
Dari malam bertabur bintang sampai pagi terdengar suara kukuruyuk ayam. Kedua mata Andy tak bisa terpejam memikirkan akan pergi untuk melihat baju pernikahan mereka pagi ini.
Melihat silaunya sinar matahari pagi melalui celah kain gorden jendela kamar. Andy membangkitkan tubuhnya dari ranjang tempat tidur, kedua kakinya pun turun, melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.
Mandi hanya 10 menit, berdiri di depan cermin selama 30 menit dengan sebagian tubuh masih berbalut handuk. Itulah yang kini Andy lakukan. Di atas ranjang dan lantai dipenuhi pakaian miliknya.
“Kenapa semua baju mendadak tidak bagus aku pakai, sih?!” keluh Andy suntuk.
Saking gugupnya hari ini, di kedua mata Andy semua baju dalam 1 lemari besar miliknya tidak ada bagus-bagusnya. Walaupun ada baju dan celana baru belum pernah ia pakai, tapi tetap saja di kedua matanya semua baju itu jelek.
Terlalu lama di dalam kamar, Khandar sampai mengetuk pintu kamar Andy.
“Andy, apakah kamu sudah bangun?” teriak Khandar sambil mengetuk pintu kamar.
“Sebentar, Pa!” sahut Andy dari dalam.
Karena sudah di panggil Khandar, Andy memilih baju kemeja dan celana baru belum pernah ia pakai.
“Kenapa kamu lama sekali?” tanya Khandar setelah Andy membuka pintunya.
“Bingung mau pilih baju bagus yang mana untuk aku pakai, Pa,” sahut Andy.
Khandar melirik singkat ke dalam kamar Andy. Dahinya mengernyit melihat ranjang dan lantai dipenuhi pakaian milik Andy.
“Sekarang kita makan, dan biarkan bibi yang membereskan baju-baju kamu,” ucap Khandar, kaki kanannya melangkah terlebih dulu, diikuti Andy.
Sebelum pergi menjemput Tina dan Karina, Khandar dan Andy menyempatkan diri mereka untuk sarapan, selesai sarapan barulah mereka pergi ke rumah Karina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman rumah Karina
Karina, Tina dan Junaidi terlihat sudah bersiap, mereka kini menunggu kedatangan Khandar dan Andy di ruang tv.
“Pak, bukannya bapak bilang mau bekerja, ya?” tanya Tina melihat Junaidi berpakaian rapih. Bukan berpakaian pabrik.
“Bapak baru ingat kalau hari ini adalah hari minggu. Bapak juga ingin ikut melihat-lihat pakaian pernikahan ala orang kaya, bu, yang akan di pakai putri kita,” sahut Junaidi tanpa malu.
“Bapak ini, malu tahu di dengar Karina,” tegur Tina menyikut lengan suaminya.
“Buat apa bapak malu dengan anak sendiri,” Junaidi mengalihkan pandangannya ke Karina. “Apa kamu malu melihat Ayah yang norak seperti Ayah kamu ini?” tanya Junaidi kepada Karina.
__ADS_1
“Tidak. Ayah tidak norak dan lain sebagainya. Malah Karina senang melihat Ayah bersikap seperti ini, Karina senang jika Ayah dan ibu ikut menerima kebahagiaan yang akan Karina rasakan,” sahut Karina.
“Kamu benar-benar sangat dewasa. Ibu sampai-sampai ingin menangis,” gumam Tina sembari mengusap bulir air mata di ujung matanya.
Di tengah-tengah kebahagian Karina dan kedua orang tuanya. Terdengar suara ketukan pintu.
“Assalamu’alaikum, Karina!”
Tawa dan canda Tina dan Junaidi sejenak terhenti setelah mendengar suara panggilan dari pemuda di luar rumahnya.
“Itu sepertinya nak Tama,” ucap Tina saat mendengar suara pemuda memanggil nama putrinya adalah Andy.
“Kalau gitu mari kita ke depan,” ajak Junaidi.
Junaidi dan Tina melangkah menuju ruang tamu, diikuti Karina.
“Wa’alaikumsallam,” sahut Tina setelah langkah kakinya sampai di depan pintu rumah.
“Apakah semuanya sudah siap?” tanya Khandar basa-basi.
“Sudah, kami semua sudah siap,” sahut Tina cepat.
“Karena semuanya sudah siap, mari kita masuk!” ajak Khandar.
“Karina, bu Tina dan kamu Andy, duduk di belakang, ya. Biar para bapak-bapak duduk di depan!” tambah Khandar memberitahu.
“Iya Pa,” sahut Andy.
Andy, Tina dan Karina masuk dan duduk di kursi penumpang belakang, sedangkan Junaidi duduk di kursi penumpang bagian depan.
“Sudah bisa saya laju kendaraan mobilnya?” tanya Khandar menatap Junaidi.
“Iya,” angguk Junaidi.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah Karina menuju gedung butik langganan mendiang istrinya.
1 jam menempuh perjalanan akhirnya mobil mereka terparkir di parkiran butik. Andy, Tina, Karina, Junaidi dan Khandar turun serentak.
Melihat gedung butik begitu mewah dan kokoh, kedua mata Junaidi dan Tina terus mengarah pada gedung berdinding kaca.
“Eh, eh, kalau butiknya semewah ini sudah pasti semua barangnya mahal nak,” bisik Tina sambil menarik-tarik lengan Karina.
__ADS_1
“Nggak juga kok bu. Kalau harganya mahal kita mendapatkan baju berkualitas bagus, bagi Karina itu tidak masalah bu,” sahut Karina mencoba menenangkan Tina.
“Kalau 1 baju sampai puluhan juta, gimana? Tabungan ibu sama Ayah kamu saja tidak sampai segitu,” bisik Tina cemas. Namun di dengar oleh Andy.
Andy menerobos, berdiri di tengah-tengah antara Karina dan Tina.
“Tenang saja, semua barang yang ingin tante dan Karina beli di sini, biar aku yang bayar,” celetuk Andy semangat.
“Jangan, cukup baju pernikahan saja. Entar kalau ibu borong baju di sini. Kamu bisa tekor, Atm kamu meleleh pula,” tolak Tina.
“Ya, padahal aku sudah banting tulang cari uang untuk Karina dan tante. Tapi tante malah berkata seperti itu,” memegang dada kirinya. “Rasanya aku ingin bunuh diri saja!” tambah Andy lesu.
“Ja-jangan, iya ibu akan memborong banyak baju di dalam,” ucap Tina takut akan ancaman Andy.
“Nah, gitu dong! Mari kita masuk ke dalam,” ajak Andy semangat.
Karina menggenggam tangan Tina, melangkah bersama ke dalam gedung butik. Khandar dan Junaidi juga ikutan masuk, melangkah bersama.
Sesampainya di dalam, Khandar di sambut hangat oleh seorang staf wanita berusia 35 tahun.
“Selamat datang Pak Khandar,” sambut wanita itu, lirikan mata mengarah pada Andy dan juga Karina. “Apakah kedua anak muda itu adalah calon pengantin yang bapak bilang?” lanjut staf wanita mengingat panggilan telepon mereka tadi malam.
“Iya,” angguk Khandar.
“Karena kedua calon pengantin ada di sini, gimana kita langsung saja melihat-lihat bajunya di atas,” ajak staf wanita itu.
“Mari, bu,” ajak Karina menggandeng tangan Tina.
Staf wanita itu melangkah terlebih dahulu, di susul Khandar, Junaidi, dan Andy. Setelah naik lift menuju lantai 3. Pintu lift terbuka, staf wanita itu kembali melangkah terlebih dahulu, lalu di susul Andy, Khandar, Junaidi, Tina dan Karina ikut keluar.
Staf wanita itu menghentikan langkahnya di tengah-tengah ruangan.
“Kalau untuk pakaian pengantin wanita ada di sana,” ucap wanita itu mengarahkan tangannya lurus ke depan. “Dan kalau pakaian untuk keluarga dan lainnya ada di sebelah sini,” lanjut wanita itu mengarahkan tangannya ke sisi kanan, kiri, dan belakang.
“Sepertinya kita lihat pakaian untuk calon pengantinnya dulu saja,” ucap Tina.
“Kalau begitu mari kita ke sana,” ajak wanita itu melangkahkan kakinya.
Sesampainya di sana kedua mata mereka di suguhkan pakaian pengantin dengan corak kain beragam yang tersusun rapih sesuai dengan warnanya. Tak henti-hentinya batin Tina terus melantunkan rasa syukur karena melihat perlakuan Khandar tidak membedakan putrinya.
.
__ADS_1
.
Bersambung