
Kriing kriing!
Bel pelajaran telah berakhir, semua murid berhamburan keluar dari dalam kelas. Andy masih diam di kursinya, memikirkan ucapan Andreas. Sedangkan Andreas telah duduk di atas meja Andy, terus menatap Andy sedang melamun.
Sebanyak 3 kali Andreas berdehem. Namun, Andy tak kunjung memalingkan dan mengedipkan matanya. Khawatir dengan keadaan Andy, Andreas berinisiatif mencari cara untuk segera membuat Andy terhenti dari lamunannya.
“Siang bu Karina!” celetuk Andreas dengan rencananya, dan akhirnya rencana Andreas berhasil membuat Andy menolehkan wajahnya ke pintu kelas.
Menyadari Andreas telah mengerjainya, Andy menatap wajah Andreas dengan tatapan tajam.
“Apa kau sedang mengerjai ku?” tanya Andy menekan nada suaranya.
“Tentu saja. Bukannya kau—” sahutan Andreas terhenti saat ponsel di dalam saku celana Andy berdering nyaring.
📲 [“Hallo ketua!”] sahut seorang pria dari sebrang sana setelah Andy mengangkat panggilan teleponnya.
📲 [“Ada apa?”] tanya Andy tenang.
📲 [“Begini ketua. Salah satu anggota kita telah di hajar habis-habisan oleh anggota Lin di salah satu pusat perbelanjaan.”] curhat pria tersebut tak lain adalah anggota geng motor Andy.
📲 [“Apa kalian telah berbuat salah sehingga anggota dari pria bajinga*n itu menghajar kalian?”] tanya Andy ingin mendengarkan kejelasan dari anggotanya.
📲 [“Ti-tidak, tadi kami semua hendak berkeliling mencari parfum di dalam mall. A-aku juga ingin mencari baju di sana. Tapi, tapi saat kami berjalan kami tidak sengaja bersenggolan dengan pejalan kaki dan ternyata itu adalah anggota dari Lin. Kami semua sudah lari untuk tidak berkelahi di tempat umum saat memakai pakaian sekolah seperti ketua inginkan. Tapi, tapi anak buah Lin ternyata menahan Dodi, membawanya ke kamar mandi dan di hajar habis-habisan di sana. Do-Dodi juga di sekap oleh mereka. Ka-katanya jika Dodi ingin di kembalikan, maka ketua harus bertanding dengannya nanti malam. Gi-gimana ketua?”] sahut anggotanya menjelaskan dengan suara gemetar.
📲 [“Baiklah! Katakan padanya kita menunggu di tempat biasa.”] sahut Andy santai.
📲 [“Terima kasih ketua. Kalau gitu aku matikan dulu.”] pamit anggotanya lalu mematikan panggilan teleponnya.
“Kenapa?” tanya Andreas setelah Andy selesai menelepon.
“Biasalah, pecundang itu telah memanfaatkan anggota sebagai alat untuk mengajakku bertanding nanti malam,” sahut Andy sembari berdiri dan memakai tas ransel miliknya.
“Apa? Jangan. Aku katakan jangan turuti keinginannya. Aku sangat yakin ada hal besar yang sedang ia rencanakan untuk bisa membuat kau kalah,” ucap Andreas cemas.
“Aku tahu, dan aku akan berusaha hati-hati. Masalahnya bukan kelicikannya. Masalahnya saat ini dia telah menyekap Dodi bersama dengan mereka. Coba kau pikir saja, apa kau tega melihat temanmu di perlakukan seperti itu?”
__ADS_1
Mendengar hal itu Andreas menggeram dengan kedua tangan di kepal. Seakan tadi ingin menenangkan Andy, kini Andreas malah ikut terpancing emosi mendengarnya.
“Kalau begitu ceritanya maka aku akan membantu kau untuk bersiap-siap mulai sekarang. Aku minta sama kau untuk berjuang demi Dodi, atau…aku siap untuk menghajar mereka satu persatu dengan kedua tanganku sendiri nantinya,” janji Andreas.
“Setelah kembali ke rumah masing-masing, aku minta sore ini kita berkumpul di apartemen milikku. Jangan lupa, bilang kepada Joni untuk menyiapkan salah satu sepeda motor khusus tanding balap yang terbaik dari bengkelnya,” ucap Andy memberi perintah.
“Siap ketua!” sahut Andreas serius.
“Ayo, sebaiknya kita pulang agar bisa mempersiapkan semuanya untuk nanti malam!” tegas Andy.
Andreas dan Andy melangkah keluar dari kelas mereka. Wajah-wajah kedua pemuda itu terlihat sangat tampan saat mereka menghadapi masalah.
Dari depan ruang BK terlihat Karina melambaikan tangannya ke Andy. Namun Andy sengaja tak menghiraukan lambaian tangan Karina. Andy lebih memilih pergi untuk melupakan rasa kekecewaannya kepada Karina.
Karena Andreas telah melihat lambaian tangan Karina, dan melihat sikap Andy mengabaikan Karina. Andreas memilih memutar arah stang kereta vixion miliknya menuju ruang BK.
“Ada apa Bu?” tanya Andreas setelah sampai di depan ruang BK.
“Saya hanya ingin mengembalikan kotak makanan dan mengucapkan terima kasih atas makanan yang Andy berikan,” sahut Karina.
“Emang kenapa?” tanya Karina penasaran.
“Gara-gara bekal pemberian Andy, ibu berikan kepada Pak Guan. Andy jadi marah besar kepada bu Karina,” sahut Andreas jujur.
“Sa-saya tidak memberikan bekal milik Andy ke Pak Guan. Oh… jangan-jangan saat Pak Guan ingin mengambil makanan dari kotak bekal Andy, Andy melihatnya dan langsung berpikir jika saya memberikan makanan yang diberikan oleh Andy? Berarti Andy salah paham dengan saya,” cetus Karina merasa bersalah.
“Dan…apakah ibu memiliki hubungan spesial dengan Pak Guan?” tanya Andreas langsung ke intinya.
“Se-spesial? Ti-tidak ada, saya tidak memikirkan untuk menjalin hubungan dengan orang manapun untuk saat ini,” sahut Karina mulai panik.
“Lain kali, kalau ibu masih ingin berharap Andy tetap betah di sekolah ini. Maka ibu harus menjaga jarak dengan pria manapun,” celetuk Andreas seperti mengancam. “Uda dulu ya, bu. Aku mau pamit pergi. Oh ya, jangan lupa berikan doa dari kejauhan untuk Andy. Soalnya nanti malam ia mau bertanding balap demi membebaskan anak buahnya yang di sekap oleh geng motor lain. assalamualaikum, aku pamit!” tambah Andreas membuat Karina benar-benar merasa bersalah dan cemas
Brooom brooommm!!!
Andreas melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Karina berdiam diri seperti patung sambil memandangi kotak bekal sudah ia cuci di tangan kanannya.
__ADS_1
“A-apa maksud dari ucapan Andreas, ya? Kenapa saya jadi bingung dan kenapa saya menjadi merasa bersalah besar?” gumam Karina bertanya sendiri pada dirinya.
.
.
Sementara itu di markas Lin.
Duduk seorang pemuda berwajah tampan berseragam anak SMA dengan tangan terikat, dan wajah dipenuhi memar. Di depan pemuda anak SMA tersebut duduk seorang pemuda dengan mata sipit, yaitu Lin.
“HAHAHA! Ternyata seperti ini didikan dari ketua geng motor paling kreak yang ada di Sumatera ini?” ejek Lin.
Sebut saja Dodi. Dodi menengadahkan wajahnya, dengan sebelah mata membengkak dan memar, Dodi menatap wajah Lin duduk di hadapannya.
“Ketua Andy adalah orang yang baik. Dia tidak pernah mengajarkan kami untuk saling bermusuhan dengan sesama geng motor yang tahu diri. Ketua hanya menyuruh dan menyiksa orang-orang yang kreak atau tidak tahu diri!” bela Dodi menekan nada suaranya.
“Berani sekali kau melawan Bos Lin!”
Bam!
Perut Dodi di beri bogem mentah oleh salah satu anggota Lin.
“Uhuk, uhuk!” Dodi batuk mengeluarkan darah.
Dody segera membersihkan darah mengalir di bawah bibirnya dengan cara menggesekkan wajahnya ke baju seram sekolahnya.
“Pengecut kalian semua! Beraninya main keroyok seperti ini,” lanjut Dodi mengumpat lirih.
Salah satu anggota Lin hendak melakukan penyerangan kembali kepada Dodi. Namun, Lin segera menghentikan anggotanya, karena Dodi terlihat sudah tak berdaya.
Dengan terpaksa anggota Lin melepaskan Dody. Lin pun segera membawa anggota keluar dari ruangan tersebut, dan mempersiapkan pertarungan balap liar untuk malam ini.
.
.
__ADS_1
Bersambung