
Jane tidak hanya membukakan dan menyediakan makanan untuk Alex, dia bahkan melihat ke arah Alex terus saat makan.
Jane terus mengajak Alex untuk mengobrol.
"Mama kemarin ada chat aku." Ucap Jane.
"Oh iya??" ucap Alex.
"Iya, kata mama kapan main ke rumah lagi, emang sih aku yang chat mama duluan karena pengen tanya kabar kamu." Ucap Jane.
"Kenapa harus chat mama, kan bisa tanya Jesica atau Jonathan." Ucap Alex.
"Ya gakpapa kangen aja sama mama." Jawab Jane.
Aku yang juga duduk di samping Alex berusaha untuk tidak melihat atau pun melirik ke arah Jane. Aku tetap menunduk fokus dengan makananku yang sulit ku telan.
"Kamu masih suka pasta kan??" tanya Jane kembali pada Alex.
"Masih." Jawab Alex.
"Sepulang dari sini aku masakin kamu pasta ya." Ucap Jane.
"Gak usah Jane, Terimakasih." Jawab Alex.
"Dulu kamu suka sekali pasta masakan aku." Ucap Jane sambil tersenyum menatap Alex.
Tiba-tiba Jane mengusap sesuatu di dekat bibir Alex. Alex yang kaget hanya melihat Jane dan menghindar tanpa bicara sepatah kata pun.
Karena aku udah enek mendengar dan melihatnya, aku semakin tidak bisa menelan makananku, rasanya aku ingin muntah. Aku pun mengambil minumanku, meminumnya. Aku bangkit berdiri membawa makananku, sebelum aku mau jalan ke dapur Alex menarik tanganku.
"Mau kemana??" tanya Alex.
Spontan semua orang melihat ke arahku.
__ADS_1
"Mau taruh piring di belakang." Jawabku singkat.
"Kan belum habis makanannya, makan dulu." Ucap Alex kembali.
"Kepalaku pusing aku mau tidur aja." Jawabku sambil melepaskan tangan Alex dari tanganku perlahan.
Aku berjalan ke dapur membuang sisa makananku di belakang, mencuci piring dan gelasku. Aku ke kamar mandi mencuci tangan dan kakiku, dan kemudian masuk kamar tanpa mengucapkan apapun pada mereka.
Aku menutup pintu kamar, rasanya aku ingin sekali marah tapi seperti ada yang menahanku. Karena kesal dan sakit hati aku menangis dan membuka cincin dari kakek tanpa sadar yang ku letakkan di atas meja di kamar itu.
Aku menangis karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa bahkan tidak bisa menegur Jane padahal sudah jelas saat ini Alex adalah kekasihku. Aku terus meluapkan amarahku dalam tangisan dan kemudian semua menjadi gelap, sangat gelap tidak ada cahaya sedikit pun, kemudian aku merasakan udara dingin menusuk kulitku.
Badanku terasa sangat lemas, aku merasa tidak berdaya. Sayup-sayup ku dengar banyak suara. Suara yang terus memanggil namaku, kali ini ku dengar suara pria paruh baya dan aku mengenali suara itu.
Aku mendengar suara kakek Alex memanggil namaku, ku buka mataku perlahan ku lihat wajah Alex di atasku dengan raut yang sangat pucat. Ku pegang wajah Alex ingin bertanya kenapa tapi suaraku tidak bisa keluar.
Aku merasakan dingin kembali, dingin yang luar biasa menusuk kulitku dan ku lihat semuanya gelap kembali.
Beberapa jam kemudian.
Ku lihat ke kanan, ku lihat wajah Alex tepat di sampingku sedang tertidur. Ku sentuh wajah itu dan dia terbangun.
"Sayang sudah bangun." Ucap Alex dengan wajah panik dan kemudian dia langsung duduk.
"Kita dimana??" tanyaku.
"Di rumah kakek." Jawab Alex.
"Di rumah kakek??" tanyaku memastikan.
"Iya sayang." Jawab Alex sambil mengelus pipiku.
"Kenapa bisa disini?? teman-teman mana??" tanyaku.
__ADS_1
"Mereka sedang di ruang makan sarapan bersama kakek." Jawab Alex.
"Kenapa kita semua bisa disini??" tanyaku kembali.
"Nanti aku jelaskan, sekarang sayang makan dulu ya. Ini udah di buatkan bude bubur kacang hijau." Ucap Alex.
"Bude yang buat??" tanyaku kembali seperti orang kebingungan.
"Iya sayang." Jawab Alex sambil membantuku duduk dan menyandarkan kepalaku dengan bantal.
Aku duduk, Alex menyuapiku bubur kacang hijau. Aku yang teringat cincin yang ku letakkan panik melihat jariku, setelah ku lihat cincin itu di jariku aku merasa tenang.
"Kenapa cincinnya sayang lepas??" tanya Alex.
"Tidak, ini sedang ku pakai." Ucapku sambil menunjukkan jariku.
"Itu karena aku yang memakaikannya ke sayang." Jawab Alex.
Aku menunduk.
"Maaf aku kesal jadi ku letakkan di meja." Jawabku.
"Sayang, aku hampir saja kehilangan sayang." Ucap Alex dengan nada seperti menahan air mata.
Aku mengambil mangkok bubur di tangan Alex meletakkannya di meja dekat kasur, aku memeluknya.
"Aku minta maaf, tidak akan ku ulangi." Ucapku walaupun aku tidak tau apa yang terjadi tapi saat Alex mengatakannya hatiku terasa sangat sedih.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa aku bisa berada disini." Banyak pertanyaan di kepalaku.
Aku menunggu Alex atau yang lain bercerita padaku tentang apa yang terjadi.
To be continue.
__ADS_1
Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Dukung cerita saya dengan like, komen, share, vote dan tambahkan ke favorit teman-teman ya. Terimakasih ❤️.