Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 81


__ADS_3

Tak terasa malam pun tiba, jarum jam menunjuk ke angka 8. Sudah jam 8 malam, kami semua berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Di sela makan malam kakek bertanya dan menyampaikan pesan kepada kami.


"Kalian tau tidak kenapa kalian tidak boleh kembali lagi kesana??" tanya kakek pada kami.


"Tidak kek, itu juga yang ingin kami tanyakan." Jawab Tasya.


"Kalau kalian kembali kesana, Joana akan melihat semua kejadian yang seharusnya tidak dilihat. Tanpa kalian sadari pak Kodir tau bahwa saya yang menyembuhkan Joana dan Joana sendiri dapat melihat makhluk yang tidak semua orang bisa lihat." Ucap kakek.


"Tapi kek, sampai hari ini saya tidak ada melihat makhluk apapun." Ucapku.


"Karena keadaanmu belum pulih nak, setelah kamu pulih kamu akan melihat semuanya. Tapi jangan takut, kakek sudah membatasi penglihatanmu, kamu hanya akan melihat sosok yang menyerupai manusia untuk saat ini. Tapi ada suatu masa itu akan terbuka jadi beradaptasilah secara perlahan ya Joana." Nasehat kakek padaku.


"Iya kek." Jawabku.


Ibu dan ayahku pun menyampaikan rasa terima kasih pada kakek.


"Kek, terimakasih sudah merawat putri saya sampai pulih. Saya tidak tau harus membalasnya dengan apa." Ucap ibu.


"Sama-sama neng, kita harus saling membantu bukan." Jawab kakek Alex.


Kami semua tersenyum. Setelah semua sudah selesai makan, aku membantu teman-temanku dan bude membersihkan dapur.


"Neng, duduk aja kamu belum pulih banget loh." Ucap bude.


"Gakpapa bude, sudah bisa pelan-pelan kok bude." Jawabku.


"Besok kalian pulang?? atau masih liburan disini dulu??" tanya bude kepada kami.

__ADS_1


"Sepertinya kami pulang bude, karena masih harus menyelesaikan laporan penelitian kami bude." Jawab Ruth.


"Yah sepi lagi deh." Ucap bude.


"Nanti sesekali kami main ke mari lagi ya bude." Ucap Anggi.


"Bolehkan bude??" tanya Tasya.


"Boleh dong neng, datang aja kapanpun kalian mau." Jawab bude sambil tersenyum.


Setelah selesai membersihkan dapur, kami semua berkumpul kembali ke kamar Alex karena memang disana kami tidur bareng -bareng. Aku duduk bersandar di kasur.


"Sayang besok ikut pulang sama mama dan ayah??" tanya Alex padaku sambil berjalan ke arahku dan duduk di sampingku.


"Iya dong sayang." Jawabku.


"Sayang emang gak pulang ke medan, ke rumah sayang??" tanyaku pada Alex.


"Pulang, tapi karena kita diskusi dengan dosen melalui online jadi aku masih tinggal disini di rumah kakek. Di medan aku sendirian jadi malas pulang." Jawab Alex dan tiduran di pahaku. Aku mengelus rambutnya.


"Kalau sayang mau yaudah pulang ke medan aja, main ke rumah biar kita ngerjain laporan bareng-bareng." Ucapku.


"Iya juga ya.." Jawab Alex.


"Gausah di pikirkan dulu, kita tidur aja yuk besok pagi aku mau pulang sayang." Ucapku.


"Yaudah sayang istirahat ya, selamat tidur sayang." Ucap Alex dan mencium keningku.

__ADS_1


Aku tersenyum melihatnya. Malam itu kami semua tertidur dengan tenang.


Keesokan harinya kami bangun pukul 6 pagi, bergegas membereskan barang-barang kami yang akan kami bawa pulang. Aku mandi bareng Irene di kamar mandi Alex, kami bergantian mandi.


Selesai beberes kami berkumpul di ruang tengah, barang-barangku di rapikan oleh adikku karena aku belum terlalu leluasa untuk bergerak. Setelah semuanya beres, barang kami juga sudah di masukkan ke dalam mobil. Karena barang-barang kami banyak, Aku menaruh barang-barangku di mobil ayah agar di mobil Alex tidak terlalu sempit.


Tadinya aku ingin pulang dengan mobil ayah tapi Alex memintaku naik mobilnya untuk mengantar teman-teman. Walaupun kakiku masih sakit tapi sudah jauh membaik dari sebelumnya, jadi ku putuskan untuk ikut di mobil Alex bersama teman-teman.


Sebelum pulang kami makan pagi bersama kakek, pakde dan bude. Selama kami disana pakde baru ini bergabung dengan kami karena pekerjaannya yang sangat padat.


"Lex, kamu pulang ke medan atau balik ke rumah kakek??" tanya pakde pada Alex.


"Aku di medan aja pakde." Jawab Alex.


"Tumben, biasanya kamu gak mau di rumah itu sendirian." Ucap pakde.


"Sekarang udah beda toh mas, ada yang harus dikunjungi setiap hari." Ucap bude.


"Oh iya ya, lupa aku. Sekarang udah ada sang pujaan hati." Ucap pakde menggoda Alex.


"Pakde ini, makan dulu udah lapar aku." Ucap Alex.


Kami semua tersenyum. Aku lihat ke arah Alex, jujur saja sampai hari ini aku antara yakin dan tidak yakin kalau aku sudah memiliki seorang pacar. Dan yang paling membuatku merasa seperti tidak nyata yaitu kenyataan bahwa Alex adalah kekasihku.


Dari awal aku yang membencinya di PKL, ternyata luluh karena pesonanya. Dari dia yang ku anggap lelaki berantakan dan kejam, ternyata dia adalah lelaki yang sangat rapi dan manis.


To be continue.

__ADS_1


Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Dukung cerita saya dengan like, komen, share, vote dan tambahkan ke favorit teman-teman ya ❤️.


__ADS_2