
Setelah magrib selesai, kami pun bersama-sama menyusun minuman dan cemilan yang sudah di beli Jonathan dan Alex sore tadi.
"Bang, berapa patungannya biar nanti kita kumpulin??" tanya Anggi.
"Gausah, kali ini biar aku sama Alex aja yang nanggung." Jawab Jonathan.
"Jangan gitulah bang. Kalau gitu kita bayar apa adanya kita aja ya, nih tadi udah kita kumpulin." Ucap Ruth sambil memberi uang yang sudah kami kumpulkan 100rb per orang.
"Emang ya junior di atas kita ini susah di bilangin." Ucap Jonathan.
"Gakpapalah bang untuk kebaikan bersama." Ucap Irene sambil tersenyum.
"Terimakasih ya.." Ucap Jonathan.
"Oke bang.." Jawab Ruth.
Setelah selesai menyusun semua minuman dan makanan, kami duduk bersama di ruang tengah menunggu kedatangan teman-teman dari desa lain, tapi tidak semua kali ini hanya kelompok Jesica sekitar 10 orang saja. 2 senior kami dan 8 nya teman-teman seangkatan kami.
Pukul 20.15 wib mereka sampai di kos kami, syukurnya halaman depan rumah kami lebar, jadi kami duduk di teras semua walaupun ada yang duduk di depan pintu juga. Kami yang perempuan menyiapkan bumbu dan minuman sementara yang laki-laki sibuk memanggang makanan yang sudah di beli kelompok Jesica.
Kami makan bersama, sambil mendengarkan musik yang kami hidupkan, bercerita dan saling tertawa bersama. Sepertinya semuanya sudah melupakan kejadian hari itu, tidak ada yang membahasnya sama sekali dan terlihat sepertinya hubungan Jonathan dan Jesica sudah membaik.
Setelah selesai makan, tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing. Aku berpamitan dengan Irene untuk tidur di kamar saat itu sudah jam 22.30 malam. Alex yang awalnya tidak tau aku masuk ke kamar, 15 menit setelah aku masuk dia mencariku dan bertanya pada Irene.
"Ren, Jo mana??" tanya Alex.
"Di kamar bang, ngantuk katanya, pusing kepalanya." Jawab Irene.
__ADS_1
"Oh, iya.." Ucap Alex.
Mereka pun lanjut ngobrol dan tidak menggangu ku di kamar, karena tau aku sedang pusing.
Karena malam itu sangat ramai, aku menutup pintu kamar tapi tidak menguncinya. Walaupun aku sedikit takut, tapi pusing kepalaku mengalahkan rasa takutku, hingga tak lama aku golek, aku pun ketiduran.
Di tengah tidurku, aku mendengar ada yang membuka pintu kamar. Ternyata itu Alex yang datang menghampiriku ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya. Aku yang heran melihat Alex yang datang, seperti setengah sadar aku bertanya.
"Ngapain Lex, ada apa??" tanyaku padanya.
Namun tatapan Alex dan sikapnya tidak seperti biasanya, aku mulai curiga dengan sikapnya yang datang menghampiriku, duduk di sampingku. Aku yang melihat Alex duduk spontan langsung juga duduk, ketika aku sudah duduk Alex malah pindah duduk di hadapanku.
"Kenapa sih, ada apa kok aneh sih Lex??" tanyaku yang sedikit demi sedikit menjauh dan ternyata di belakang ku sudah tembok.
Alex hanya diam, tapi tatapannya aneh melihat ke mataku. Aku yang bingung tidak berani menatap matanya, jantung ku berdegup dengan kencang. Aku mencari handphone ku, ternyata ku cas jauh di ujung kamar.
Alex yang menatapku, tiba-tiba menyentuh rambutku dan menyelipkan nya di belakang telingaku, mendekat dan berbisik.
"Aku menyukaimu Jo, malam ini sebentar saja kita habiskan malam bersama." Ucapnya.
Aku yang mulai sadar hal ini tidak wajar berusaha tetap tenang untuk menolaknya.
"T-erimakasih sudah menyukaiku, tapi tolong jangan seperti ini." Ucapku gemetar.
"Jangan takut sayang, aku gak akan menyakitimu." Jawab Alex yang mulai mengelus pipiku.
Aku yang mulai risih, menghentikan tangannya yang hendak menyentuh bibirku.
__ADS_1
"Tolong jangan seperti ini, aku gak mau melakukan hal seperti ini. Aku dan kamu belum memiliki hubungan apapun." Ucapku.
"Kamu tidak menyukaiku sayang??" tanya Alex sambil menatapku.
Aku yang tidak berani menatapnya, aku mengalihkan pandanganku.
"Aku memang menyukaimu, tapi tidak harus seperti ini Lex. Kita tidak punya hubungan apapun." Jawabku setengah menangis.
"Ayolah sayang, jangan menangis aku tidak menyakiti mu." Ucap Alex yang melanjutkan tangannya mengelus bibirku dan kemudian memegang daguku.
"Lex tolong, jangan melakukannya, tolong." Pintaku yang tidak bisa lagi menahan air mataku.
Entah kenapa aku tidak bisa berteriak, aku hanya bisa berbicara lirih dengannya. Alex yang mengabaikan permintaanku, mulai mencium keningku, pipiku, dan benar saja berakhir di bibirku.
Aku merasa ada yang aneh saat dia mulai mencium bibirku, aku sama sekali tidak bisa bergerak, berontak bahkan untuk mendorongnya aku tidak punya kekuatan, seperti ada yang menahanku.
Aku hanya bisa diam menangis walaupun ciuman Alex semakin dalam dan liar membuatku susah mengontrol nafasku. Aku tidak menyangka Alex melakukan ini padaku, aku jadi marah dan mulai tidak menyukainya.
Aku berdialog dalam hatiku.
"Kenapa Lex, kau lakukan ini padaku. Padahal aku mulai mempercayaimu, aku mulai meyakinkan hatiku untuk percaya, kenapa kau lakukan ini padaku." Aku bergumam dan terisak dalam tangisanku.
Aku berulang kali mencoba menghentikannya, namun saat aku mencoba melawan dan berpaling, aku hanya akan membuat diriku semakin erat dengan dekapannya.
Tapi aku tidak ingin menyerah dan mencoba melawan sekali lagi, aku pun berakhir terlentang karena dekapan dan tindihannya di tubuhku, dia semakin liar, tidak hanya mencium bibirku. Dia mulai menciumku di daerah lain yang membuatku semakin tidak bisa bergerak dan semakin menangis.
To be continue.
__ADS_1
Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Dukung cerita saya dengan like, komen, vote,favorit dan jangan lupa untuk share ke teman-teman lainnya, agar saya semakin semangat untuk update setiap hari ❤️❤️.