
Setelah aku berpikir dan terdiam beberapa saat, aku mulai berkata.
"Baik kek, jika itu doa untuk kebaikan aku mau memakainya." Ucapku.
Kakek tersenyum dan memakaikan cincin itu padaku.
"Apa ada pantangan atau ritual khusus kek??" tanyaku.
Kakek dan pakde tertawa.
"Tidak ada hal seperti itu nak, kamu cuma pakai saja cincinnya jangan di lepas saat masih berada disana. Tapi jika sudah selesai PKL jika kamu ingin melepasnya dan menyimpannya di saku atau dompetmu silahkan yang penting jangan sampai hilang. Saat kamu akan kembali ke rumah itu, kamu akan beberapa kali merasa tidak nyaman dan ingin melepaskan cincin ini, kakek harap kamu tidak pernah melepaskan cincin ini apapun yang kamu rasakan selama disana ya nak." Ucap kakek padaku.
"Baik kek, terimakasih." Jawabku.
"Kek aku ingin bertanya boleh??" tanyaku.
"Boleh nak, silahkan." Jawab kakek.
"Kendi ini untuk apa ya kek??" tanyaku.
"Ini arang yang di tabur bunga, agar rumah menjadi hangat dan harum. Bunganya harum kan??" tanya kakek kembali padaku.
" Bukan untuk ritual kek??" tanyaku lagi karena penasaran.
Kakek tersenyum.
"Enggak nak, keluarga kakek tidak pakai persembahan seperti itu." Ucap kakek.
"Oh begitu." Ucapku.
Kakek dan pakde tersenyum. Istri pakde datang ke ruang tengah dan mengatakan.
"Sudah jam setengah 1 ini pak, ayo kita makan dulu." Ucap istri pakde.
"Iya, iya." Jawab pakde.
Kami semua berjalan ke arah dapur, disana sudah tersedia banyak sekali makanan, aku duduk di samping Alex dan di samping kiriku istri pakde. Di depan kami ada kakek dan pakde.
__ADS_1
Istri pakde seorang wanita yang lemah lembut dan hangat. Dia menyajikan makanan untukku membuatku jadi segan dan canggung.
"Gakpapa bu, saya aja yang ambil sendiri. Terimakasih." Ucapku sambil menerima piring dari bude.
Semua makanan disana enak-enak sekali, aku bergumam dalam hati.
"Wah beruntungnya Alex bisa merasakan masakan seenak ini sesuka hatinya." Ucapku dalam hati.
"Bagaimana Jo, enak gak makanannya??" tanya bude padaku.
"Enak bude, enak sekali." Ucapku.
"Tapi kamu kok gak ambil nasinya??" tanya bude.
"Aku tidak makan nasi bude." Jawabku.
"Diet kah??" tanya bude.
"Bukan bude, sudah sedari kecil." Ucapku.
"Oh begitu toh." Ucap bude.
Aku tersenyum ke arah bude.
Setelah kami selesai makan, kami kembali duduk di ruang khusus tamu. Pintu utama di buka bude, agar sejuk katanya, ku lihat keluar hujan sangat deras.
"Yah hujan, gimana kita pulang??" tanyaku sambil menoleh ke arah Alex.
"Bisa, nanti kita naik mobil aja." Ucap Alex.
"Oh begitu." Jawabku.
Bude menyuruh Alex pindah dan duduk di sampingku.
"Neng.." Ucap bude sambil mengelus tanganku.
"Iya bude.." Jawabku.
__ADS_1
"Kamu sudah punya calon suami??" tanya bude.
Aku melihat ke arah bude dan langsung tersenyum.
"Belum bude." Jawabku.
"Kalau Alex jadi calonmu, mau tidak??" tanya bude.
Aku kaget dan tersipu malu.
"Kok bude nanya gitu??" tanyaku.
"Habisnya kamu ayu sekali, bude bakal senang kalau kamu yang jadi calonnya Alex." Ucap bude.
Aku langsung menatap Alex, Alex sudah tertawa kecil melihat ekspresiku.
"Bude udah ah jangan gitu, nanti dia kabur jadinya bude." Ucap Alex.
Semua tertawa, karena sudah sore kami memutuskan untuk pulang.
"Kek, kunci mobilku mana?? aku bawa mobil ya, nanti sudah selesai PKL aku kembalikan ke rumah kakek." Ucap Alex.
"Iya, di kamar kakek." Jawab kakek.
Alex pun pergi ke kamar kakek mengambil kunci mobil. Sebenarnya aku canggung naik mobil berdua dengan Alex, tapi karena hujan begini ya sudah tidak ada pilihan.
Alex mengeluarkan mobilnya, memarkirnya tepat di depan pintu masuk utama. Hujan mulai sedikit mereda, kami berpamitan dengan kakek, pakde dan bude.
Bude membawakan kami 3 kotak kue bolu gulung, aku sangat senang menerima hadiah itu karena aku sudah mencicipi betapa enaknya masakan bude.
"Hati-hati kalian ya." Ucap pakde.
"Iya pakde." Ucapku dan Alex.
Ilustrasi rumah kakek Alex.
__ADS_1
To be continue.
Terimakasih untuk semua pembaca setiaku, dukungan like, komen, share, vote, hadiah dan favorit kalian adalah semangatku ❤️.