
Jonathan, Alex, Ruth dan Tasya pun telah selesai makan, mereka langsung masuk ke dalam melihat keadaanku, saat mereka masuk, mereka terkejut melihatku hanya memakai selimut tanpa memakai baju. Selimutnya yang panjang berhasil menutupi kaki dan dadaku tapi hanya sampai bagian dada, Jonathan dan Alex yang kaget langsung memalingkan wajah karena melihat kakiku yang sedikit di buka tidak lagi memakai celana panjang hanya di tutupi selimut diolesi oleh minyak.
“Duh, kok gak pada bilang sih.” Ucap Jonathan menggerutu sambil menarik tangan Alex keluar dari ruangan.
Alex yang kaget wajahnya memerah seketika, berbeda dengan Jonathan yang hanya menggerutu.
“Kenapa lex?? Kok wajahmu merah gitu??” tanya Jonathan.
“Hah, enggak kok gakpapa aku. Aku ngerokok dulu ya.” Jawab Alex sambil duduk di trotoar puskesmas dan menyalakan rokoknya.
Di dalam Tasya dan Ruth menggantikan Irene dan Anggi.
“Kalian makan dulu gih, kita udah makan semua. Nanti kalau Jo udah selesai di pakaikan minyak kita kasih dia makan baru pulang.” Ucap Ruth kepada Irene dan Anggi.
“Iya Ruth, tolong ntar paksa aja dia makan ya Ruth.” Ucap Irene ke Ruth.
“Siap.” Jawab Ruth.
Irene dan Anggi keluar mengambil nasi bungkus yang ada di kursi dekat ruangan dimana aku di infus. Mereka menghampiri Jonathan dan Alex, melihat wajah Alex mereka bertanya.
“Bang, kenapa muka kau bang, kok merah kali ??” tanya Irene.
“Hah, gakpapa Ren” jawab Alex.
Jonathan tersenyum seperti tau apa yang sedang dipikirkan Alex. Jonathan kenal betul temannya, walaupun perawakannya seperti mafia namun Alex belum pernah melihat wanita sampai seperti itu. Alex bukan tipe cowo yang senang berpacaran dan ganti-ganti wanita yang dipacari, yang Jonathan tau Alex baru sekali berpacaran semasa kuliah dan itu pun di awal kuliah yang berakhir saat memasuki tahun ke-3 masa perkuliahan. Sampai saat ini sudah memasuki tahun ke-5 mereka kuliah Alex belum pernah berpacaran lagi dengan wanita lain walaupun banyak mahasiswi yang mendekatinya karena sifatnya yang cuek namun humoris.
Di dalam kamar pasien bu bidan dan Dessy mengoleskan minyak yang sudah diberi jeruk purut ke badanku, kata teman-temanku tatapanku kosong sampai semua minyak di balur kan ke tubuhku dan aku pun tertidur dengan sangat nyenyak. Tasya yang memang jiwa penasaran nya sangat tinggi bertanya ke bu bidan.
“Bu kenapa teman saya di kasih minyak seperti ini??” tanya Tasya.
“Di desa kami jika suhu badan seseorang sangat tinggi seperti ini harus dioleskan minyak dengan air jeruk biar dia tidak kejang. Tenang saja teman kalian hanya kelelahan, sebentar lagi dia juga akan bangun dan enakan, setelah itu kalian pulang untuk istirahat ya ini juga sudah pukul 7 malam seharusnya puskesmas sudah harus di tutup.” Ucap bu Diana.
“Oh seperti itu, baik bu.” Jawab Tasya.
Bu Diana keluar dari ruangan meninggalkan aku, Dessy, Tasya dan Ruth.
“Makasih ya des udah bantuin kita.” u,cap Ruth.
“Sama-sama kak.” Jawab Dessy.
“Kalau mau pulang, pulang aja des kita nanti naik angkutan umum aja.” Ucap Tasya.
“Oh iya kak, oia aku panggilkan becak ya kak. Bapakku punya becak nanti ku suruh bapak ke mari untuk jemput kakak-kakak ya.” Usul Dessy.
“Oh iya des, syukurlah kalau gitu. Makasih banyak ya des semoga Tuhan yang membalas kebaikanmu.” Ucap Tasya sambil tersenyum.
“Makasih kak, jangan sungkan jika ada apa-apa kakak bisa hubungi bapak sebagai antar jemput orang kakak jika kakak berkenan.” Ucap Dessy.
“Boleh des, mana nomor bapak kamu biar kalau kita mau ke kota naik becak bapak kamu aja.” Jawab Tasya.
__ADS_1
Dessy memberi nomor bapaknya ke Tasya.
“Kalau gitu aku permisi pulang ya kak.” Ucap Dessy.
“Iya des, hati-hati ya,” jawab Tasya.
“Hati-hati des,” sambung Ruth.
“Iya kak, sip.” Jawab Dessy.
Dessy keluar dari ruangan menuju depan puskesmas, sesampainya di depan puskesmas dessy permisi ke teman-temanku yang sedang di luar.
“Yuk bang, kak, saya permisi diluan ya.” Ucap Dessy.
“Oh iya iya hati-hati ya,” jawab Anggi.
“Hati-hati dek, makasih ya,” sambung Jonathan.
Irene dan Alex hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Setelah Dessy pergi, gak lama Ruth keluar memanggil teman-teman yang lain.
“Udah bisa masuk bang. Yok wee masuk aja udah malam” ucap Ruth ke teman-teman yang sedang menunggu diluar.
Aku yang tadinya hanya memakai selimut sudah dipakaikan baju kembali oleh bu bidan yang dibantu oleh Ruth dan Tasya. Setelah di oles minyak aku tertidur sangat pulas sampai dipakaikan baju pun aku tidak terasa sama sekali.
Alex, Jonathan, Irene dan Anggi masuk ke ruangan dimana aku di rawat. Mereka semua saling tatap hingga Jonathan bertanya ke Ruth.
“Kalau dia bangun, kita bisa bawa dia pulang kata bu bidan.” Jawab Ruth.
Jonathan hanya menghela nafas panjang dan duduk di dalam ruangan tersebut. mereka semua duduk dilantai menunggu aku terbangun.
Pukul 20.30 wib aku terbangun, badanku terasa sangat ringan biasa saja. Aku sampai kaget kenapa aku diinfus.
“Ren, Ren” ucapku sambil berusaha untuk duduk.
Irene yang mendengar suaraku spontan bangkit dari duduknya dan menghampiriku.
“Jo udah bangun, gimana?? masih pusing ??” tanya Irene sambil memegang tanganku.
“Aku gakpapa ren, kenapa aku diinfus tadi kan kita sedang duduk di aula terus jalan kemari aku pikir kalian mau observasi di puskesmas. Kenapa aku malah diinfus Ren??” tanyaku setengah panik.
“Hah, Jo kau tau kita jalan kemari??” tanya Irene balik.
“Iya tau, aku jalan di belakang Alex tapi Alex tidak mendengar ku saat aku memanggilnya.” Jawabku.
“Jo, jangan bercanda ah tadi kau itu pingsan.” Sambung Irene sambil menatap wajahku.
Entah kenapa aku tiba-tiba jadi takut dan merinding saat Irene menatapku, aku kembali menatap Irene tanpa kusadari air mataku jatuh aku takut, merasa sangat takut. Melihatku seperti itu Irene langsung memelukku.
__ADS_1
“Jo, it’s oke Jo. Gakpapa, kau gak kenapa-kenapa. Mungkin aku salah liat keadaan, sorry kita infus kau. Sepertinya tadi kau tidur terlalu lama jadi kami kira kau pingsan. Kau gak kenapa-kenapa Jo. Iya tadi kau jalan bareng kita sampe di puskesmas kau ketiduran kan iyakan??” ucap Irene menenangkan ku.
“Iya ren, aku ingat banget aku ketiduran di puskesmas kenapa diinfus Ren.” Jawabku.
“Sorry Jo, kamu tidur lama banget kami kira pingsan. Sorry ya jo jangan nangis oke.” Ucap Irene sambil memelukku semakin erat.
Teman-teman yang lain terkejut melihatku berkata seperti itu, mereka semua hanya terdiam dan termenung melihat Irene berbohong sambil menenangkan ku.
Mereka semua berdiri melihat ke arah Irene. Irene memberi kode ke mereka sambil memejamkan mata mengisyaratkan tidak usah cerita yang sejujurnya padaku saat itu. Yang makin aneh adalah minyak yang dioleskan ke tubuhku tidak berbekas tidak lengket ataupun licin di tubuhku seperti meresap sempurna ke tubuhku.
Seketika bu bidan masuk ke dalam ruangan.
“Nama kamu Joana ya??” tanya bu bidan padaku.
“iya bu.” Jawabku.
“Kamu lama juga ya tidurnya sampe buat teman-temanmu panik dan akhirnya memaksa saya untuk infus kamu, maaf ya neng sini saya cabut dulu infusnya.” Ucap bu bidan sambil tersenyum ke arahku.
Bu bidan melepaskan infus yang ada di tanganku.
“Kamu sudah boleh pulang, langsung pulang ke rumah ya. Saat tidur jangan matikan lampu dan jangan ada yang mandi malam-malam.” Ucap bu bidan pada kami semua.
“iya bu, terimakasih.” Jawabku.
Bu bidan keluar sambil tersenyum ke teman-temanku yang lain, sebelum keluar bu bidan sempat berkata.
“Syarat yang tadi jangan lupa malam ini, garamnya.” Ucap bu bidan ke arah Ruth sambil mengedipkan sebelah mata.
Kami semua hanya menganggukkan kepala sambil melihat bu bidan keluar.
“Garam apaan??” tanyaku penasaran.
“Enggak Jo, biasa di desa ada syarat kalau kita mau tinggal lama disini.” Jawab Ruth sambil tersenyum padaku.
“Oh gitu,” jawabku singkat, namun dalam hatiku aku merasa teman-temanku seperti menyembunyikan sesuatu dariku.
“Yaudah yuk kita pulang.” Ucap Anggi.
“Nyusahin lu, makanya kalau tidur jangan kayak mayat capek tau.” Ucap Alex sambil menatap sinis ke arahku.
“Apaan sih, gadak yang nyuruh kamu nungguin aku tidur juga tuh.” Jawabku ketus.
“Idih, bukannya bilang makasih malah ngomel. Tapi bagus deh udah sehat tandanya.” Ucap Alex sambil tersenyum kecil dan berjalan keluar.
“Yok lah pulang.” Ucapku sambil turun dari tempat tidur.
“Entar Jo kita pesan becak dulu jauh tau.” Jawab Irene.
“Tasya, telfon gih.” Ucap Irene.
__ADS_1
Tasya pun langsung menelepon tukang becak dan memesankan dua becak. Kami keluar dari puskesmas, sebelum ke depan aku menyelesaikan administrasi karena aku sudah di infus. Setelah itu kami permisi ke bu bidan dan menyusul teman lainnya. sesampainya di depan dua becak sudah menunggu kami, akhirnya kami pun pulang ke rumah dengan mengendarai becak salah satu angkutan umum di desa itu.
To be continue.