Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 35


__ADS_3

Setelah beberapa menit kami saling diam, Alex memulai percakapan dan mengurangi kecepatan kendaraannya.


"Jo, tadi kenapa nangis??" tanyanya.


Tanpa sadar aku semakin mendekatkan tubuhku ke Alex.


"Iya, aku tadi serasa mimpi tapi sangat nyata aku melihat sosok anak kecil di balik pintu sedang mengintip ke dalam kamar." Jawabku.


"Mimpi kali, tadi waktu aku lihat ke kamar kalian, kau tidur dengan sangat pulas." Ucap Alex.


"Iya kah, mungkin iya ya aku mimpi." Jawabku.


Padahal aku merasa sudah membuka mataku dan melihat ke arah pintu, namun yang di lihat Alex aku malah tertidur pulas. Aku sedikit lega karena mengetahui itu hanya mimpi.


" Oia ada yang mau ku tanya Lex." Ucapku.


" Apa??" tanya Alex.


"Waktu kemaren kita di cafe kau bilang kalau kau lebih mengenal Jesica di banding Jonathan, kau suka Jesica ya??" tanyaku kembali pada Alex.


Alex tertawa.


" Kok ketawa sih." Ucapku.


"Aku bukannya menyukai Jesica Jo, tapi Jesica sepupuku. Ya memang sepupu jauh dari tanteku tapi aku sudah mengenalnya dari kecil." Jawab Alex.


"Oh gitu, trus aku juga dengar kalau hubungan Jesica dan Jonathan putus nyambung emangnya udah berapa lama mereka pacaran??" tanyaku.


" Ih tumben kau kepo masalah kayak gini." Ucap Alex.


" Ya karena pernah menyangkut aku, kan gak salah aku tanya." Jawabku.


"Udah sampe, belanja aja dulu nanti aja kita gibah nya ya nyonya kepo, oke." Ucap Alex.


" Iya, iya." Jawabku sambil turun dari motor.

__ADS_1


Setelah aku turun dari motor, Alex pun langsung turun mengikuti di belakangku, aku yang fokus ke handphone ku untuk mengecek pesanan dan chatting teman-teman berhenti sejenak di depan pintu indomaret. Dari belakangku Alex menggapai pintu dan membuka pintu, karena dia tinggi aku tepat di bawah lengannya. Dia menyuruhku masuk yang membuatku kaget.


" Masuk buruan." Ucap Alex.


Aku yang kaget melihat ke arahnya menyatukan alisku.


" Sabar kenapa sih." Jawabku.


Dalam hati aku bergumam, " Wangi bener nih orang."


" Kan bisa di dalam liatnya." Ucap Alex setengah menggerutu.


" Iya, iya, terimakasih." Jawabku dan langsung masuk ke dalam karena sudah di bukakan pintu olehnya.


"Sama-sama nyonya." Jawab Alex sambil tersenyum.


Aku pun mengambil keranjang dan menyodorkan nya ke Alex.


" Tolong bantu pegangin ya abang kelas." Ucapku sambil tersenyum.


"Mau beli apa di Indomaret??" tanyaku.


"Kon**m." Jawabnya sambil berbisik di telingaku.


Spontan karena kaget ku pukul lengannya dengan keras.


" Apaan sih, bisik-bisik lagi jauh-jauh dariku dasar mesum." Ucapku sedikit keras.


Dia tertawa dengan kerasnya, sambil melihat ke arahku. Aku yang kesal merasa wajahku menjadi panas.


"Percaya lagi, pukulan mu kok kencang amat sih Jo sakit tau hanya beberapa jam samamu badanku udah biru-biru." Ucapnya sambil sedikit masih tertawa.


" Lebay, udah ah buruan mau beli apa." Ucapku dengan nada kesal.


" Aku cuma mau beli cemilan tau." Jawabnya.

__ADS_1


"Yakin?? rokok enggak??" tanyaku.


" Aku gk ngerokok ya." Jawabnya.


Aku hanya meliriknya seperti gk yakin.


" Tanya Jonathan kalau gk percaya, cover ku aja gini tapi aku gak suka konsumsi racun untuk tubuhku." Ucap Alex sambil berjalan mengambil makanan yang hendak di belinya.


" Oh. " Jawabku singkat.


" Hm." Balasnya.


Setelah itu kami langsung ke kasir membayar belanjaan kami yang semuanya di dulukan oleh Alex.


" Aku aja bayar terlebih dahulu biar gk ribet." Ucapnya.


Belanjaan kami sampai dua keranjang banyaknya.


" Setengah-setengah aja." Usulku.


" Yaudah deh terserah." Jawab Alex.


Akhirnya, Alex membayar satu keranjang dan aku satu keranjang. Setelah itu kami keluar dari Indomaret dan Alex mengajakku makan bersama.


" Yuk makan bakso dulu yuk Jo, pengen bakso nih." Ucap Alex.


" Oke boleh juga tuh." Jawabku.


" Oia nanti kita bungkus untuk teman-teman ya kasian mereka gak makan bakso." Ucapku sambil tertawa.


Memang disana ada beberapa warung jual bakso, tapi kami tidak pernah tertarik untuk singgah dan kali ini mumpung kami sedang ke kota kami menyempatkan diri untuk makan bakso.


" Oia ya hampir ku lupakan mereka." Ucap Alex sambil tertawa juga.


Kami pun melanjutkan perjalanan mencari tempat bakso yang menurut kami menarik untuk di singgahi. Kami menggunakan feeling karena juga tidak tau mengenai daerah tersebut.

__ADS_1


To be continue.


__ADS_2