Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 64


__ADS_3

Aku dan Alex berkeliling desa mencari makanan-makanan yang di pesan teman-teman, kami singgah ke tiga warung, karena pesanan teman-teman yang bervariasi. Saat diperjalanan menuju kos, Alex memberikan satu kantong plastik coklat yang tadi di belinya.


"Tadi sayang lupakan bawa ini ke rumah, kayaknya coklatnya meleleh deh." Ucap Alex.


Aku menerima bungkusan itu.


"Jadi ini emang untuk aku??" tanyaku memastikan sambil melihat ke arah Alex.


"Iyalah sayang, jadi untuk siapa." Jawabnya.


"Terimakasih.." Ucapku tersenyum sumringah.


Akhirnya kami pun sampai di depan rumah, saat aku mau turun Alex menahanku turun.


"Gitu aja terimakasihnya." Ucap Alex padaku.


"Jadi gimana??" tanyaku.


Alex menunjuk pipinya. Aku yang paham maksudnya langsung mencium pipinya dan tersenyum. Alex tersenyum sumringah. Kami pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


Saat di depan pintu rumah aku melihat ibu kos yang sedang berada di dapur sedang berjalan. Aku bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Eh tumben ibu kos lagi di rumah." Batinku.


Aku langsung masuk ke dalam rumah, teman-temanku sudah menunggu di ruang tengah dan mereka sibuk dengan handphone masing-masing. Ku lihat di meja sudah ada minuman dingin, piring dan sendok.


"Wee ayo makan dulu." Ucapku.


Mereka langsung meletakkan handphone dan mengambil makanan di dalam plastik. Namun ada yang aneh dengan mereka semua, mereka diam tanpa ada yang berbicara.


"Mereka kenapa ya, aneh banget." Batinku.


Aku melihat ke arah Alex, dan sepertinya Alex juga menangkap maksudku. Aku dan Alex saling tatap-tatapan dan akhirnya kami memilih makan dan diam.


Yang anehnya lagi, suasana malam ini tidak seperti biasanya, aku merasa malam ini lebih dingin tapi mencekam. Walaupun aku merasa aneh, aku sama sekali enggan menanyakan dan bicara pada teman-teman dan aku pun memilih diam.


"Piringnya kita taruh di sini aja ya, besok aja kita cuci, sekarang kita langsung ke kamar yuk semua." Ucap Ruth dan langsung bergegas berdiri membuka kamar.


Teman-teman yang lain pun langsung masuk ke kamar tanpa bicara begitu juga dengan Jonathan. Aku dan Alex pun langsung ikut cepat-cepat masuk ke kamar, tapi aku membawa teko yang masih berisi banyak minuman dingin. Sayang pikirku jika di tinggal begitu aja, aku hanya membawa satu gelas.


Begitu kami semua masuk kamar dan aku yang terakhir masuk kamar, Ruth langsung berdiri lagi cepat-cepat menutup pintu kamar dan menguncinya. Aku yang bingung lihat tingkah Ruth pun jadi merasa takut.


"Ada apa sih sebenarnya." Batinku, tapi lagi-lagi aku tidak bicara menanyakannya aku hanya berdialog di pikiranku saja.

__ADS_1


Aku langsung melihat ke arah Alex, Alex yang paham maksudku langsung menggelengkan kepala mengisyaratkan dia juga gak ngerti.


Malam itu yang lebih anehnya lagi, teman-temanku hanya duduk, menunduk bersandar di dinding kamar tanpa bicara. Karena penasaran Alex menegur Jonathan dengan memukul lengannya.


"Jo, ada apa, kenapa kok pada diam gini??" tanya Alex.


Jonathan hanya melirik Alex dan mengisyaratkan ke Alex untuk diam. Aku semakin panik melihat tingkah Jonathan, aku langsung mendekat ke Alex dan memegang tangannya, karena teman-temanku pada aneh.


Begitu ku genggam tangan Alex, Alex kaget karena ternyata tanganku sudah sedingin es.


"Sayang, tangan kamu kok dingin banget??" tanya Alex spontan dan langsung menggenggam tanganku lebih erat.


"Aku takut, teman-teman kenapa sih." Ucapku bergetar.


Alex melihat ke arah teman-teman dan mulai memelukku karena tubuhku mulai gemetar takut dengan keadaan mencekam ini.


Ada apa ya sebenarnya??


To be continue.


Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Jangan lupa dukung cerita saya dengan memberi like, komen, share, hadiah dan tambahkan juga ke favorit teman-teman, Terimakasih ❤️❤️.

__ADS_1


Maaf ya teman-teman aku baru bisa update, maaf karena telat 😇❤️.


__ADS_2