Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 67


__ADS_3

Kami sarapan coklat sambil saling bercanda dan tertawa, tanpa terasa sudah pukul setengah 7. Kami pun memutuskan untuk bersiap karena akan melakukan sosialisasi, sebelum kami melaksanakan program kami. Sosialisasi kami yang terakhir ini bertujuan untuk memberitahukan masyarakat tentang program yang akan kami bangun di desa ini. Mengenai penanggulangan serta daur ulang sampah.


Hari ini kami sangat senang karena tidak lagi melakukan penelitian jalan kaki atau mengendarai becak. Karena Alex membawa mobilnya jadi kami akan naik mobil Alex tanpa mengeluarkan ongkos. Ya jadi kami senang akhirnya bisa lebih hemat.


Jam 8 kami semua sudah selesai dan berkumpul di ruang tengah, sebelum kami pergi kami ngecek keadaan rumah, mengunci jendela dan pintu. Karena kejadian semalam kami jadi sedikit parno, iya jika ibu kos yang datang jika orang lain itu sangat berbahaya pikir kami.


Kami melakukan sosialisasi terakhir kami di aula desa dengan perangkat desa dan beberapa perwakilan dari warga yaitu kepala lingkungan setiap dusun. Kami menyampaikan program kami syukurnya mereka setuju dan memberi kami izin.


Di desa ini ada 5 dusun, di desa ini kami ada dua kelompok yang berbeda program. Kelompok kami mengenai lingkungan yang memang menjadi masalah utama desa, sementara kelompok kedua mereka berfokus pada budaya yang harus tetap di lestarikan dan di jaga.


Karena sudah mendapatkan izin, kami pergi ke kota untuk membeli peralatan serta barang-barang yang diperlukan untuk melaksanakan program kami.


Karena perjalanan cukup panjang, kami para wanita tertidur dengan pulas. Tanpa terasa kami sudah sampai di pasar, melakukan sesi dokumentasi setelahnya membeli peralatan dan barang. Setelah selesai membeli semua peralatan kami sepakat untuk makan siang di pantai, karena dari pasar ada pantai yang terkenal dengan masakan seafoodnya yang hanya 15 menit dari pasar.


Sampainya di pantai, kami memesan pondok serta makanan untuk kami makan siang. Di pantai yang kami singgahi ini cukup unik setiap pondok ada 5 baris dan itu milik perorangan, jadi setiap pondok yang berbeda akan memiliki menu makanan yang berbeda juga. Makanan di pantai ini bervariasi, namun kami juga bisa memesan makanan lain selain yang disediakan pemilik pondok dengan syarat sudah membeli paket makanan yang disediakan pondok dimana kami tempati untuk istirahat.


Karena masih memesan makanan aku dan Alex jalan berdua menyisir tepi pantai bersama. Kami berjalan bersama sambil ngobrol bersama. Aku membuka pembicaraan.


"Sayang, kenapa wajahnya tadi pagi bingung gitu waktu tau pintu belakang gak di kunci??" tanyaku pada Alex.


Alex belum memberitahu ku masalah sesajen persembahan yang ada di kamar tepat di belakang kamar kami. Sewaktu kami jalan bersama disitulah dia menjelaskannya padaku.


"Sebenarnya ada yang belum aku ceritakan ke kamu,soal sesajen yang ada di kamar ibu dan bapak kos yang berada tepat di belakang kamar kalian. Ingat gak yang Tasya cerita cium bau wangi melati dan amis di dinding??" tanya Alex.

__ADS_1


"Iya ingat." Jawabku.


"Kakek udah bilang padaku sebelum Tasya cerita emang ada sesajen di kamar dekat kamar kalian. Ada sesajen bunga dan darah dalam kendi, dan jadi target mereka antara kamu dan Anggi. Karena Anggi pernah di nampakkan sosok wanita berwajah rusak yang duduk di plafon rumah." Ucap Alex.


"Jadi Anggi bagaimana, kakek sudah memberiku penangkal tapi Anggi kan tidak." Ucapku.


"Tenang sayang, Anggi sepertinya bukan dari keturunan biasa leluhurnya sangat kuat yang menjaga Anggi. Maka dari itu kakek hanya meminta kamu yang datang." Jawab Alex.


"Syukurlah kalau gitu." Ucapku.


Handphone Alex berdering ada panggilan masuk. Alex melihat ke handphonenya.


"Siapa??" tanyaku penasaran.


"ngapain nelpon kamu??" tanyaku sinis.


"Gatau nih, bentar ya aku angkat dulu." Jawab Alex.


Aku gk bisa liat layar handphonenya karena gelap, jadi aku percaya saja apa yang di ucapkannya. Jujur aku sangat kesal, aku langsung jalan menuju pondok melewati Alex. Saat melihatku jalan melewatinya, Alex menarik tanganku.


"Tunggu aku, kita sama-sama." Ucap Alex.


"Padahal tadi manggil aku sayang, sekarang enggak karena lagi telepon sama mantannya, nyebelin banget sih." Batinku sambil ku tatap dia.

__ADS_1


Karena aku kesal, langsung ku lepas tangannya yang menahan tangan ku, aku berjalan meninggalkan Alex.


"Sayang... sayang... tunggu, itu bukan mantanku. Itu Jonathan nyuruh kita ke pondok karena makanan sudah datang, aku serius jangan marah." Ucap Alex.


Aku berhenti dan menoleh ke arahnya, ku lihat dia tertawa dan akhirnya berlari memelukku.


"Jangan gitu natapnya, aku takut." Ucap Alex.


"Mana buktinya itu Nathan??" tanyaku.


Dia buka handphonenya, dia naikan kontras cahaya layarnya dan benar saja nama Jonathan di panggilan masuk akhir. Aku meliriknya sinis.


"Lucunya pacarku cemburu." Ucap Alex sambil mencium pipiku.


"Gendong aku sampe ke pondok, itu hukuman untukmu." Ucapku.


"Dengan senang hati tuan putri." Jawab Alex.


Dia pun menggendongku di punggungnya dan berlari menuju pondok, aku yang kaget karena dia berlari memeluknya erat dan kami pun tertawa bersama.


To be continue.


Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Dukung cerita saya dengan like, komen, vote, share dan tambahkan ke favorit ya teman-teman agar saya lebih semangat lagi untuk terus update setiap hari. Terimakasih ❤️.

__ADS_1


__ADS_2