Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 15


__ADS_3

Karena kami sepakat bangun lebih pagi, kami semua bangun tepat pukul 06.00 Wib. Kami janjian untuk lari pagi bersama, kami pun bersiap-siap. Setelah kami bersiap, kami para cewe semua keluar dari kamar dan ternyata Jonathan dan Alex juga baru keluar dari kamar. Kami sepakat lari pagi bersama sembari mencari sarapan pagi, karena kami sudah sepakat tidak makan di rumah ibu kos dan juga tidak memasak disana karena cukup merepotkan.


Pagi itu kami lagi-lagi tidak melihat ibu kos kami di rumahnya sendiri, kami sudah cukup lama tidak melihatnya apa dia tidak tidur di rumah ini atau gimana pikirku. Kami semua keluar dari rumah jalan bersama namun tidak saling berbicara, Alex pun membuka pembicaraan.


" Harus ya kita lari pagi setiap pagi gini??" tanyanya dengan suara keras.


"Iya, biar sehat." Jawabku sambil tersenyum ke arahnya.


"Bang, kalau berat gak ikut juga gakpapa kok, kita kan biar ngisi waktu aja lagian udara disini enak makanya kami putuskan lari pagi. Tapi kalau abang-abang merasa gk nyaman dan terganggu gakpapa kok bang kalau gk lari pagi." Ucap Ruth ketua tim kami.


"Aku sih emang biasa lari pagi, lagian biar sekalian nyari sarapan emang gamau makan bro?? " tanya Jonathan sambil menepuk lengan Alex.


" Iya sih, lagian ogah ah tidur sendiri di rumah kek gitu, bising lagi, selalu ada orang ngobrol kalau tengah malam ah stres banget sih aku PKL di daerah ginian, bro lu kok bisa tidur sih tiap malam berisik gtu?? " tanya Alex ke Jonathan.


Aku yang mendengar hal itu, berhenti tiba-tiba dan ternyata temanku yang lain melakukan hal yang sama dan melihat ke arah Alex.


"Iyakan bang ribut banget tiap malam rame banget kyk ngobrol gitu di ruang samping" Ucap Tasya.


" Hah?? aku kok gk dengar apa-apa?? emang kalian semua dengar??" tanyaku.


" Aku dengar sih." Ucap Ruth.


" Aku dengar juga, tapi ya bodo amatlah klo udh ngantuk aku tidur aja." Jawab Jonathan.


" Aku juga dengar dikit." Jawab Irene.


" Tapi aku juga gk dengar apa-apa kok Jo." Jawab Anggi.


"Nah tu Anggi juga gak dengar, aku kok gak dengar ya." Ucapku sambil bertanya-tanya.


"Makanya tidur jangan kayak kebo." Ucap Alex.


Aku spontan memukul lengannya dengan kencang dan dia merintih kesakitan.


"Kurang ajar, sakit banget woi,," ucap Alex sambil mengusap-usap lengannya.


"Makanya punya mulut itu yang manis." Ucapku sambil tersenyum dan bersembunyi di belakang Ruth.

__ADS_1


"Awas kau ya, mulutku manis kau aja yang gatau." Ucap Alex melihatku kesal sambil terus mengusap lengannya dan setelahnya tersenyum nakal ke arahku.


Aku tertawa puas melihat wajah nya yang kesakitan.


" Maksudku ngomongnya Alex." Ucapku.


Semua tertawa melihat tingkah kami, tapi Anggi hanya terdiam. Jonathan yang sadar Anggi tidak seperti biasanya menegur Anggi.


" Kenapa Anggi?? kok dari tadi diam, mikirin apaan?? " Tanya Jonathan.


Gak heran cuma Jonathan yang sadar, karena emang dia orang yang sangat perhatian terhadap sekelilingnya. Awalnya dia perhatian ke aku membuatku senang karena aku mulai menyukainya, ternyata emang sikapnya yang seperti itu ke semua orang, membuatku sedikit kecewa tapi ya cukup menyukainya seperti itu sudah menyenangkan hatiku.


"Itu bang, sebenarnya semalam aku melihat sesuatu kalau itu hanya menyangkut diriku aku gk akan menggubrisnya tapi ini menyangkut kau Joana." Ucap Anggi.


Aku yang bersembunyi di belakang Ruth datang ke arah Anggi, "kenapa Anggi?? " tanyaku karena melihat wajah Anggi yang mulai sedikit terasa takut namun dia cemas.


" Kita cari tempat dulu deh jangan di pinggir jalan gini, yok kita nyari tempat untuk cerita" Ucap Jonathan.


" Iya, kita melipir dulu yok," ucap Tasya.


"Anggi kenapa?? ada apa tadi malam??" tanyaku ke Anggi.


" Tadi malam aku gk mendengar suara apapun semua hening dan sepi, aku terbangun jam 2.30 Wib gitu kalau gak salah. Aku melihat ke arahmu Jo dan berniat untuk bangun membaca Alquran sambil menunggu waktu sholat subuh karena aku gak bisa tidur lagi. Setelah melihat ke arahmu aku melihat ke arah langit-langit kamar kita karena ingin bangkit, sebenarnya bukan karena gk sengaja tapi emang, aku seperti ingin melihat ke atas. Ku liat ke atas samar-samar aku melihat kain putih lusuh, ku perjelas pandanganku aku melihat seorang perempuan duduk di atas kayu di atap melihat ke bawah tapi tidak melihatku, tepat sejajar dengan kau tidur, saat itu aku ingat kau tidur telentang Jo. Awalnya aku kira aku mimpi namun aku tidak bisa bergerak dan berteriak sama sekali, dan aku melihat Jo dia sangat menyeramkan wajahnya sebelah tertutupi dengan rambutnya yang berantakan namun sebelahnya hancur dan bercucuran darah, darahnya menetes Jo aku gatau kena ke kau atau enggak, Makin jelas ku liat dia tersenyum namun hanya melihatmu saja Jo. Tidak lama semua pandanganku gelap ku simpulkan seperti nya aku pingsan, makanya aku gak sholat subuh pagi ini." Ucap Anggi.


Aku mendengar cerita Anggi terdiam, namun jantungku jadi berdegup dengan kencang, aku menelan ludah dan menghela nafas.


" Itu apaan ya." Ucapku lirih namun wajahku memucat kata teman-temanku.


" Gatau Jo, tapi kau jangan tidur di situ lagi ya Jo pindah posisi aja." Usul Anggi.


" Udah, udah, kali aja kau mimpi Anggi." Ucap Alex.


" Mudah-mudahan sih bang." Jawab Anggi.


"Udah gausah di bahas lagi ya kalau udah sampe rumah, kita abaikan aja anggap aja mimpi, oke teman-teman." Ucap Jonathan.


" Tapi aku gamau ya tidur di tempat Jo." Ucap Tasya.

__ADS_1


" Aku juga gamau, takut." Ucap Irene.


" Udah tenang, aku aja yang tidur di situ, Jo kau tidur di tempatku aja ya." Ucap Ruth.


" Makasih Ruth." Ucapku.


" Oke, santai aja Jo, makan yuk lapar nih." Ucap Ruth.


"Yuk." Ucap yang lainnya sambil berdiri dan jalan pelan-pelan.


Aku berjalan di belakang, benar aku masih memikirkan perkataan Anggi aku sedikit takut namun aku bersyukur bukan aku yang melihat hal seperti itu. Aku berjalan pelan, tanpa ku sadari aku berjalan bersama Alex aku sadar ketika dia dengan sengaja menepuk lenganku katanya membalas perbuatan ku tadi.


" Kena kau.." Ucap Alex sambil menepuk lenganku.


Aku yang kaget spontan sedikit berteriak.


" Ih sakit banget Alex." Ucapku sambil mengusap lenganku.


" Bodo amat yang penting kita seri." Jawab Alex.


" Dasar pendendam." Ucapku sambil melirik kesal ke arahnya yang sekarang sudah tepat di depanku.


Alex tertawa puas melihat ekspresi ku.


" Kalian berantam mulu, ntar jodoh." Ucap Tasya.


" Idih ogah jodoh sama orang kayak begini, pendendam lagi." Ucapku.


" Siapa juga yang jodoh sama orang lemot, keriting kayak situ." Ucap Alex tertawa.


"Ih.." Ucapku kesal.


Semua tertawa sambil berjalan. Gak terasa kami bertemu warung lontong pinggir jalan dan kami memutuskan sarapan disana. Kami duduk bersama minum teh manis hangat, sambil makan gorengan menunggu pesanan kami datang dan menghirup udara pagi yang amat segar. Walaupun mengalami banyak hal tapi aku merasa nyaman dengan udara di desa ini karena sangat segar dan terasa bersih. Kami minum dan makan sambil termenung menikmati udara segar pagi hari.


To be continue.


Terimakasih untuk semua pembaca yang tetap setia menunggu update dari saya, maaf jika ada kesalahan dalam penulisan. Saya juga minta maaf untuk jadwal upload yang tidak menentu kedepannya saya akan berusaha sebaik mungkin untuk upload setiap hari, terimakasih untuk dukungan teman-teman..

__ADS_1


__ADS_2