Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 9


__ADS_3

Satu jam kemudian Anggi, Jonathan dan Alex yang pergi sudah kembali. mereka kembali membawa banyak makanan dan minuman dan mereka melihatku tertidur di paha Irene.


“Joana kenapa ren??” tanya Anggi.


“Gakpapa Anggi, dia Cuma ngantuk aja kan semalam dia habis berpetualang.” Jawab Irene sambil tertawa kecil.


“Oh iya juga ya.” Balas Anggi sambil tersenyum.


Jonathan yang memakai kemeja tiba-tiba membuka kemejanya. Awalnya yang lain tidak perduli namun setelah Jonathan membuka kemejanya dan menyelimuti Joana dengan kemejanya mereka semua serentak melihat ke arah Jonathan, Jonathan yang sadar akan hal itu berkata.


“Kenapa?? Kok liatin nya gitu sih kalian.” Ucap Jonathan.


“Gakpapa bang, heran aja kerasukan apaan gitu.” Jawab Tasya masih sambil melihat ke arah Jonathan.


“Aku gak bermaksud apa-apa ya, Jo cewe. Aku dan Alex cowo dia dengan polosnya tertidur disini tidak hanya kita yang melihat tapi orang yang lewat juga akan lihat agak kurang pantas kan kami disini membiarkan dia seorang gadis tidur seperti ini karena dia tidak memakai baju yang panjang.” Jawab Jonathan sambil duduk dan membuka minumannya.


“Iya iya bang, aku juga gk mikir apa-apa kok.” Jawab Tasya dan tersenyum menggoda Jonathan.


Jonathan yang melihatnya hanya melirik saja dan meminum minuman yang sudah dia buka.


“Setelah ini kita kemana nih??” tanya Alex.


“Hari ini kita sampai disini aja ya kegiatannya, besok kita buat program hari ini anggap saja kita observasi ya. Sebelum pulang kita makan dulu aja biar sampe rumah langsung istirahat gimana menurut kalian??” tanya Ruth.


“Yaudah kalau gitu aku setuju, kita dapat tema mengenai sampah kan??” tanya Alex.


“ Iya, kita dapat tema mengenai sampah. Gimana kalau besok kita observasi lagi ke TPA yang ada disini.” Ucap Jonathan.


“Ide bagus juga tuh bang, aku sih setuju gimana yang lain??” tanya Anggi.


“Aku juga setuju,” jawab Ruth si ketua kelompok.


“Aku juga setuju,” jawab Tasya.


Irene yang memegang kening Joana termenung, dia seperti tidak menghiraukan apa yang sedang teman-temannya bahas sampai Ruth mengangetkan Irene.


“ Ren.. Ren.. Irene.” Panggil Ruth sambil menepuk pundak Irene.


“ Hah.. apaan??” Irene yang kaget menjawab dengan bingung.


“Kenapa Ren, gak fokus gitu kok bengong sih??” tanya Ruth dengan wajah bingung.


“Sorry, sorry tadi bahas apaan?? sampah?? Itu tema kita kan??” tanya Irene memastikan.


“Iya, makanya fokus dong Ren. Gimana kalau besok kita observasi ke TPA terlebih dahulu biar tau mau buat program apa selanjutnya.” Ucap Jonathan.


“Oh iya iya bang, aku setuju kok.” Jawab Irene dengan cepat.


Ruth yang belum mendapat jawaban kembali bertanya ke Irene.

__ADS_1


“Ren pertanyaanku belum di jawab, kenapa ?? lagi mikir apa??” tanya Ruth.


“Ini tanganku yang panas atau apa ya. Kok keningnya Joana makin lama makin panas ya, trus ni anak tumben banget gak langsung bangun. Biasanya dia langsung duduk kalau lagi rame gini.” Ucap Irene sedikit khawatir.


Ruth mendekat ke arahku dan memeriksa keningku dengan keningnya untuk memastikan suhu tubuhku.


“Eh, Joana sakit ya ini mah panas banget, gimana dong ni.” Ucap Ruth panik.


Ruth mencoba menyadarkan ku, dengan memanggil namaku dan mengguncang tubuhku. Namun kata teman-temanku aku tidak merespon dan terkulai lemas, aku pingsan. Karena mereka panik melihatku seperti itu, Tasya dan Anggi langsung lari spontan ke depan mencari becak (angkutan umum disana) atau ojek yang bisa mengantarkan kami ke puskesmas terdekat. Namun saat itu tidak ada angkutan umum yang lewat, angkutan umum disana emang tidak banyak. Maka dari itu 90% masyarakat memiliki kendaraan pribadi.


Karena tidak ada satu angkutan umum pun yang lewat Alex dan Jonathan pergi ke rumah warga terdekat untuk meminjam sepeda motor agar bisa membawaku ke puskesmas terdekat, sesampainya di rumah warga mereka langsung mengetuk pintu rumah warga.


“Permisi bu, bu.” Panggil Jonathan sambil mengetuk pintu yang memang sedang terbuka.


Tak lama kemudian seorang gadis keluar.


“Ya ada apa ya bang??” tanya gadis itu.


“Dek boleh pinjam sepeda motor tidak?? Teman kami pingsan di aula desa kami tidak ada kendaraan untuk membawanya ke puskesmas desa.” Ucap Jonathan.


“Oh boleh bang, abang tunggu disana ya saya akan segera kesana.” Jawab gadis tersebut.


“Oke baik dek, makasih ya kami tunggu di aula ya.” Ucap Jonathan kembali.


“Iya bang, sama-sama.” Balas gadis tersebut.


Alex dan Jonathan kembali berjalan ke aula, mereka sampai di aula melihatku masih pingsan dan tidur di pangkuan Irene. Tak lama kemudian gadis tersebut datang dan menyuruh Alex dan Jonathan menaikkan ku ke sepeda motor.


Tidak menjawab dan tidak membantah, Alex dan Jonathan menaikkan ku ke sepeda motor.


“Ruth lu aja yang dibelakang nih pegangin Joana ntar kita nyusul ya.” Ucap Alex.


“Oke bang, kita jalan ya.” Jawab Ruth sambil naik dan memelukku di sepeda motor.


“Oke, hati-hati ya.” Ucap Jonathan.


Yang lain hanya terdiam dan bingung harus apa, terutama Irene yang wajahnya seketika pucat takut melihat keadaanku yang tiba-tiba sakit.


“Yaudah yok kita jalan, ntar singgah beli makan dulu kita ya pasti si Joana belum makan tuh makanya gitu.” Ucap Jonathan.


“Oke bang,” jawab Anggi.


Mereka berlima pun jalan bersama tanpa berbicara semua hanya jalan dan menunduk entah apa yang mereka pikirkan. Mereka berhenti di warung nasi untuk membeli nasi bungkus 6 bungkus untuk mereka makan ketika hendak sampai puskesmas, karena belum ada yang makan dari siang sementara waktu sudah menunjukkan pukul 17.39 wib, sudah pukul setengah 6 sore. Setelah itu mereka singgah membeli beberapa roti untukku. Setelah jalan kurang lebih 20 menit mereka sampai di puskesmas, disana mereka melihat Ruth sedang diluar jongkok dan menghisap Vape seperti sedang berfikir.


“Lu ngerokok Ruth??” tanya Alex setengah terkejut.


(Rokok elektronik vape)


“Iya bang, kalau lagi berfikir aja.” Jawab Ruth.

__ADS_1


“Oh, apa yang lu pikirin??” tanya Alex kembali.


“Tuh Joana liat aja di dalam, udah sadar tapi gamau ngomong dan wajahnya pucat banget.” Jawab Ruth.


Tiba-tiba salah satu penjaga puskesmas keluar dan bertanya.


“Dek kalian ngontrak dimana??” tanya bu Diana seorang Bidan yang sedang menjaga di puskesmas tersebut.


Ruth yang kaget langsung berdiri dan menjawab.


“Di rumah pak Rojak dan bu Rosiana bu.” Jawab Ruth.


“Sepertinya teman kalian bukan sakit biasa coba beli garam kasar nanti tabur in di kamar kalian sekeliling kamar tapi jangan sampai tau yang punya rumah. Trus coba tolong ke warung sebelah beli jeruk purut dan minyak goreng.” Ucap bu bidan.


“Biar saya aja bu.” Ucap gadis desa tersebut.


“Sama aku yuk biar aku temani.” Ucap Tasya.


Tasya dan gadis desa itu pun pergi berjalan kaki membeli apa yang di suruh bu bidan, jarak dari puskesmas ke warung tidak terlalu jauh maka dari itu mereka memutuskan berjalan kaki. Di perjalanan Tasya yang kepo bertanya.


“Nama kamu siapa?? Kita belum kenalan loh.” Tanya Tasya.


“Namaku Dessy kak,” jawab Dessy sambil tersenyum.


“Aku Tasya, salam kenal Dessy.” Ucap Tasya sambil menepuk pundak Dessy.


“ Iya kak.” Sambil tersenyum ke arah Tasya.


“Kamu masih sekolah??” tanya Tasya.


“Enggak kak, aku udah tamat SMA, usiaku sekarang 20 tahun aku sudah bekerja di salah satu konter handphone di desa seberang.” Jawab Dessy.


“Oh begitu.” Sambung Tasya.


Sesampainya mereka di warung, mereka membeli semua yang disuruh oleh bu bidan yaitu garam kasar, minyak goreng dan jeruk purut. Sesudah itu mereka berjalan kembali ke puskesmas, sesampainya di puskesmas Dessy langsung masuk ke puskesmas dan memberikan semua bahan yang sudah ia dan Tasya beli ke bu bidan.


“Bu, ini semua bahannya.” Ucap Dessy sambil menyodorkan kantong plastik ke bu bidan.


“Des, tolong ambil piring kecil gih peras kan jeruknya campur dengan minyak ya.” Ucap bu bidan sambil memerintahkan Dessy untuk membantunya.


“Iya bu.” Jawab Dessy dan pergi ke dapur puskesmas.


Di dalam Irene dan Anggi menjagaku, mereka melihatku namun dengan tatapan bingung. Karena mereka mengatakan bahwa aku sadar namun mataku seperti kosong aku hanya melihat langit-langit puskesmas tanpa bicara, Irene yang dari tadi memegang tanganku yang dingin sedikit takut namun gelisah memikirkan apa yang sedang terjadi padaku.


Di luar Ruth, Tasya, Alex dan Jonathan sedang menunggu sambil makan, makanan yang mereka beli tadi.


“Setelah ini kita masuk gantiin Irene sama Anggi ya biar mereka makan.” Ucap Jonathan.


Kami semua pun mengiyakan perkataan Jonathan dengan menganggukkan kepala. Sore itu desa terasa sangat sepi, hening namun suasana yang mencekam bagi mereka.

__ADS_1


To be continue.


__ADS_2