Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 38


__ADS_3

Setelah aku selesai ganti baju, aku keluar dari kamar ternyata semua belanjaan sudah tergeletak di lantai dan mereka sudah memilih belanjaan yang mereka pesan dari grup chatting.


"Baksonya udah di panaskan Ren??" tanyaku pada Irene.


"Itu kuahnya lagi di panaskan sama Anggi." Jawab Irene.


"Jadi kenapa belanjaan ku di biarin gini Ren??" tanyaku pada Irene.


"Tinggal belanjaan mu dan Alex itu makanya kami biarkan dulu." Jawab Irene.


"Alex mana?? masih mandi??" tanyaku.


"Lagi di kamar pake baju." Jawab Irene.


"Oh." Ucapku.


Aku memilih belanjaan ku dan membawanya ke kamarku, sedangkan belanjaan Alex hanya ku letakkan di dalam plastik di atas meja.


"Jo, baksonya bayar sama siapa??" tanya Ruth.


"Tanya Alex aja Ruth, uang Alex itu." Ucapku dari dalam kamar.


Aku keluar kamar dengan membawa cemilan ku dan duduk di meja ruang tengah bersama teman-teman yang sedang makan bakso. Beberapa menit kemudian Alex datang mengambil kursinya dan duduk tepat di sebelahku.


"Di tanya Ruth tuh, uang bakso gimana??" tanyaku pada Alex.


"Baksonya makan aja ya junior-juniorku, tapi tidak dengan titipan kalian." Ucap Alex.


"Nanggung banget sih bang, sekali-kali gratis kek." Ucap Tasya.


Alex menatap Tasya dan berganti melirikku.


"Yaudah gakpapa, nanti Joana yang bayarin iyakan Jo." Ucap Alex sambil menatapku.


Aku langsung melihat ke arahnya yang sedang menatapku.


"Mana sini struknya??" tanyaku pada Alex.


Dia langsung memberikan struknya.

__ADS_1


"Selesai makan semua bayar ke aku ya, gakpapa punyamu gratis Lex tapi mereka semua setor ke aku oke." Jawabku sambil tersenyum.


"Emang otak bisnismu cepat kali berputar kalau soal uang." Ucap Alex.


Teman-temanku tertawa.


"Jo, tadi kalian kok lama kali kemana aja sih??" tanya Tasya ratu kepo.


"Makan bakso dulu, kelaparan dia." Jawabku sambil melihat ke arah Alex.


"Oh, sekarang kalian berdua kok makin dekat ya bukannya kau benci Alex ya Jo??" tanya Irene dengan sengaja.


"Emang kau benci aku??" tanya Alex sambil memutar kursinya ke arahku.


"Apaan sih, enggak kok." Jawabku.


"Yakin bisa benci aku?? setelah yang tadi kita lewati sama-sama." Ucap Alex menggodaku.


Ku lihat ke arahnya, ku pegang keningnya.


"Kau demam ya Lex kena hujan??" tanyaku.


"Kalian ngapain hah??" tanya Tasya.


"Belanja, makan bakso." Jawab ku pada Tasya sambil berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Alex.


"Lex lepas gak, nanti aku jatuh loh. Awas lah ah." Ucapku pada Alex.


Alex tersenyum melihatku, dia melepaskan tanganku. Entah mengapa aku rasa Alex menjadi berbeda, aku jadi semakin gugup berada di dekatnya. Jonathan hanya melihat ke arahku dan Alex tanpa banyak bicara.


"Gimana bang Jo sama Jesica?? udah baikan??" tanyaku agar Jonathan tidak diam saja.


"Sudah baik-baik saja, dia juga sudah menjelaskan semuanya." Jawab Alex.


"Oh baguslah." Ucapku.


Setelah mereka selesai makan, kami semua hitung-hitungan dan membayar sebagian ke Alex dan sebagian ke aku. Setelah semua membayar Alex berkata padaku.


"Mana uang bakso mu?? kan udah ku bilang kau gak gratis??" tanyanya padaku.

__ADS_1


Aku melihat ke arah Alex.


"Serius Lex??" tanyaku kembali dengan wajah memelas.


Alex tertawa melihat wajahku.


"Bercanda, bercanda, gak sanggup aku lihat wajahmu kayak anak kucing kelaparan." Ucapnya sambil tertawa.


Ternyata dia masih sangat menyebalkan. Ku pukul lengannya dengan keras.


"Aduh, ya Tuhan tenaga mu kok full terus sih." Ucap Alex.


"Makanya jangan nyebelin." Jawabku.


"Baru beberapa jam bareng si Joana ini badanku udah biru-biru." Ucap Alex sambil nyemil coklat yang di belinya.


"Tanda bang, supaya gak lupa." Ucap Irene pada Alex.


"Benarkah Jo??" tanya Alex.


Aku hanya melirik Alex tanpa menjawab. Kami bercerita saling bercanda bersama, aku dan Jonathan tidak saling diam lagi namun tetap saja ada yang berbeda, kami saling menjaga jarak agar tidak terjadi salah paham lagi. Tapi hal itu ku abaikan karena Alex selalu mencairkan suasana saat kami bersama-sama.


Di desa ini kami sudah memasuki hari yang ke-11, namun selama berada di desa aku baru sekali mencuci pakaianku. Pakaianku yang harus di cuci sudah sangat menumpuk, aku ingin pergi ke laundry tapi sangat jauh dari kos. Teman-temanku yang rajin mencuci hanya Anggi dan Irene,Tasya dan Ruth sama-sama malas mencuci baju mereka sudah lebih dulu bolak balik laundry dengan menggunakan sepeda motor Alex. Sedangkan Alex dan Jonathan dari hari pertama mereka selalu pergi ke laundry ekspres yang siap dalam 2 jam.


"Lex kapan ke laundry lagi??" tanyaku pada Alex.


"Besok, kenapa??" tanya Alex kembali padaku.


"Aku ikut, nebeng." Jawabku.


"Boleh, 50 ribu ongkos pergi, 50 ribu ongkos pulang." Ucap Alex.


Ku lirik dia sambil berkata, "Oh sekalian gojek ya bang." Ucapku sambil tersenyum.


"Iya neng." jawabnya menggoda ku dengan mengedipkan matanya.


"Udah gausah sok ganteng, pokoknya besok aku ikut ya Lex." Ucapku sembari berdiri ingin jalan ke kamar.


"Aku masuk kamar luan ya, pengen rebahan. Aku di luan ya." Ucapku kepada semua yang ada di situ.

__ADS_1


Mereka hanya mengangguk kan kepala dan aku pun bergegas masuk ke kamar, namun pintu kamar tidak ku tutup. Ya benar, aku takut jika sendirian di kamar jadi ku buka saja pintu kamar agar tidak merasa sendirian.


To be continue.


__ADS_2