Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
65. Fitri


__ADS_3

Keesokan paginya.


Setelah mendapat pesan wa dari Andreas pagi-pagi sekali, Andy bergegas menuju perusahaannya lebih awal. Begitu sampai di Perusahaan, benar saja. Andreas ternyata sudah datang lebih dulu darinya.


“Dasar anak gila,” gumam Andy sambil keluar dari mobil, melangkah masuk ke Perusahaan.


Sesampainya di ruang kerja miliknya, Andy benar-benar disuguhkan pemandangan Andreas dan Fitri.


“Pagi bos!” sapa Andreas, tangannya melambai ke Andy berjalan masuk ke arah mereka.


“Bas bos bas bos,” gerutu Andy. Ia pun duduk di sofa single.


“Kau sudah baca pesan wa ku tadi pagi, kan?” tanya Andreas memastikan.


“Sudah,” sahut Andy singkat.


“Jadi, apa perlu aku perkenalkan siapa Kak Fitri?” tanya Andreas berbasa-basi.


“Gaya kali kau!” ketus Andy untuk Andreas. Andy mengalihkan pandangannya ke Fitri, dan mulai mengajaknya mengobrol. “Langsung ke intinya saja ya, kak. Aku mau tanya apakah Kakak bersedia bekerja di Perusahaan ku dan di bawah tekanan ku?” tanya Andy hati-hati, ia tak ingin melukai perasaan Andreas.


“Insyaallah siap. Kebetulan tadi malam Andreas telah memberitahu semuanya,” Fitri mengeluarkan map berisi ijazah dan kelengkapan surat lamaran lainnya. “Saya juga membawakan kelengkapan surat-surat untuk melamar pekerjaan di sini. Mohon di baca,” tambah Fitri memberi saran.


Andy mengambil map dari tangan Fitri, ia pun membaca isi kelengkapan lampiran surat lamaran milik Fitri untuk menghargai usaha keras Fitri membuat surat lamaran pekerjaan ke Perusahaan miliknya.


10 menit membaca lampiran surat lamaran, Andy meletakkan perlahan map tersebut di atas meja, lalu tangannya mengulur ke depan.


“Buat apa kau ulurkan tanganmu itu?” tanya Andreas bingung.


“Aku ingin mengucapkan selamat kepada Fitri, karena dirinya mulai hari ini keterima kerja di Perusahaan milikku, dan tentunya menjadi Sekretarisku,” jelas Andy tegas.


Tidak ingin tangan Fitri di sentuh oleh Andy. Andreas mengambil alih jabatan tangan Fitri, dan menaik-turunkan dengan semangat.


“Terima kasih, terima kasih banyak bapak telah menerima Kak Fitri bekerja di sini!” terima kasih Andreas mewakili Fitri.


Fitri hanya tertawa, sedangkan Andy berwajah masam.


“Hentikan jabat tangan ini sebelum lenganku putus,” gumam Andy, tatapan datar mengarah ke wajah tersenyum Andreas terus terpancar untuk Andy.

__ADS_1


Andreas segera melepaskan jabat tangannya, pandangannya kini tertuju pada Fitri duduk tepat di sebelahnya.


“Nah, mulai hari ini Kakak sudah bisa bekerja di perusahan Bos Andy. Ingat kak, kalau di dalam lingkungan Perusahaan, Kakak harus memanggilnya dengan sebutan apa?”


“Bos Andy,” sahut Fitri cepat.


“Gadis yang pintar,” puji Andreas memberikan senyuman manis.


Sudah terbiasa dengan candaan, dan tingkah Andreas. Fitri hanya bisa memberikan senyuman dan tawa kecil di bibir mungilnya.


Malas melihat Andreas terlalu lama di ruangannya. Andy mencoba menyindirnya agar segera keluar dari ruangannya.


“Cuaca pagi ini terlihat sangat terik. Apakah karena Matahari terlalu dekat dengan Bumi?” cetus Andy ambigu, tatapan sengit mengarah pada wajah senang Andreas.


Dengan polosnya Fitri berkata. “Sepertinya pagi ini sedikit mendung, dan kemungkinan akan turun hujan.”


“Pas sekali, kebetulan hari ini aku tidak ada pekerjaan di perusahaan. Gimana, kalau aku mengajari Kak Fitri di ruangannya,” cetus Andreas tiba-tiba, tangannya menggenggam pergelangan tangan Fitri. “Ayo kak, aku akan membantu kakak untuk memahami pekerjaan di Perusahaan ini!” lanjut Andreas ingin mengajak Fitri meninggalkan ruangan Andy, menuju ruangan kerjanya tepat di sebelah ruangan Andy.


Fitri melirik takut ke Andy. Andy membalas lirikan Fitri dengan anggukan.


“Kamu yakin bisa memberitahu saya bagaimana cara bekerja di Perusahaan ini?” tanya Fitri seolah tak yakin.


Masih belum yakin dengan ucapan Andreas. Fitri mengalihkan pandangannya ke Andy.


“Gimana, apakah kamu memberikan izin atas penawaran Andreas?” tanya Fitri memastikan.


“Iya, aku yakin kepada Andreas. Malah Andreas lebih pintar menangani semua pekerjaan di bandingkan aku,” sahut Andy yakin.


“Tapi ini, kan Perusahaan milikmu. Bukan milik Andreas. Bagaimana bisa Andreas mengetahuinya,” cetus Fitri masih belum yakin.


“Sedikit banyaknya, pekerjaanku di bantu olehnya. Andreas adalah pria yang handal dalam segala hal. Yakin aja Kakak sama dia,” jelas Andy.


“Baiklah,” gumam Fitri, pandangan tak yakin mengarah pada wajah senang Andreas. “Kalau gitu saya akan meminta bantuan kepada kamu,” ucap Fitri untuk Andreas.


“Gitu dong,” Andreas segera berlari kecil membuka pintu untuk Fitri. “Mari kita keluar ruangan ini, dan menuju ke ruangan kakak,” lanjut Andreas.


Setelah berpamitan kepada Andy, Fitri pergi ke ruangannya bersama dengan Andreas.

__ADS_1


Begitu pintu ruangan sekretaris di buka, Fitri membulatkan kedua bola matanya melihat ruangan kerja miliknya terlihat begitu nyaman dan tenang.


“Aku sudah meminta izin kepada Andy untuk merubah ruangan ini menjadi nyaman, agar Kakak bisa fokus bekerja,” cetus Andrea memberitahu.


“Ka-kamu yang melakukan ini semua?” tanya Fitri histeris.


“Untuk seorang wanita yang aku cintai, kenapa tidak,” sahut Andreas, tangannya mengulur ke dalam ruangan bernuansa serba biru laut, karena itu warna kesukaan Fitri. “Mari masuk kak,” lanjut Andreas mengajak Fitri masuk ke dalam.


Andreas dan Fitri masuk ke dalam ruangan. mereka berdiri di depan meja kerja Fitri. Berdiri saling berhadapan, memandang wajah satu sama lain begitu lekat.


“Terima kasih, ya,” terima kasih Fitri terlihat malu-malu.


“Ah, tidak perlu berterima kasih segala. Cukup balas perasaanku saja, kak,” sahut Andreas memberi penawaran.


“Dasar tukang gombal!”


“Aku serius kak,” Andreas memegang kedua tangan Fitri, berlutut dihadapan Fitri, “Maukah kakak menjadi calon istriku?” tambah Andreas melamar Fitri secara mendadak.


Sejenak Fitri terkejut mendengar lamaran Andreas, lalu ia ingat kembali kalau Andreas itu adalah pria yang tukang bercanda. Fitri pun menjadi tertawa terbahak-bahak.


“Sudah, sudah. Sebaiknya kamu hentikan candaan itu, dan lanjut mengajari aku gimana menjadi Sekretaris yang baik untuk Andy,” sela Fitri menghentikan ucapan Andreas.


Dengan wajah lesu Andreas perlahan beranjak dari berlutut, ia berjalan menuju meja kerja Fitri, dan menyuruh Fitri untuk duduk di kursinya.


“Sebaiknya kakak duduk dulu di sini. Biar aku mengajarinya dari bangku mini ini,” ucap Andreas menyuruh Fitri duduk di kursi besar, dan dia duduk di kursi lipat sudah ia bawa dari rumah.


Tanpa banyak bertanya, fitri duduk di sana, Andreas pun mulai mengajari Fitri gimana cara memindahkan data-data ke dalam komputer, dan bagaimana menyusun jadwal rapat dan jadwal penting lainnya.


Di tengah-tengah kesibukan Andreas mengajari Fitri di ruangannya. Terdengar suara satpam dari luar ruangan memanggil nama Andy.


“Ada apa itu?” tanya Fitri cemas.


“Sebaiknya kakak tunggu dulu di sini, biar aku saja yang pergi ke luar,” ucap Andreas tegas.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2