih?!”
“Kamu tidak percaya sama pendapat ibu?”
“Percaya deh. Karina percaya sama ibu,” angguk Karina sambil mengangkat tumpukan pakaian sudah ia lipat.
“Nanti malam adalah malam minggu. Apakah kamu tidak di datangi Andy?” tanya Tina sedikit berteriak karena Karina sudah di dalam kamar menyusun pakaian mereka.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung