Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 8


__ADS_3

Aku pun mulai menceritakan mimpiku kepada teman-teman.


“Aku mimpi aku bangun di sebuah rumah, aku gatau rumah siapa tapi rumahnya cukup besar aku mengelilingi rumah itu, rumah itu kayak gak asing gitu tapi suasananya gelap hanya ada satu lilin kecil yang sedang ku pegang, aku melihat dapur, di dapur itu aku melihat seorang ibu-ibu sudah cukup tua badannya bungkuk dia memasak di kayu sambil duduk meniup kayu-kayu itu, dia tidak melihatku dia hanya fokus ke masakannya saja. Trus aku pergi dari dapur ke ruang tengah disana aku ngeliat kalian duduk ketawa bareng-bareng, aku dekati kalian dan panggil kalian. Tapi kalian gak ada yang liat aku, bahkan kalian gak menoleh ke arahku aku bingung trus aku jadi deqdeqan banget. Karena kalian gak liat aku, aku jalan lagi cari pintu keluar karena bagiku tempat itu udah mulai buatku sesak nafas.”


Aku menarik nafas, ntah kenapa selama aku menceritakan itu keringatku mengalir terus semakin banyak seperti habis olahraga. Aku mulai merasa gak nyaman tapi tetap mencoba untuk melanjutkan ceritaku karena teman-temanku yang sangat penasaran sama mimpiku. Aku melanjutkan ceritanya setelah menarik nafas panjang.


“Trus aku menyusuri ruangan memasuki ruangan tepat di sebelah kiri dari ruang tengah disana aku melihat ibu kos kita dan suaminya duduk bersama menonton televisi, mereka seolah tidak melihatku tapi ketika melihat mereka, wajah mereka pucat putih seperti tidak ada darahnya tatapan mereka juga kosong dan yang lebih anehnya mata mereka tidak berkedip saat melihat televisi di depan mereka. Aku penasaran dan mencoba lebih dekat lagi ketika aku mendekat tiba-tiba kepala mereka melihatku dengan sangat cepat aku kaget dan jatuh. Syukurnya lilin yang ku pegang tidak jatuh namun aku mencoba kembali berdiri berjalan mundur agak menjauh lalu membalikkan badanku. Disitu aku bener-bener pengen nangis aku bingung banget aku gatau aku ada dimana. Yaudah aku jadinya nangis, tapi aku tetap usaha cari jalan keluar aku memasuki satu lorong di rumah itu yang ku pikir tadinya pintu utama jadikan bisa keluar tuh, aku menelusurinya ku buka pintunya setelah ku buka aku dikagetkan lagi ada wajah yang tiba-tiba muncul di depanku matanya melotot tapi tersenyum aku kaget dan teriak setelah ku perhatikan ternyata itu patung manekin, patung manekin tanpa baju namun dia bergerak. Aku teriak, aku nangis ku campakkan lilinnya trus aku kebangun deh. Gitu ceritanya.”


Aku mengelap keringat dengan bajuku, disitu Jonathan dan Alex sama-sama sangat memperhatikan raut wajahku. Tiba-tiba Alex berkata.


“Jo, kau gakpapa kan?? Pucat banget.”


Semua kaget mendengar kata-kata Alex. Tanpa sadar Jonathan yang berada di depanku menyentuh keningku.


“Panas badanmu, kita pulang aja ya.” Ucap Jonathan.


“Ah masa sih, enggak kok aku gakpapa.” Jawabku.


“Gak beres sih mimpi kau Jo.” Ucap Alex.


“Udah banyak doa aja gausah dipikiran anggap aja perkenalan di tempat baru.” Sambung Jonathan.


Teman-teman yang lain masih terbengong tiba-tiba Irene yang tepat di sampingku memelukku.


“Kau pasti syok kan Jo, pantesan kau tuh histeris banget sampe gemetar seluruh badanmu.” Ucap Irene yang sedang memelukku.


“Perasaanku kok gak enak ya, yaudah deh mulai nanti malam gak ada lagi yang mandi malam dan matiin lampu kalau tidur. Kita tidur dengan lampu nyala aja deh.” Ucap Ruth.


“Iya setuju,” Ucap Tasya.


“Aku juga setuju,” sambung Anggi.


“Aku gakpapa kok Ren, udah ah gausah lebay.” Ucapku pada Irene yang masih memelukku.


“Tapi Jo, bang Nat bener badanmu panas banget nih pucat lagi tuh wajah." Ucap Irene.


“Apaan Ren??? Bang Nat??” sambung Jonathan.


“Iya bang Nat, napa bang?? Yakan nama kalian tuh sama jadi ku putuskan manggil mu bang Nat.” Jawab Irene.


“Tanggung amat sih Ren sambung lagi napa irit banget manggil namaku.” Ucap Jonathan.


“Udah ah ga boleh komplain bang, biar gampang oke.” Jawab Irene sambil tersenyum puas.

__ADS_1


Jonathan hanya menatap Irene dan kembali melihat ke arahku.


“Aku gakpapa Ren, mungkin karena kurang tidur kali. Oh iya Anggi kamu gak sholat?? Udah adzan tuh Nggi.” Ucapku.


“Iya nih Jo, aku mau sholat dulu. Dekat kan ya masjid dari sini??” tanya Anggi sambil melihat sekitar.


“Mau ditemani gak??” tanya Alex.


“Aku juga lagi mau nyari warung nih beli minuman sama cemilan kayaknya tuh, di dekat masjid ada warung biar sekalian aja aku tungguin di warung.” Sambung Alex.


“Boleh deh bang.” Jawab Anggi.


“Aku tungguin di warung ya Nggi, jangan malah ninggalin loh.” Ucap Alex.


“Iya, iya bang.” Jawab Anggi.


“Yuk bang.” Ajak Anggi.


Mereka berdua pun bergegas berjalan, belum selangkah jalan tiba-tiba Jonathan ikut dengan mereka.


“Aku ikut deh mau nyari minum juga.” Ucap Jonathan.


“Belikan untuk kita juga ya abang-abang.” Ucap Tasya dengan senyum manisnya.


“Hah iya.” Jawab Jonathan.


“Iya Nggi, hati-hati ya.” Jawabku.


“Oke Jo, chat aja kalau pengen sesuatu ntar ku beliin.” Ucap Anggi kembali.


“Kamu beliin aja deh Nggi yang kamu juga beli aku juga lapar nanti aku ganti ya.” Jawabku pada Anggi.


“Yang lain juga sama kan??” tanya Anggi.


“Iya,” jawab Ruth dan Irene serentak.


“Hati-hati.” Ucapku kembali.


Setelah mereka pergi aku pun memilih tiduran di paha Irene, sebenarnya dari tadi aku juga udah merasa pusing saat menceritakan mimpiku kembali namun aku tidak mau hal itu diketahui teman-temanku. Aku merasa gak enak kalau harus menyusahkan banyak orang.


“Ren aku numpang tiduran ya di paha mu, boleh gak??” tanyaku sambil memandang Irene.


“Bolehlah Jo, kayak baru kenal aja deh.” Jawab Irene.

__ADS_1


“Makasih Irene." Ucapku.


Sedikit tentangku dan Irene. Aku kenal Irene saat ospek kuliah, dia datang sendirian dengan rambut yang dikepang dua membawa bat nama dengan dikalungkan dileher menggunakan tali plastik. Dan aku yang tidak membawa apapun kaget melihat penampilan Irene, aku hanya menggunakan kemeja putih, rok hitam dan sepatu putih. Saat Irene mendekat aku langsung bertanya padanya.


“Kamu jurusan apa ya??” tanyaku.


“Aku jurusan sosiologi kak.” Jawab Irene saat itu.


Aku gak tau apa yang ada dipikirannya tapi dia memanggilku kakak, sepertinya dia mengira aku adalah kakak kelasnya yang menyamar jadi mahasiswa.


“Oh, kamu kok pakaiannya gitu?? Emang ada pengumuman ya memakai bat nama dan mengepang rambut??” tanyaku dengan polos, namun ternyata membuat Irene khawatir. Terlihat dari wajahnya yang gugup melihatku, padahal aku bertanya karena memang tidak tau apa-apa soal ini semua.


“Iya memang gitu kak pengumumannya.” Jawab Irene.


“Kamu jangan panggil aku kak, kita satu jurusan dan aku juga murid baru. Aku bertanya karena tidak tau pengumuman ini, gimana ya.” Ucapku ke Irene saat itu.


“Serius kamu murid baru??” tanya Irene memastikan.


“ Iya.” Jawabku.


Kami mulai berjalan masuk ke dalam fakultas disana hatiku benar-benar gak karuan aku merasa frustasi takut akan hukuman yang akan ku terima sendirian.


“Waduh mampus ni aku di hukum sendirian, ihh kenapa sih bego amat.” Gumam ku dalam hati.


Saat sampai di fakultas dari jauh aku sudah melihat seluruh murid yang akan di ospek memakai perlengkapan dengan lengkap tak ada satu pun yang tidak memakai perlengkapan aku benar-benar takut saat itu.


“Habislah aku hari ini.” Ucapku dalam hati.


“Kamu benar-benar gak tau pengumumannya??” tanya Irene saat itu.


“Enggak aku beneran gak tau.” Jawabku dengan suara sedikit bergetar.


Tiba-tiba Irene menarik tanganku mengisyaratkan untuk berhenti sejenak, dia membuka kepangan nya dan mengikat rambutnya jadi satu. Dia membuka bat namanya, aku yang melihatnya sangat heran dan kaget.


“Kenapa kamu buka??” tanyaku kaget.


“Biar kita sama-sama dihukum, emang mau di hukum sendirian?? kalau ada temannya kan bisa jadi kenangan bersama.” Ucapnya dengan senyuman.


“Kamu gak perlu gini, aku gakpapa kalau pun harus dihukum.” Ucapku ke Irene.


“Udah ayok, kita lalui sama-sama aja kan seru.” Ucapnya padaku.


Aku yang kaget melihat tindakan Irene hanya bisa terdiam dan terbengong melihat tingkah polosnya dengan senyuman yang tulus dia menarik tanganku dengan semangat, padahal di depan sana hukuman akan berlangsung kejam. Hari itulah pertama kali kami bertemu dan menjadi teman, sejak saat itulah aku menjadi akrab dengan Irene. Walaupun hingga saat ini aku masih takut menjadi amat sangat dekat dengannya tapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Benar katanya saat itu jika dilalui bersama akan terasa menyenangkan dan menjadi seru, aku takut menyebutnya sebagai sahabat karena setiap orang yang ku sebut sahabat akan pergi dari sisiku. Aku ingin dia terus berada di sisiku seperti ini dia teman terbaikku.

__ADS_1


Aku pun tertidur di atas paha Irene, angin yang berhembus, pohon yang rindang, menjadikan aula terasa sangat sejuk dan membuatku tertidur.


To be continue.....


__ADS_2