
Akhirnya kami sampai di gapura komplek rumah kakek Alex. Saat memasuki daerah itu, daerahnya sangat asri dan sejuk tidak seperti komplek di pinggir kota rasanya seperti sedang berada di sebuah desa di pegunungan. Padahal letak komplek itu tidak jauh dari jalan utama lintas antar kota.
"Lex ini kompleknya emang gini dari dulu??" tanyaku pada Alex.
"Iya Jo, sengaja konsepnya kayak hutan gitu, jadi masih banyak pepohonan yang besar." Jawab Alex.
"Sejuk banget kompleknya, sehat ya udaranya segar." Ucapku kembali.
"Kenapa?? pengen pindah ke sini??" tanya Alex.
"Iya, kayaknya enak tinggal disini ya lex tenang gitu." Ucapku.
"Yaudah yuk nikah samaku biar kita tinggal disini." Jawab Alex.
"Ih dasar main nyosor aja." Ucapku sembari tetap melihat pepohonan.
Alex tertawa karena merasa berhasil menggodaku.
Akhirnya sampailah kami di rumah kakek. Rumah kakek Alex bahan dasarnya papan tapi sangat besar, kelihatan bahwa papan yang di pakai pasti bukan papan biasa. Memiliki halaman yang luas, aku sedikit terpesona dengan bentuk rumah dan furniture di luar rumah yang menjadikan rumah terlihat nyaman, sederhana namun terasa mewah.
Alex mengajakku masuk ke dalam rumah, begitu aku memasuki rumah langsung terlihat ruang khusus tamu yang sangat mewah, disana udah ada dua orang menunggu kami, keduanya laki-laki paruh baya. Sepertinya itu pakde dan kakeknya Alex.
Kami dipersilahkan duduk, dan benar saja di depanku adalah kakek Alex, sementara di depan Alex ada pakde nya. Jujur jantungku berdegup cukup kuat, karena di meja sudah tersedia kendi yang terbuat dari tanah liat yang berisi arang dan bunga-bunga.
Yang semakin membuatku kaget adalah Alex sangat mirip dengan kakek, Alex versi muda dan kakeknya versi tua mereka sangat mirip bahkan sama-sama memiliki lesung pipi.
Kakek yang sadar akan aku yang terus melihatnya tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa nak, kakek terlalu mirip dengan Alex ya??" tanya kakek.
Aku kaget mendengar ucapan kakek dan tersenyum malu.
"Iya kek, mirip sekali dengan Alex." Ucapku.
"Gak cuma kamu kok nak yang heran, satu keluarga kami juga selalu bilang seperti itu setiap kami berdua bertemu seperti ini. Makanya Alex jarang ke rumah kakek takut ada yang salah mengira." Ucap kakek tersenyum.
"Mana mungkin salah mengira, kakek sudah keriput sementara aku belum keriput sama sekali." Ucap Alex.
Ku lihat ke arah Alex.
"Sudah, sudah keriput tau coba deh bercermin." Ucapku sambil sedikit tertawa.
Kakek dan pakde ikut tertawa bersamaku. Aku merasa nyaman berada di dekat mereka semua, aku seperti merasa lepas saat berbicara dengan kakek, pakde, dan Alex. Padahal selama di perjalanan aku merasa takut menghadapi mereka. Tapi aku salah ternyata mereka semua orang-orang baik.
"Semalam mimpi kamu tidak sampai terlalu jauh kan nak??" tanya kakek.
Aku yang kaget, karena aku sama sekali tidak menceritakan hal itu pada kakek, ku lihat Alex, Alex pun wajahnya seperti keheranan karena sepertinya dia belum menceritakannya ke kakek.
"Kakek tau dari mana Jo semalam mimpi kek??" tanya Alex.
"Semenjak, pakde mu cerita. Kakek sudah mengawasi kamu dan temanmu ini dari jauh, makanya kakek tau." Ucap kakek.
Aku hanya terdiam, aku sudah mempersiapkan diri untuk ritual-ritual seperti yang ku tonton di dalam film.
Kakek hanya menatapku dan mengangguk kan kepalanya, kemudian merogoh kantongnya mengeluarkan benda yang di letakkannya di atas meja dekat kendi tersebut. Ku lihat itu sebuah gelang dan cincin permata putih.
__ADS_1
Kakek melihat ke arah Alex.
"Lex sini ulurkan tanganmu." Perintah kakek.
Tanpa bertanya, Alex langsung mengulurkan tangannya. Kakek pun memakaikan Alex gelang berbentuk biji berwarna coklat kehitaman yang pas sekali di tangannya. Saat gelang itu melekat di tangannya, gelang itu terlihat cantik dan berkilau.
"Jangan pernah di lepaskan ingat itu, ini kakek buat khusus untukmu." Ucap kakek.
Kakek mengambil cincin permata putih itu dan melihat ke arahku.
"Nak mau kah kamu memakai cincin seperti ini??" tanya kakek padaku.
"Kek maaf, jika saya boleh tau ini untuk apa ya kek??" tanyaku kembali.
Kakek tersenyum dan kemudian menjelaskannya padaku. Ini cincin nenek dulu, dulu nenek Alex sama sepertimu, memiliki aura yang sangat pekat dan aroma yang sangat harum sehingga mengundang para makhluk untuk menginginkanmu. Memang ini tergantung kepercayaan, jika kamu tidak percaya tidak masalah tapi kamu harus mengenali dirimu dan tau cara menjaga diri.
Di cincin ini tidak ada mantra hanya ada doa-doa sebagai pelindung, kita hanya berusaha. Kita harus lebih yakin akan kuasa doa dan Tuhan. Cincin ini hanya sebagai doa untuk permohonan keselamatan, jika kamu berkenan akan kakek pake kan cincin ini di jarimu.
Aku terdiam dan berpikir beberapa saat, aku sedikit ragu mengenakan hal seperti itu. Tapi mereka orang baik yang berdoa untuk keselamatan ku, aku akan mencoba percaya.
Ilustrasi gelang Alex dan cincin Joana.
To be continue.
__ADS_1
Terimakasih untuk semua pembaca setiaku, dukungan like, komen, share, vote dan hadiah kalian adalah semangatku ❤️.