Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 80


__ADS_3

Kepala desa dan dosen-dosen kami pun pamit pulang. Dan kini yang tinggal hanya pak Kodir dan bu Bety.


"Ada hal yang ingin saya sampaikan, dan sudah saya janjikan kepada anak-anak untuk saya ceritakan mengenai sejarah rumah yang kalian tinggali selama PKL." Ucap pak Kodir.


Kami pun dengan fokus mendengarkan setiap kata yang pak Kodir ucapkan kepada kami. Beliau pernah berjanji pada kami akan menceritakan mengenai rumah tersebut saat kami sudah tidak kembali lagi kesana.


"Saat sudah saya ceritakan, saya berharap kalian tidak lagi kembali ke desa saya, terutama rumah itu." Ucap pak Kodir kembali.


"Baik pak." Jawab Jonathan.


"Dulu saat saya masih remaja, orangtua dari pak Rojak dikenal sebagai orang sakti di desa kami. Beliau dikenal orang sakti yang menyembuhkan serta membantu orang-orang dari teluh atau santet. Saat itu tidak banyak yang datang berobat kepada beliau. Entah bagaimana ceritanya, suatu hari saat saya sudah menuju dewasa akhir-akhir saya mau tamat sekolah. Banyak sekali orang luar yang berdatangan ke rumah beliau, kebanyakan mereka yang mengendarai kendaraan-kendaraan mewah."


"Kami sempat kagum dengan beliau, sudah mulai banyak orang yang datang untuk minta kesembuhan pada beliau pikir kami saat itu. Hingga suatu ketika satu per satu dari warga desa kami terutama di dusun lima banyak yang meninggal mendadak, dari yang tua sampai yang muda." Pak Kodir mengentikan ceritanya.

__ADS_1


Pak Kodir menghidupkan rokoknya dan menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.


"Awalnya kami mengira itu memang sudah ajalnya, namun semakin banyak yang meninggal kami menyadari satu hal yang sama di setiap orang yang meninggal di dusun kami. Mereka selalu meninggal tergeletak di kamar mandi, dengan leher yang membiru. Kami mulai merasakan kejanggalan, kami sempat menuduh dusun lain. Hingga akhirnya ada seorang pemuda yang datang kepada beliau menyampaikan niat untuk dapat belajar ilmu dengan beliau, pemuda itu menjadi murid beliau."


"Tiba waktunya untuk pemuda itu memperdalam ilmunya dengan menjadi asisten beliau saat itulah semuanya terbongkar. Pemuda itu sangat terkejut dengan permintaan-permintaan pasien beliau, hingga suatu hari entah keceplosan atau bagaimana beliau memberitahu kepada pemuda itu bahwa semua yang beliau lakukan harus diganti dengan nyawa atau darah seorang manusia agar kekuatan ilmunya tidak akan terkalahkan. Disaat itulah pemuda itu tau dia sudah ada dalam lingkaran setan, mencoba keluar dari hal tersebut namun tidak ada jalan keluar."


"Akhirnya pemuda itu memutuskan menceritakan semuanya pada tokoh adat penting di desa ini untuk menghentikan praktek beliau, namun sayang warga tersulut api kemarahan hingga akhirnya membakar rumah beliau saat malam hari. Beliau pun meninggal dunia akibat terbakar, beberapa bulan setelah beliau meninggal pemuda itu pun ikut pergi untuk selamanya. Dan pemuda itu adalah adik kandung saya sendiri." Ucap pak Kodir.


Kami yang mendengarkannya sangat kaget, tidak menyangka bahwa cerita sebenarnya sangat menyedihkan namun membuat kami merinding dan tercengang.


"Terimakasih pak sudah mau menceritakan kisah ini, saya dan teman-teman turut berdukacita semoga adik bapak sudah tenang bersama Tuhan di surga." Ucap Jonathan.


"Amin nak, amin, Terimakasih doanya." Jawab pak Kodir.

__ADS_1


Kesimpulan yang aku dapat tentang rumah itu, mengapa rumah itu jadi mengerikan dan menyeramkan. Karena rumah tersebut bekas dari ilmu sakti yang salah digunakan, awalnya untuk kebaikan, kesembuhan orang-orang berubah menjadi tempat yang memiliki niat menyakiti bahkan membunuh orang lain. Dengan mengorbankan nyawa orang yang tidak bersalah, itu sebabnya rumah itu menjadi mengerikan dimana banyak amarah serta dendam yang terus melekat dalam rumah itu.


Sebelum pak Kodir dan bu Bety pulang, kami makan sore bersama sambil ngobrol ringan dan saling bercanda. Hingga satu pertanyaan bu Bety yang membuatku tersipu malu.


"Ibu dengar neng Joana berpacaran ya dengan nak Alex??" tanya bu Bety.


"Iya bu." Jawabku sambil tersenyum.


"Nanti kalau mau menikah jangan lupa undang bapak dan ibu ya." Ucap bu Bety.


"Amin, iya bu." Jawabku.


Teman-temanku semua tersenyum. Setelah itu pak Kodir dan bu Bety pamit pulang, agar tidak terlalu malam sampai dirumahnya. Akhirnya semua masalah kami selesai, kami tinggal menyerahkan laporan akhir kami selama PKL.

__ADS_1


To be continue.


Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Dukung cerita saya dengan like, komen, share, vote, tambahkan ke favorit teman-teman. Jika teman-teman suka dengan cerita saya jangan lupa beri hadiah seikhlas teman-teman ❤️.


__ADS_2