Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 18


__ADS_3

Akhirnya kami sampai di pantai, kami sampai pukul 11.35 Wib, tidak terlalu panas namun tidak sejuk juga. Aku sangat menyukai pantai, aku langsung berjalan mencari pondok yang sejuk dan nyaman untuk kami mengerjakan laporan PKL kami. Aku memilih pondok yang tidak jauh dari pinggir pantai, pondok yang ku pilih di apit oleh dua pohon kelapa.


Aku sampai paling pertama, diikuti oleh Alex yang langsung duduk di sampingku.


" Panas kali ya Jo, makan dulu yuk lapar nih." Ucap Alex.


Namun Alex tidak seperti biasanya dia sangat berkeringat dan wajahnya lesu sedikit pucat.


" Nih anak kenapa kok kayak lemas banget ya." Ucapku dalam hati.


" Oh iya, yaudah yuk pesan makanan aja langsung." Ucapku membalas perkataan Alex.


Kami hendak pergi teman-teman yang lain sampai.


" Mau kemana kalian??" tanya Tasya.


" Mau pesan makan, kalian wa di grup aja ya biar kita pesankan, nanti ku foto menunya ya." Jawabku.


" Oke Jo, makasih ya." Ucap Tasya.


" Oke.." Jawabku.


Aku dan Alex jalan menuju kantin di pantai, kantin dari pondok kami tidak terlalu jauh namun tidak dekat juga, sepanjang jalan aku berjalan di samping Alex namun sedikit ke belakang dia emang terlihat sangat lemas, tidak banyak bicara wajahnya pun lesu. Aku ingin bertanya tapi masih segan untuk menanyakannya, aku memilih diam.


Sesampainya di kantin, Alex terduduk dan memesan makanannya, kemudian aku memesan makananku dan pesanan teman-teman aku minta tolong ke ibu kantin untuk mengantarkan pesanan kami ke pondok.


" Yuk balik ke pondok, aku udah selesai memesan." Ucapku.


" Sebentar lagi ya Jo, badanku kurang fit." Jawab Alex.


Entah apa yang merasuki ku tanganku memegang dahinya, dahi Alex terasa sangat panas. kemudian aku memegang tangannya, tangannya terasa dingin aku kaget.


"Kamu sakit ya???" tanyaku ke Alex.


Alex terdiam menatapku yang mengecek keadaannya.


" Eh, maaf ya bang, aku gk bermaksud gak sopan tapi aku melihatmu sangat lemas jadi aku tanpa sadar memegang dahi mu, aku minta maaf ya bang udah lancang." Ucapku.


Dari wajahnya yang serius melihatku, tiba-tiba dia tersenyum.


" Akhirnya kau memanggilku abang juga." Ucap Alex.


" Idih apaan sih gak jelas banget." Jawabku.


" Aku kurang sehat, tapi aku tidak lemah sepertimu." Ucap Alex sambil tersenyum.

__ADS_1


" Idih,," ucapku.


Karena kasian melihat wajahnya aku meminta air hangat dan membeli obat demam di kantin itu, syukurnya ada kemudian aku meletakkannya di meja.


" Nih minum obat, jangan buat susah kami." Ucapku sambil duduk di kursi di hadapannya.


" Iya, terimakasih juniorku." Ucap Alex.


Aku hanya melihatnya dengan wajah jutek.


" Udah selesai??" tanyaku.


" Udah, yok balik ke pondok,," Ucap Alex.


Aku berdiri tanpa menjawab ucapan Alex, aku berjalan di depannya.


" Bu tolong antar makanan kami ke pondok yang ada di sana ya bu, terimakasih bu,," ucap Alex.


Aku melihat ke belakang dan berjalan cepat.


" Tunggu aku, nanti aku pingsan kau gak tau loh dek.." Ucap Alex menggodaku.


" Bodo amat." Jawabku.


Alex tertawa di belakangku.


" Wihh, cepat amat ngerjainnya," ucapku.


" Biar bisa lama Jo nikmatin pantai." Jawab Ruth.


Aku duduk di pondok melihat ke pantai, dan di susul Alex yang duduk di samping Jonathan.


" Jo, gk ngerjain laporan??" tanya Irene.


" Entar aja Ren, selesai makan." jawabku.


"Entar kita semua main kau ngerjain laporan sendirian loh, kerjain gih." Ucap Irene.


" Gak loading aku kalau kampung tengah belum full." Jawabku sambil tersenyum ke arah irene.


" Dasar,," jawab Irene yang tetap fokus ke laporannya.


20 menit kemudian pesanan kami datang, teman-temanku menutup laptop dan laporannya. Kami makan bersama di pondok, entah kenapa aku sedikit khawatir dengan Alex sesekali ku lirik dia untuk melihat keadaannya, syukurnya sepertinya sudah sedikit membaik. Dan syukurnya lagi dia tidak tau dari tadi aku meliriknya.


Kami makan sambil sedikit mengobrol, dan tertawa, hembusan angin pantai membuatku merasa sangat nyaman dan segar. Setelah selesai makan kami semua pun membuka laporan dan laptop kami, kami mengerjakan laporan kami tanpa berbicara sepatah kata pun, kami berlomba mengerjakannya agar dapat bermain di pantai.

__ADS_1


Tanpa terasa sudah pukul 15.00 wib, akhirnya aku menyelesaikan laporan pertamaku, aku senang dan lega, ku liat teman-temanku ternyata mereka sudah pada bermain di pinggir pantai, karena terlalu asik aku mengerjakan laporan aku gak sadar hanya aku, Alex dan Jonathan yang tinggal di pondok.


" Kemana yang lain??" tanyaku heran menatap Jonathan.


" Itu,," ucap Jonathan sambil menunjuk ke arah pantai.


" Ihh gk nungguin aku lagi." Gerutu ku.


Jonathan hanya tersenyum.


" Yaudah kesana aja gih, gitu aja ribet." Ucap Alex.


Aku langsung menoleh ke arahnya, ku pikir dia sedang tertidur ternyata tidak.


Aku berdiri dan hendak menghampiri teman-temanku, di pertengahan jalan aku hendak menghampiri teman-temanku, Ayah menghubungiku. Biasanya ayah dan ibu hanya mengirim pesan dari chatting atau langsung video call aku. Dengan sedikit heran namun dengan cepat ku angkat.


" Halo, ayah ada apa??" tanyaku.


" Sayang, kamu lagi dimana?? " tanya ayah kembali padaku.


" Lagi mengerjakan laporan ayah, kenapa??" Jawabku dan bertanya kembali.


" Mamamu nak, sudah 3 hari demam, naik turun panasnya dia terus bermimpi tentangmu." Ucap ayah.


" Apa sudah di bawa ke rumah sakit ayah??" tanyaku.


" Sudah, kamu baik-baik saja kan?? mamamu terus merasa gelisah memikirkan mu." Ucap ayah.


" Ayah, aku baik-baik saja, bilang ke mama tidak usah khawatir baru juga aku 4 hari gak jadi bodyguard nya masa sudah rindu" ucapku sambil sedikit tertawa.


" Itulah mamamu, lebih mencintai bodyguard nya dari pada suaminya." Ucap ayah.


aku tertawa.


" Ayah, mama, sehat-sehat disana ya jangan terlalu memikirkan aku, aku disini baik-baik aja, kalau tidak percaya sesekali boleh datang mengunjungi ku tapi bawakan aku makanan enak ya yah." Ucapku ke ayah.


" Siap tuan putri, ya sudah ayah mau menyuapi mamamu dulu ya, jaga kesehatan nya ya sayang, ingat jangan nakal." Pesan ayah.


" Siap ayah." Ucapku.


Ayah mematikan panggilannya, aku yang dari tadi berdiri sedikit berjalan ke arah berlawanan dengan keberadaan teman-temanku, aku duduk sendiri di sebuah bangku di pantai. Aku paling tidak bisa mendengar ayah atau ibuku jatuh sakit, tidak bisa ku pungkiri pikiranku sangat susah jika diantara mereka jatuh sakit.


Aku takut melihat keluarga ku sakit sejak kepergian nenek, nenek yang amat sangat ku sayangi. Nenek pergi setelah sakit dua hari, hanya dua hari dia sakit setelah itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Hal ini membuatku amat sangat takut, karena nenek yang awalnya sangat sehat dan bugar pergi dalam waktu sekejap.


Aku berdoa dalam hati semoga mama baik-baik saja dan cepat sembuh.

__ADS_1


To be continue.


__ADS_2