Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
14. Karina Salahpaham


__ADS_3

Andreas dan Karina telah memarkirkan sepeda motor milik mereka di parkiran apartemen. Karina menatap sekeliling apartemen terlihat mewah. Penasaran kenapa Andy bisa memiliki apartemen semewah ini, Karina diam-diam mulai mempertanyakannya kepada Andreas.


“Andreas,” panggil Karina sembari menyesuaikan langkahnya dengan Andreas.


“Bu Karina,” sahut Andreas seperti biasa memanggil nama Karina.


“Kalau saya boleh tahu, apakah apartemen ini pemberian dari Pak Khandar?" tanya Karina penasaran.


Andreas menghentikan langkah kakinya di depan lift, berdiri berhadapan dengan Karina.


“Bu, sebenarnya aku lupa lah!” celetuk Andreas.


“Lupa, kamu melupakan apa?” tanya Karina penasaran.


“Sebelum aku memberitahu kamar apartemen milik Andy, aku minta ibu harus berjanji untuk tidak memberitahunya kepada Om Khandar, ya?” sahut Andreas ingin mengikat janji.


“Iya, saya akan merahasiakannya dari Pak Khandar.”


“Begini, sebenarnya—” ucapan Andreas terhenti saat pintu lift terbuka.


“Mari ma…ANDY!” ajakan Andreas kembali terhenti saat melihat Andy berada di dalam lift.


Pertemuan mereka sontak saja membuat Andy membulatkan kedua bola matanya. Andy segera keluar dari dalam lift, menyeret Andreas sedikit menjauh dari Karina.


Karina sendiri hanya menatap kepergian Andy dan Andreas sejauh 1 meter darinya.


“Boda*t kau memang. Kenapa kau bawa dugong itu ke sini? Bisa-bisa dia mengetahui apa yang kita lakukan diluar dari lingkungan sekolah!” omel Andy.


“Gini-gini, pertama kau itu yang boda*t. Kedua, kenapa kau tidak mengaktifkan ponselmu? Apa kau kira aku ini anak dukun yang bisa tahu lokasi kau berada. Kayak mana kalau tiba-tiba kau itu mati, kau overdosis gara-gara frustasi. Kayak mana pula kalau kau itu tiba-tiba bunuh diri dengan cara jalan seperti orang bodoh ke arah rel kereta apai? Kayak mana?!” celetuk Andreas tak mau kalah memarahi Andy.


“Pa-paling kalau aku mati tinggal di tanam aja. Kenapa pula kau yang cemas?”


“Ya, cemaslah aku. Kayak mana dengan semua harta yang kau miliki dan harus kau tinggalkan di saat kau masih muda. Siapa yang mengelolanya? Apa kau mau menyerahkannya kepada Om Khandar?” sahut Andreas mencemaskan harta Andy, bukan Andy nya.


“Memang nggak ada pikiranmu. Yang aku pikir kau mencemaskan kesehatanku dengan tulus. Ternyata kau hanya memikirkan hartaku. Boda*t kau memang,” cetus Andy memasang raut wajah masam.


“Hehe, sudah pastinya aku cemas dengan hartamu itu,” ucap Andreas di sela tawanya.


“Jadi, buat apa dugong itu ke sini? Jelaskan padaku, cepat!” desak Andy.


“Aku rasa ibu Karina itu seperti bidadari tak bersayap. Hebat kali aku melihatnya. Tak perlu kau taulah kenapa aku bisa bilang seperti ini. Intinya tunjukkan saja kamar apartemenmu sama bu Karina,” sahut Andreas mengingat Karina mempertahankan Andy untuk tetap masuk sekolah agar bisa mengikuti ujian dan lulus.

__ADS_1


“Untung saja sudah aku bersihkan, kalau tidak. Mungkin aku akan terkena masalah baru,” gerutu Andy sembari melangkah menuju lift.


Sebelum masuk ke dalam lift, Andy melirik sejenak ke Karina dari atas sampai bawah. Jantung Andy tiba-tiba berdegup kencang melihat Karina begitu cocok memakai baju bekas peninggalan almarhum Mamanya.


‘Buset! Kenapa jantungku berdebar tak karuan seperti ini?’ batin Andy setelah ia masuk ke dalam lift, tangannya memegang dada kirinya.


Melihat Andy terus memegang dada bagian kirinya, Karina segera masuk ke dalam lift.


“Apa jantung kamu sakit?” tanya Karina cemas. Ia berfikir jika jantung Andy sakit.


Kedekatan Karina dan sentuhan lembut dari kedua tangan Karina menyentuh kedua lengannya, membuat debaran jantung Andy bertambah kencang 3 kali lipat. Tidak ingin Karina mendengar deguban jantungnya, Andy spontan mendorong Karina dengan kuat sehingga membuat Karina hampir terjatuh. Untung ada Andreas di belakang. Jadi tubuh Karina tidak sampai membentur dinding lift.


“Kenapa kau kasar sekali dengan bu Karina? Untung ada aku di sini. Kalau cuman kalian berdua, mungkin ku rasa bu Karina pulang tinggal jasadnya saja, dan kau kabur ke dalam gua!” cetus Andreas sembari membantu Karina berdiri.


“Ibu bisa berdiri dengan tegakkan?” tanya Andreas berlebihan ke Karina.


“Bisa dong! Pertanyaan kamu ini ada-ada saja,” sahut Karina diselingi senyuman dan tawa kecil dari bibir Karina.


Senyuman dan tawa Karina atas ulah Andreas membuat Andy cemburu. Andy segera menyikut Andreas, menggantikan posisi tempat berdirinya Andreas dengan dirinya.


“Kau kenapa?” tanya Andreas bingung.


Andy tidak menjawab, ia hanya melirik tajam ke Andreas, dan lirikan itu membuat Andreas terdiam sambil menekan tombol nomor 10.


Langkah kaki Andy terhenti di depan pintu kamar bernama ‘TAMA’. Andy menekan pin, pintu terbuka.


Andy mempersilahkan Karina untuk masuk.


Karina terdiam di depan ruang tamu, sorot matanya mendadak liar memandang sekeliling ruangan tersebut.


“Kenapa bu? Apa ada yang salah dengan apartemenku?” tanya Andy penasaran.


“Bukannya ini ruang tamu seperti yang ada di gambar itu, ya?” Karina balik bertanya karena ingat ruangan ini mirip dengan ruangan di foto tergantung di rumah ruko Andy.


“Iya. Kalau gitu, mari duduk di sana,” ajak Andy mempersilahkan Karina duduk di sofa.


“Ibu mau minum atau makan apa?” tanya Andreas menyelonong.


“Ibu minum jus jeruk atau air dingin putih juga tidak masalah,” sahut Karina.


Lagi dan lagi. Hanya sebuah pertanyaan kecil terlontar dari mulut Andreas sudah membuat raut wajah Andy sedikit berbeda. Andy segera mengambil alih penawaran Andreas.

__ADS_1


“Berisik banget sih, kau! Sudah duduk di sana atau pergi kemana kau. Ini rumahku, biar aku yang membuatkan minuman untuk kalian,” celetuk Andy sewot, kedua kakinya melangkah pergi menuju dapur. Sedangkan Andreas menuju kamar mandi.


Baru saja duduk, jari-jemari Karina tidak sengaja terselip di antara celah sofa. Merasa ada benda karet terselip di tengah-tengah, Karina menarik benda tersebut.


“AAAAA!” teriak Karina melihat benda tersebut ternyata sebuah alat pengaman bekas pakai. Karina langsung membuangnya ke lantai.


Andy dan Andreas spontan berlari ke ruang tamu.


“A-ada apa bu?” tanya Andy cemas.


“Apa ibu di ganggu kecoak?” tanya Andreas ikutan cemas sembari mengancing resleting miliknya belum ia kancing karena buru-buru keluar.


Karina menatap tajam Andy dan Andreas.


“Bisa jelaskan kenapa benda itu ada di sini?” Karina balik bertanya, menunjuk ke alat pengaman di lantai.


Andy dan Andreas saling memandang. Mengetahui jika alat itu adalah milik Andreas, ia pun buru-buru meraup nya, membuang ke tong sampah.


Andy meraup kasar wajahnya.


Benar-benar semuanya akan segera terbongkar.


“Andy!” panggil Karina terdengar horor.


“I-itu hanya balon karet model baru, bu!” sahut Andy.


“Jangan bohong dengan ibu, di dalam itu ada bekas lendirnya. Andy! Cepat katakan apa yang sebenarnya kalian lakukan di sini?” desak Karina.


Entah darimana datangnya, Andreas tiba-tiba nyelonong datang, bersujud di hadapan Karina.


“Ibu, maafkan aku. Itu adalah bekas milikku. A-aku janji tidak akan berbuat hal itu lagi. Aku janji tidak akan berbuat nakal lagi, bu!” janji Andreas membuat Karina tak percaya.


“Astaghfirullah al-adzim. Ternyata kalian berdua juga melakukan hal semacam ini di sini? Kenapa kalian melakukan hal keji seperti itu, apa kalian tidak kasihan dengan masa muda kalian berdua? Gimana kalau kalian berdua terkena penyakit. Saya benar-benar tidak habis pikir, ternyata kalian bukan hanya sekedar sahabat,” gumam Karina berpikir jika Andy dan Andreas berpacaran dan melakukan hal mesum.


“Eh! Ka-kami berdua melakukan hal itu?”


“Tidak! Ibu salah paham. A-aku bisa jelasin, bu!” ucap Andreas ketakutan.


Karina masih tidak menjawab, ia terdiam sambil menatap horor ke Andy dan Andreas.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2