Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 14


__ADS_3

Setelah beberapa menit tukang becak datang untuk mengantar kami ke pantai. sesampainya di pantai kami menyewa satu pondok untuk kami duduk bersama-sama. Sudah lama sekali aku tidak liburan ke pantai, aku sangat menyukai pantai rasanya setiap melihat lautan yang luas segala sesuatu yang mengganjal di hati lepas dan terasa lega.


Pantai disini sejuk dan indah, pohon cemara berjejer seperti pembatas antara pesisir pantai dan air laut. Pasir putih dengan lingkungan yang bersih dan bebas sampah menambah keindahan pantai ini. Tak ku sangka di desa ini masih ada tempat yang benar-benar bersih tidak ada sampah satu pun. Hari itu udara disana sangat nyaman tidak terlalu panas, angin berhembus cukup kencang membuat udara sangat sejuk dan nyaman.


Aku berjalan menghampiri pinggir pantai, aku ingin memanjakan kakiku dengan sapuan ombak yang datang dan pergi. Aku berdiri di pinggir pantai melihat luasnya laut membuatku merasa tenang dan segar, sementara teman-temanku yang lain sedang beristirahat di pondok. Saat aku menikmati indahnya pantai tiba-tiba aku mendengar suara seseorang.


“Hmmm... hmmm...”


Ku liat ke samping kiri ku ternyata Alex tepat berdiri di sampingku.


“Ngapain disini lex??” tanyaku.


“Liat laut lah, jadi ngapain lagi.” Jawab Alex.


“Iya, maksudku ngapain ikutin aku, kan banyak tempat disana, disana,,” ucapku sambil menunjuk tempat-tempat kosong.


“Enggak ah, aku gak ikutin kok, emang gak boleh aku kemari??” jawab Alex.


“Hmm iya deh.” Ucapku.


“Gimana, masih mimpi buruk gak??” tanya Alex.


"Tumben banget perhatian,," ucapku dalam hati.


“Enggak, gak pernah lagi kok mimpi aneh Lex.” Jawabku.


“Dan kenapa gak bisa panggil aku abang?? Aku seniormu loh.” Tanya Alex kembali.


“Gatau, nyaman aja manggil kamu gitu.” Jawabku.


“Nyaman??” tanya Alex kembali.


“Iya nyaman.” Jawabku. Sambil melihat ke arahnya dan tersenyum yang membuatnya jengkel melihat dari ekspresi wajahnya padaku.


Aku kaget saat aku melihat ke arahnya dia sudah lebih dulu melihat ke arahku, saat itu aku dan dia bertatapan. Aku kaget sekaligus takut melihat matanya yang sangat tajam, bulat, seperti ingin memakan ku. Aku terpaku terdiam hanya melihat matanya yang menatapku.


“Apaan sih lex, emangnya aku ada utang??” ku pukul lengannya sekaligus menyadarkan ku dari rasa takut dan cemas, saat ku melihat matanya yang tajam.


“Kenapa?? Takut kan??” tanya Alex sambil tertawa kecil dan mengusap lengannya.


"Apaan yang ditakutkan tatapan anak ABG labil aja.” Jawabku.


“Halah, tapi pukulan mu lumayan juga yah.” Jawab Alex.

__ADS_1


Aku tersenyum.


“Jo, aku mau nanya serius.” Ucap Alex memecah keheningan.


“Apaan??” tanyaku.


“Kenapa bisa-bisanya gk sopan manggil yang lebih tua tapi bilang nyaman??” tanya Alex.


“Apaan sih gak jelas banget dari tadi lex.” Jawabku sambil menoleh ke arahnya.


“Mau aku panggil abang?? Iya??” tanyaku pada Alex.


“Gak juga sih, yaudah deh capek aku mau ke pondok dulu. Gak ke pondok lu bocil??” jawab Alex sambil menyenggol lenganku dengan sikunya.


“ Luan aja sana gausah ganggu-ganggu deh..” Jawabku sambil mengusir Alex.


“Idih, jutek amat sih lu bocil. Hati-hati selama disini oke, jaga diri dan perkataan mu bagus-bagus. Jangan suka merasa tertekan sendiri paham kan. Intinya jangan buat susah ya.” Ucap Alex kepadaku yang kemudian menepuk pundak ku dan pergi ke pondok.


Aku hanya terdiam dan melihat ke arahnya sebentar. Entah kenapa bersamanya walaupun menyebalkan namun aku merasakan kenyamanan seperti aku sedang bersama seorang abang kandung. Perkataannya yang terakhir berhasil membuatku berfikir karena baru kali itu aku merasakan perhatiannya yang nyata dan seriusnya dia, setelah dia berkata seperti itu aku mulai memikirkan semua kejadian yang kami alami membuatku merinding kembali.


Setelah aku puas memandangi lautan aku berjalan ke pondok, duduk bersama teman-temanku. Kami tidak saling bicara semuanya hanyut dalam pikiran masing-masing sambil memandangi lautan, di tengah keheningan..


“Kruk ....kruk...” Bunyi perutku.


“Kalau lapar ngomong dong Jo.” Ucap Jonathan sambil tersenyum.


Aku membalasnya hanya dengan senyuman, jujur aku malu saat Jonathan bilang gitu ke aku karena aku menyukainya, pria yang ku suka dan sedang ku kagumi mendengar bunyi perutku yang keras membuatku sangat malu pada hari itu.


“Yaudah yok yok kita makan ” Ucap Ruth berdiri dan tersenyum.


“yuk,,” jawabku sambil tersenyum.


Kami berjalan menuju restoran yang ada di pantai tersebut, kami duduk dan makan bersama disana. Kami sangat menikmati liburan singkat kami, ngobrol, tertawa bersama membuat kami semakin akrab dan merasa seperti keluarga baru. Aku sangat menikmatinya setiap momen bersama mereka kini jauh lebih terasa hangat.


Tak terasa hari semakin gelap, setelah selesai makan kami memutuskan untuk pulang sebelum malam agar teman yang muslim juga bisa beribadah di waktu magrib. Kami tidak terlalu lama menunggu becak kami karena bapak Dessy dan temannya menunggu kami disana, namun mereka menunggu di pangkalan becak.


Becak langganan kami, kami biasanya memanggil mereka dengan panggilan pak Amin dan pak Rudi, walaupun mereka sudah tua namun mereka orang yang amat sangat asik, berjiwa muda sehingga saat diperjalanan dengan mereka kami tidak pernah tidak tertawa membuat perjalanan kami yang jauh terasa singkat dan sangat berkesan.


Sesampainya di rumah kami lupa jika kami punya perjanjian tidak mandi saat malam atau magrib sudah tiba. Sampai di rumah sudah pukul 18.35 Wib aku dan Irene pertama kali yang mandi, saat mandi aku dan Irene tidak merasakan apapun kami tertawa bahagia sambil bercerita di kamar mandi. Setelah selesai kami mandi tidak ada yang aneh. Teman-teman yang lain bergantian mandi dan ada juga yang sedang sholat semuanya baik-baik aja.


Sesudah bebersih kami semua kumpul kembali di ruang tengah sambil menunggu makanan lewat untuk nyemil malam. Saat itu suasana hening karna kami semua sibuk dengan handphone. Posisi duduk kami, aku duduk paling ujung sebelah kiri di sampingku ada Irene, Tasya dan Anggi, tepat di depanku yaitu Alex di samping Alex yaitu Jonathan dan tepat di samping Jonathan itu Ruth.


Kami semua masing-masing sibuk dengan handphone, saat itu aku mendengar sayup-sayup seperti ada yang suara seseorang sedang menangis tapi aku bingung antara suara anak kecil dengan orang dewasa. Ku abaikan karna rumah kos kami dekat dengan tetangga yang memiliki anak kecil.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian aku mendengar kembali suara menangis namun kali ini seperti di belakangku sayup-sayup ku dengar namun sangat jelas, ku liat kebelakang secara cepat dan tidak ada apapun aku hanya melihat ruangan kosong yang gelap. Namun detak jantungku tiba-tiba berdetak sangat cepat membuatku seperti habis lari yang sangat jauh dan keringatku tiba-tiba keluar mengalir lumayan banyak.


Aku semakin kaget dan pusing saat tiba-tiba Alex menarik tanganku dan menyadarkan ku.


“Joana,,” ucap Alex sambil menarik tanganku.


“Hah, duh, Lex pelan-pelan dong..” Jawabku.


Teman-temanku semua melihat ke arahku.


“Jo kenapa??” tanya Irene.


“Gakpapa Ren.” Ucapku.


“Kamu dari tadi liat kebelakang terus tau Jo lama lagi mungkin ada 10 menit, liat apaan sih??” tanya Alex.


“Gakpapa..” Aku menjawab dengan terbata-bata dan menunduk.


Jantungku masih berdegup kencang, aku merasa seperti ada sesuatu yang dingin menghampiriku aku takut setengah mati tapi aku mencoba mengendalikannya, karena aku juga gak tau aku takut akan apa perasaan ini aneh, sangat aneh.


Aku merasa seperti ada yang hangat di tanganku , aku mencoba melihatnya ternyata tangan Jonathan, hangat sekali dia memegang tanganku sambil jongkok dan melihat ke mataku, Jonathan menatap mataku. Saat itu aku yang menatap matanya seperti merasa lega namun ada hal yang sangat sedih kurasakan tanpa sadar air mataku jatuh.


“Kenapa Jo?? Ada apa?? “ tanya Jonathan.


“Gakpapa bang,,” jawabku sambil menangis.


“Jadi kenapa kok nangis?? ada masalah kah??” tanya Jonathan memastikan.


“Enggak bang, aku juga gatau kenapa rasanya pengen nangis aja.” Jawabku.


“Yaudah, habis ini kamu tidur ya kita semua tidur. Besok cerita ya kamu dengar apa, aku juga dengar kok” ucap Jonathan menenangkan ku.


Aku hanya terdiam melihatnya menenangkan ku.


“Gakpapa Jo, jangan takut ya kita rame disini.” Ucap Jonathan lagi.


Aku hanya mengangguk mengisyaratkan aku mengatakan iya padanya, syukurnya mendengar hal itu aku merasa tenang dan tidak begitu takut lagi. teman-temanku tidak ada yang membahas hal itu, kami semua satu per satu memasuki kamar dan malam itu kami tidur sangat berdekatan, entah mengapa aku merasa mereka juga mengalami dan mendengar hal yang sama sepertiku namun enggan membicarakannya.


Syukurnya malam itu aku tertidur pulas sampai pagi, tidak mengingat hal itu lagi, namun ternyata salah satu dari temanku malam itu mengalami gangguan yang cukup berat namun aku tidak mendengar atau merasakan apapun.


To be continue.


Terimakasih buat semua para pembaca, jangan lupa like dan masukan ke favorit kalian ya.

__ADS_1


😭😭 maaf ya guys author baru bisa upload, lama banget kan maafin author yaa, karena pekerjaan dan kondisi kesehatan author yang tidak stabil makanya baru bisa upload sekarang, semoga di maafin ya.


__ADS_2