Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
64. Tina Menyuapi Andy


__ADS_3

Tina membawa Martabak Terang Bulan dan Martabak telor telah dipindahkan ke piring. Tak lupa membawa minuman hangat untuk mereka berdua.


“Harum aroma makanan ini membuat perut ibu keroncongan,” cetus Tina meletakkan kedua piring berisi Martabak di atas meja, dan minuman hangat.


“Benar, Martabak ini memang terfavorit,” sahut Andy mengambil martabak Terang Bulan dan memakannya.


Tina ikut memakan sambil mengobrol sejenak, menunggu Karina dan Junaidi kembali.


10 menit menunggu, akhirnya terdengar suara sepeda motor Junaidi terhenti di depan teras rumah.


“Assalamua’alaikum,” ucap salam Karina bersama Junaidi masuk ke dalam rumah.


“Wa’alaikumsalam,” sahut Andy dan Tina serentak.


Dari awal masuk sampai duduk di ruang tamu, Junaidi terus memandang sinis ke Andy.


“Kamu sudah lama datang?” tanya Karina mendudukkan dirinya di sofa single sebelah Andy.


Masih belum terima putrinya berpacaran dengan Andy. Junaidi sigap, mendekati Karina dan menyuruhnya duduk di sebelah Tina.


“Belum ada ikatan resmi. Jadi, tidak boleh sering-sering duduk berdekat-dekatan. Takut ada setan!” celetuk Junaidi, menyebut ‘Setan’ tepat di telinga Andy.


“Ya, selo lah Om!” cetus Andy, tangannya mengelus telinganya.


“Mana bisa aku selo di saat anak perawanku dekat-dekat dengan seorang pria yang pernah memfitnah ku,” ungkap Junaidi masih mengenang awal pertemuan tak menyenangkan mereka berdua.


Andy tidak berkata apa pun, bibirnya hanya menampilkan senyuman.


“Cengengesan kau!”


Sudah menganggap Andy seperti putra kandungnya, Tina mencoba mengalihkan keketusan Junaidi dengan mengambil martabak telor, hendak memberikan ke Junaidi.


“Bukannya Martabak telor ini kesukaan bapak?” tanya Tina berbasa-basi.


“Iya,” sahut Junaidi singkat, lirikan tajam masih mengarah pada Andy yang duduk di sisi kirinya.


“Kita makan bareng yok, Pak. Kebetulan ibu lagi pingin memakan Martabak telor seperti ini,” ucap Tina membujuk Junaidi, mengulurkan piring berisi martabak telor.


Andy pura-pura tak melihat.


Lupa kalau belum melaksanakan ibadah sholat isya, Karina meminta izin kepada Andy. Setelah dapat izin Karina meninggalkan Andy bersama kedua orang tuanya.


Masih dengan bujuk rayu Tina. Akhirnya, mau tak mau dan dengan terpaksa, Junaidi menerima tawaran sang istri.


Di depan Andy. Tina menyuapi makanan ke mulut Junaidi.

__ADS_1


“Buka lebar mulutnya sayang. AAA!” ucap Tina memasukkan sendok berisi martabak telor, dengan bibir ikutan melebar.


Junaidi malu-malu melahap makanan telah masuk ke dalam mulutnya.


“Awas kalau kau tertawa!” ancam Junaidi mulut penuh martabak telor.


“Yee, siapa juga yang mau ketawai Om,” gumam Andy mati-matian menahan tawa saat melihat Junaidi di suapi seperti bayi.


Bukan hanya Junaidi. Andy juga ikut kenak suapan dari tangan Tina.


‘Seperti ini rasanya jika memiliki seorang Mama. Walau tangan dan tubuhnya lebih kecil daripada tubuhku dan tubuh Om Junaidi. Kehangatan dan kasih sayangnya terasa sekali sampai meresap ke dalam hatiku. Oh Mama. Apakah aku bisa merasakan kasih sayang dari seorang Mama lain suatu hari nanti dari tangan tante Tina? Meski terlambat, aku yakin itu akan terjadi,’ gumam Andy dalam hati. Sorot matanya tertuju pada tawa dan candaan kecil terlontar dari bibir Tina.


Selesai menikmati makan Martabak. Junaidi dan Tina memutuskan untuk pindah nonton tv di dalam, membiarkan Karina dan Andy mengobrol berdua di ruang tamu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Nak Tama baik, ya Pak?” tanya Tina sambil menolehkan pandangannya ke samping, melihat wajah serius Junaidi menonton tv.


“Baik karena masih pertama. Coba nanti setelah menikah dengan Karina,” cetus Junaidi.


“Bapak ini tidak boleh berkata seperti itu. Cukup doakan yang terbaik buat anak-anak kita,” ucap Tina memberitahu.


“Intinya Bapak masih belum mempercayai pemuda itu sepenuhnya. Lihat saja ke depannya, bu!”


“Iya deh,” ucap Tina mengalah.


“Ayo, ibu sedang memikirkan apa?” tanya Junaidi mulai curiga setelah melihat senyuman aneh di wajah sang istri.


“Bapak setuju tidak? kalau nanti, setelah nak Tama melamar Karina, ibu menyiapkan jamu penyubur kandungan. Siapa tahu baru ajeb-ajeb di malam pertama, bulan depannya Karina sudah hamil,” tanya Tina meminta saran.


“Jangan ah, bu. Bagaimana kalau mereka menyobaknya setelah habis tunangan, dan bulan depannya Karina hamil?” Junaidi menggeleng. “Enggak, masih enggak bisa bapak bayangkan jika Karina mengandung sebelum resmi menjadi sepasang suami-istri,” tambah Junaidi dengan pikiran mesumnya.


“Iiih, bapak ini langsung pikiran jorok. Hal itu tidak akan mungkin terjadi, Pak!” tepis Tina mencoba berpikir positif.


Saking asiknya berdebat di ruang tv. Junaidi dan Tina tidak menyadari suara mereka sampai terdengar ke ruang tamu.


Andy dan Karina mendengarnya hanya bisa tertawa geli.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Tante dan Om lucu, ya?” cetus Andy di sela tawanya.


“Ayah sama ibu memang selalu seperti itu kalau sudah berduaan di rumah. Kamu harus memaklumi hal itu, ya,” sahut Karina menjelaskan.


“Kalau beneran berbuat dan kamu langsung hamil, aku mau tanggung jawab kok,” cetus Andy tanpa malu.

__ADS_1


“Ih, kamu mulai nakal ya!” cubit Karina.


“Aku nakal hanya sama kamu,” goda Andy sambil mencolek sebelah pipi Karina.


“Oh ya, kalau aku boleh tahu, kamu mengajar les private di mana aja?” tanya Andy teringat.


“Tidak jauh sampai ke Medan. Aku mengambil les private di rumah-rumah warga dekat sini aja,” sahut Karina.


“Dimulai ngajar dari jam berapa dan berapa rumah yang kamu datangi setiap harinya?” tanya Andy kembali.


“Hanya mengajar 2 rumah dan masing-masing 1 orang anak. Selepas sholat Ashar saya sudah standby di rumah satu murid. Menjelang magrib saya pergi ke rumah murid lainnya, habis itu pulang. Kira-kira seperti itu,” sahut Karina menjelaskan.


“Andai saja kamu mau menerima lamaranku dan kita menikah, mungkin pekerjaanmu tidak akan seberat ini,” gumam Andy lirih.


“Siapa bilang beban seorang istri setelah menikah itu ringan. Malah beban istri setelah menikah itu lebih bertambah. Mengurus suami, baik di dapur dan kasur. Mengurus anak, mengurus pekerjaan rumah, bangun harus lebih awal dan tidur belakangan setelah rumah terkunci aman,” ucap Karina menjelaskan.


“Menikah samaku tidak perlu melakukan hal seperti itu. Kamu cukup melayani aku di ranjang sama di kamar mandi saja. Terus di setiap harinya aku akan membuat kamu kelelahan agar kamu bisa beristirahat selama aku pergi bekerja,” sahut Andy serius.


“Iss, kejamnya. Masa ia kamu tega memperlakukan saya seperti itu. Apa kamu ingin membuat saya cepat meninggal dunia?”


Mendengar pertanyaan Karina, sontak saja membuat Andy teringat akan kepergian almarhum Mamanya meninggal dunia di saat dia masih bayi.


“Ti-tidak. Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal kejam seperti itu,” ucap Andy gugup. Andy melirik ke jam tangan miliknya. “Ternyata sudah hampir jam 10 malam. sebaiknya aku pamit pulang,” lanjut Andy berpamitan pulang.


“Mari, saya antar sampai ke teras rumah,” tawar Karina berjalan terlebih dahulu.


Sebelum melajukan sepeda motornya, Andy menyempatkan diri memberitahu Karina kalau besok Fitri akan segera bekerja di Perusahaan miliknya.


“Sayangku, Karina. Aku sudah memecat Haniffah, wanita bermuka dua itu. Sebagai gantinya Andreas meminta Fitri masuk menjadi sekretaris pribadi ku.”


“Alhamdulillah, kalau gitu bagus. Kebetulan Fitri lulusan kejuruan sekretaris dengan nilai terbaik,” ucap syukur Karina.


“Apa kamu tidak cemburu Fitri menjadi sekretaris ku?” tanya Andy.


“Cemburu itu sudah pasti ada. Tapi, saya lebih mempercayai kamu,” sahut Karina tenang.


“Kalau gitu, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum!” pamit Andy.


"Wa'alaikumsalam!" sahut Karina menatap kepergian Andy.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2