
Akhirnya kami sampai di rumah setelah berjalan pagi dan mencari sarapan, karena hari ini hari minggu hari dimana kami istirahat, maka kami tidak melakukan kunjungan untuk wawancara dengan masyarakat. Setelah kami semua selesai mandi pagi, kami bingung dan merasa bosan tidak ada kegiatan di rumah, kami memutuskan untuk bersih-bersih seluruh rumah.
Alex dan Jonathan membersihkan kebun, aku, Irene dan Ruth membersihkan rumah. Anggi dan Tasya membersihkan belakang rumah. Setelah semua pekerjaan beres kami selesai tepat pukul 13.30 wib, karena mulai lapar aku dan Ruth pergi mencari makanan untuk kami makan bersama, yang lainnya menyiapkan minuman dingin di rumah.
Sesampainya aku dan Ruth di rumah, mereka semua sudah minum minuman yang mereka buat dan duduk bersama di ruang tengah tempat kami biasa ngumpul. Aku langsung pergi ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.
" Udah minum duluan aja ya, punyaku mana.." ucapku sambil jalan menuju ruang tengah.
" Ini Joana." Ucap Irene sambil menyodorkan gelas ku.
" Terimakasih Irene." Ucapku sambil tersenyum.
Setelah itu kami semua makan bersama, di pertengahan kami makan Tasya bercerita.
" Wee tadi ada kejadian lucu waktu aku dan Anggi membersihkan halaman belakang rumah, ada ibu-ibu yang datang menghampiri kami, tau gak dia bilang apa.." Ucap Tasya.
" Bilang apa dia??" tanyaku kepo.
" Dia bilang, gimana neng tinggal di rumah ini, masih betah??" Ucap Tasya.
" Trus ku jawab."
__ADS_1
" Alhamdulillah masih betah bu."
" Trus ku tanya balik kan wee."
" Bu, emang kenapa nanya begitu??."
" Ibu itu jawab."
" Gakpapa neng, cuma mau mastikan aja."
" Ibu itu bilang gitu sambil senyum terus pergi, berarti ada sesuatu kan di rumah ini kenapa coba tetangga nanya gitu." Ucap Tasya.
" Aneh sih, tapi ya kita tunggu aja deh sampe di ceritain bu Bety gausah berpikiran aneh-aneh dulu kitanya wee" Ucapku.
" Iya sih Jo, gitu lebih baik." Ucap Tasya.
Kami pun melanjutkan makan kami.
Setelah kami semua selesai makan, kami duduk bersama di ruang tengah tidak bicara hanya saling diam. Sejak Alex memelukku aku mulai sering melirik Alex sesekali dan mulai ingin mencari tau tentangnya dan selalu berdialog di dalam pikiranku kenapa dia memelukku, tapi ku tahan aku gamau terjadi hal seperti Jonathan lagi, kali ini sebaiknya ku simpan dalam hati pikirku. Entah dia sadar atau gak aku mencoba meliriknya namun kami sering sekali bertemu dan saling bertatap mata.
Jonathan memecah keheningan.
__ADS_1
" Nanti sore jam 5 ya paling lama setengah 6 biar cepat kita selesaikan masalah ini jujur aku sudah sangat risih dengan masalah ini." Ucap Jonathan.
Aku hanya diam, teman-teman yang lain hanya mengangguk.
" Dan untuk Joana, aku tau kamu marah banget dengan Jesica tapi dia hanya pacarku bukan ibu atau istriku, please jangan siksa aku dengan tatapan dingin mu. Seolah-seolah semua karen aku, aku juga gak tau apa-apa Jo. Kalau ada yang kamu inginkan, bilang untuk menebus kesalahanku. Kalau kamu emang anggap aku yang bersalah." Ucap Jonathan kembali.
Ku liat dia, ku tatap matanya.
" Aku minta maaf kalau sikapku mengganggumu, mulai sekarang abaikan saja aku seperti sejak awal kita gak saling kenal. Memang Jesica hanya pacarmu bang, tapi dia wanita mu saat ini jaga bicaramu dan hargai dia. Dia bersikap seperti itu mungkin karena trauma akan kesalahan darimu atau dirinya. Aku tidak lagi marah padamu, aku hanya ingin nama baikku bersih itu aja, setelah itu aku akan lupakan semuanya kok tenang aja. Kalau aku jadi Jesica dan hari ini ku dengar ucapan mu yang seperti itu aku pasti akan sedih." Ucapku.
Jonathan terdiam dan memandangku.
" Kalau gitu aku permisi ke kamar ya." Ucapku sambil berdiri.
" Pintu kamar jangan ditutup buka aja." Ucap Alex.
" iya." Jawabku dan masuk ke kamar.
Yang lainnya hanya duduk diam dan menunduk.
" Ah semoga malam ini masalah ini selesai tanpa drama." Ucap Ruth.
__ADS_1
" Yah semoga. " Irene menambah kan.
To be continue..