Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 74


__ADS_3

Aku terdiam dan kaget mendengar cerita Alex, aku tidak pernah berfikir hal seperti ini akan benar nyata ku alami. Setelahnya Alex melanjutkan ceritanya.


"Makhluk yang merasuki kamu sama sekali gak bisa keluar, aku coba juga pakaikan cincin nenek di jari kamu gak bisa masuk. Akhirnya cincin itu ku simpan, aku menelepon kakek memberitahu kakek apa yang terjadi, setelah aku selesai menelepon kakek. Kamu teriak seperti kesakitan dan sambil berontak sangat kencang sampai Irene, Ruth, Tasya, Anggi yang berusaha memegang kamu semuanya terpental. Saat mereka terpental aku berusaha memelukmu sambil berdoa dan akhirnya kamu sedikit tenang tapi tetap menatap kosong, marah ke arah ustad di depan kamu. Karena kamu sudah tenang pak ustad menanyakan beberapa hal yang akhirnya mau di jawab oleh makhluk yang ada di dalam kamu." Ucap Alex.


Pembicaraan pak ustad dan makhluk yang merasukiku.


"Kamu siapa??" tanya pak ustad.


"Kau tidak perlu tau." Jawab makhluk di dalamku.


"Kenapa kamu merasuki anak ini??" tanya ustad kembali.


"Dia wangi, aku suka." Jawab makhluk di dalamku.


"Dia gak wangi, kau salah. Siapa yang menyuruhmu mendekati anak ini??" tanya ustad.

__ADS_1


"Tuanku, butuh darah." Jawab makhluk di dalamku.


"Tuanmu tidak butuh darah, kau yang membutuhkannya." Ucap ustad.


Aku tertawa melengking, seperti merasa puas sambil menatap pak ustad kata Alex yang menceritakan hal ini padaku.


"Aku mau anak ini, biarkan dia ku bawa." Pinta sang makhluk.


"Tidak bisa, kau tidak akan mendapatkannya." Jawab pak ustad.


Kembali ke Alex yang menceritakan kisah sebenarnya.


Aku yang mendengar cerita Alex merinding dan merasakan hawa menjadi dingin.


"Setelah itu??" tanyaku.

__ADS_1


"Setelah itu aku, Jonathan dan pak ustad ke kos, sampai di depan kos kami mencium wangi kemenyan dan bunga-bunga. Pak ustad langsung mengetuk pintu dan memberi salam, tidak ada yang menjawab dari dalam. Kami pun masuk ke dalam, aku dan Jonathan langsung masuk ke kamar, begitu sampe kamar semerbak bunga dan aroma kemenyan sangat kuat. Aku dan Jonathan buru-buru memasukkan semua barang bergantian ke dalam mobil, setelah kami cek tidak ada yang ketinggalan aku teringat mengenai dinding yang berbau amis dan wangi bunga. Aku mengajak Jonathan mengendus dinding benar saja wangi bunga dan amis darah ada tercium oleh kami. Aku langsung mengajak Jonathan keluar dari kamar itu meninggalkan kunci kamar di pintunya. Pak ustad langsung menyuruh kami cepat keluar dan menutup pintu rumah tanpa menguncinya. Kami ke mesjid naik mobilku bersama Jonathan dan pak ustad." Ucap Alex.


Alex pun bertanya pada teman-teman lainnya.


"Waktu aku, Jonathan dan pak ustad pergi ke rumah itu, coba ceritakan apa yang terjadi saat kami pergi dari mesjid ke rumah itu??" ucap Alex sambil menatap Ruth, Anggi, dan Tasya.


Ruth menceritakan yang terjadi saat Jonathan, Alex dan pak ustad pergi.


"Tidak lama kalian pergi Joana bangun duduk, tapi tatapannya masih sama kosong dia hanya menatap ke arah pintu masuk mesjid. Tangannya kami ikat, karena kami takut tiba-tiba dia mencekik dirinya lagi, tak lama setelahnya ibu dan bapak kos datang ke mesjid. Aku kaget saat mereka datang, mereka mendekat melihat Joana tapi tiba-tiba Kau Jo menundukkan kepalamu di depan mereka. Kau sama sekali gak mau melihat mereka, sebelum aku melanjutkan ceritaku, aku mau tanya sama kau Jo. Ada yang kau ingat gak sedikit??" tanya Ruth.


"Enggak Ruth, aku sama sekali gk ingat apa-apa yang terakhir ku ingat semua hitam dan aku merasa seperti tertidur, memang sebelum tertidur aku nangis dan marah tapi hanya itu yang ku ingat." Jawabku.


"Berarti ku simpulkan kau belum sadar saat itu." Ucap Ruth.


Aku mencoba mencerna setiap perkataan Alex dan Ruth, benar-benar di luar pikiranku apa yang sudah mereka ceritakan membuatku semakin merinding.

__ADS_1


To be continue.


Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Dukung cerita saya dengan like, komen, share, vote dan tambahkan ke favorit teman-teman ya. Terimakasih ❤️.


__ADS_2