Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 42


__ADS_3

Selama di perjalanan kami semua tertidur. Sesampainya di gapura Desa Tanjung Beringin ibu membangunkan ku.


"Kak, bangun kak kita sudah sampai gapura Desa. Dimana rumah ibu kos kalian??" tanya ibu.


"Iya bu, terus saja bu. Rumah ibu kos pas di pinggir jalan bu kira-kira 15 km lagi dari sini bu." Jawabku.


"Ya sudah tidurlah lagi nanti ibu bangunkan ya." Ucap ibu.


Aku pun tidur kembali, karena memang masih lumayan jauh dari gapura itu. Teman-temanku yang lainnya terbangun.


Beberapa menit kemudian Ruth berkata.


"Bu, di dekat warung itu, sebelahnya itu rumah ibu kos kami." Ucap Ruth.


"Oh ini kan nak??" tanya ibu memastikan.


"Iya bu." Jawab Ruth.


Sesampainya kami di depan rumah, motor Alex sudah terparkir di teras. Pintu rumah pun terbuka lebar. Ibu dan ayahku berjalan di depan, kami mengikuti dari belakang.


"Silahkan masuk bu, pak." Ucap Alex.


Ibu dan ayahku masuk dan duduk di ruang tengah, aku langsung masuk ke kamar untuk meletakkan barang-barang ku.


Aku berjalan dari kamar menuju ruang tengah, ku lihat di meja sudah tersedia makanan, cemilan dan minuman segar.


"Wah siapa yang sediakan ini??" tanyaku melirik Alex.


"Menurut mu siapa selain aku dan Jonathan." Jawab Alex.


"Tumben.." Ucapku.

__ADS_1


"Sudah duduk sana, makan dulu kita semua." Ucap Alex.


Kami semua duduk di ruang tengah makan bersama ayah dan ibuku sebelum mereka pulang ke rumah.


"Ibu kos kalian dimana??" tanya ibu.


"Ibu kos menginap di rumah mertuanya ma, karena mertuanya sedang sakit. Sesekali saja dia mampir ke rumah." Ucapku.


" Oh begitu, kalian jangan macem-macem disini ya." Ucap ibuku.


"Iya ma, kami hanya fokus mengerjakan laporan ma. Di rumah ini kami hanya tidur selebihnya kami bekerja di luar kok ma." Ucapku meyakinkan ibuku.


"Baguslah." Jawab mama.


"Kenapa tidak pakai piring dan gelas ibu kos kalian??" tanya ibuku kembali.


"Kami jarang makan di rumah seperti ini ma, baru kali ini jadi kami segan menggunakan piring dan gelas ibu kos, lagian seperti ini juga bisa makan kan." Ucapku.


Setelah selesai makan dan istirahat sebentar ibu dan ayahku berpamitan untuk pulang, mereka memberiku uang jajan tambahan dan memelukku sambil berkata.


"Baik-baik disini ya kak, kalau kakak sakit lagi ayah dan mama akan bawa kamu pulang. Mengerti." Ucap Ayah.


"Iya yah." Jawabku.


Ibu menghampiri Alex dan berkata padanya sambil memegang tangan Alex.


"Jangan terlalu di pikirkan ya nak Alex, jangan merasa bersalah seperti yang ibu bilang bukan karena hujan dia sakit. Jika kamu terus merasa bersalah ibu mau kasih tugas untukmu. Jaga putri ibu ya selama disini, ibu titipkan dia padamu karena ibu lihat kalian sepertinya dekat." Ucap ibu sambil melihat ke arahku dan kembali melihat Alex.


"Baik bu, hati-hati di jalan." Ucap Alex sambil tersenyum.


"Ma, apaan sih ma." Ucapku.

__ADS_1


Begitu ibuku melepas tangan Alex, ibu langsung ku gandeng untuk keluar dari rumah ibu kos. Di luar ibu memelukku kembali dan berbisik padaku.


"Mama tau kamu tertarik dengannya dan tatapannya untukmu juga berbeda, mama sudah berpengalaman sayang dan lebih lagi mama adalah ibumu." Ucap ibuku.


"Mama..." Ucapku sedikit keras.


Ibuku tertawa kecil dan masuk ke mobil bersama ayahku. Ibuku memang sedikit jail dan terlebih lagi dia sangat bisa membaca ku, apapun yang kurasakan ibu selalu cepat tau.


Ibu dan ayahku sudah jalan menuju rumah, aku sedikit lama berdiri di luar karena malu mau masuk ke dalam rumah akibat ucapan ibuku pada Alex.


"Huh dasar mama." Ucapku dalam hati.


Dengan berat hati, aku masuk ke dalam rumah dan benar saja begitu aku masuk Irene dan Tasya berkata.


"Lampu hijau, lampu hijau.." Ucap Irene.


"Gas kan lah, gas." Sahut Tasya.


Yang lainnya hanya tersenyum, termasuk Alex yang juga ikut tersenyum sumringah.


Aku hanya melirik Irene dengan sinis.


" Aku masuk ke kamar dulu ya teman-teman, aku ingin istirahat." Ucapku.


Sebenarnya aku hanya ingin menghindari Alex saat ini karena sangat malu dan membuatku gugup di depannya. Jadi aku memutuskan untuk tidur, dan waktu masih menunjukkan pukul 14.00 siang.


Entah karena pengaruh obat yang ada di infus atau memang karena lelah, begitu sampai kamar dan golek aku langsung tertidur dengan sangat pulas.


Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya ya, apakah teror akan mereda atau makin berbahaya??


To be continue.

__ADS_1


Terimakasih untuk semua pembaca setiaku, dukungan like, komen,vote, hadiah dan favorit kalian adalah semangatku.


__ADS_2