
Saat hendak tidur, Alex gelisah. Dia bingung bagaimana caranya menyampaikan padaku agar aku mau ikut bersamanya ke rumah kakeknya yang tidak terlalu jauh dari daerah penelitian kami. Dalam lamunannya Jonathan menyadarkannya.
"Kenapa Lex, sejak pulang tadi kau termenung??" tanya Jonathan.
"Ada yang sedang ku pikirkan Jo, aku jadi bingung." Jawab Alex.
"Emangnya soal apa??" tanya Jonathan kembali.
"Aku belum bisa memberitahumu, jika waktunya sudah pas pasti akan ku beritahu." Jawab Alex.
"Soal kita semua kan?? sudah kau ceritakan pada pakde??" tanya Jonathan.
Alex melihat ke arah Jonathan, kemudian memalingkan wajahnya tanpa menjawab perkataan Jonathan.
"Joana, bawa dia ke kakek, ceritakan saja keadaannya. Tapi tidak usah semuanya kau ceritakan, agar Joana percaya padamu." Ucap Jonathan.
"Joana, dia sudah diikuti sejak awal masuk ke rumah ini. Sepertinya hal buruk akan terjadi padanya." Sambung Jonathan.
"Kenapa baru bicara sekarang??" tanya Alex.
"Aku mencoba melindungi nya sebisaku dengan menjauhkan "mereka" dari Joana, tapi sepertinya itu tidak berpengaruh apapun. Keputusanmu untuk cerita pada pakde hal yang tepat, jadi bawa saja Joana pada kakek agar dia baik-baik saja." Jawab Jonathan.
"Bantu aku meyakinkannya dan teman-teman." Pinta Alex.
"Oke, kalau gitu besok selesai penelitian kita pergi ke pantai untuk saling cerita. Disana kita jelaskan keadaannya agar Joana mau ikut denganmu ke rumah kakek." Ucap Jonathan.
"Oke.." Jawab Alex.
"Kapan mau bawa dia ke kakek??" tanya Jonathan.
"Sabtu pagi, agar bisa sampai sore disini atau malam." Jawab Alex.
"Baguslah, lebih cepat lebih baik." Ucap Jonathan.
__ADS_1
"Hmm." Gumam Alex.
Mereka pun saling diam, dan akhirnya tertidur.
Keesokan paginya Alex bangun lebih cepat, jam 6 pagi dia sudah terbangun begitu juga dengan Jonathan. Mereka berdua keluar dari kamar membuka pintu depan, mereka menikmati udara pagi yang sangat segar.
Alex yang iseng, meneleponku sebanyak 3 kali, di telepon yang ketiga aku mengangkat telepon Alex.
"Hmm halo, ada apa??" tanyaku.
Alex yang senang mendengar suaraku baru bangun tidur menjadi berdebar seketika.
"Bangun, udah pagi. Katanya mau penelitian pagi aku dan Jonathan sudah menunggu ni." Jawab Alex.
"Emang udah jam berapa Lex??" tanyaku.
"Jam 7 pagi." Jawab Alex.
"Di ruang tengah sama Jonathan." Jawab Alex.
Aku yang langsung percaya perkataan Alex tidak lagi mengecek jam di handphone ku, aku langsung membuka pintu kamar, membasuh wajah ke kamar mandi. Setelahnya aku menghampiri Alex dan Jonathan, ku lihat ke arah pintu luar yang memang sudah terbuka.
"Kok masih gelap udah jam 7, mau hujan ya??" tanyaku sambil melihat ke arah luar pintu.
"Enggak, emang masih gelap." Jawab Alex.
Dengan polosnya aku menjawab.
"Enggak ah, semalam jam 7 pagi udah terang kok." Ucapku.
Alex dan Jonathan spontan tertawa, aku yang aneh melihat mereka tertawa tanpa memikirkan apa yang barusan ku bilang langsung melihat handphone untuk mengecek jam. Ternyata masih jam 6.15 pagi, ku tatap Alex dengan sinis.
"Ah Lex, gangguin tidurku aja pun ih." Ucapku dan langsung bersandar ke kursi yang sedang ku duduki.
__ADS_1
Alex hanya tertawa, begitu juga dengan Jonathan yang tersenyum melihat sikapku.
"Gakpapa lah Jo, kan enak bangun pagi segar kan." Ucap Alex.
"Iya, iya.." Jawabku dengan sedikit kesal.
"Yaudah kalau gitu aku mau ganggu tidur mereka semua." Ucapku sambil berdiri dan masuk kamar tanpa menutupnya kembali.
"Wee bangun wee, penelitian biar pulang cepat." Ucapku bersemangat.
Semua terbangun dan melihat ke arahku.
"Tumben udah bangun Jo." Ucap Anggi.
"Iya, di ganggu Alex tadi." Jawabku.
"Jadi, handphone mu yang berdering dari tadi itu telepon dari Alex??" tanya Tasya.
"Iya, iseng banget dia." Jawabku.
"Kalian udah pacaran ya??" tanya Ruth.
"Enggak, udah ah yok Ren bangun mandi." Ucapku sambil mengambil handuk dan peralatan mandi ku.
"Iya iya, luan Jo nanti aku nyusul." Ucap Irene.
"Bentar lagi, bentar lagi juga jadian." Ucap Ruth.
Aku langsung bergegas keluar dari kamar menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh teman-temanku, mengenai hubunganku dengan Alex. Tapi entah mengapa belakangan ini, saat aku tau dia tertarik padaku, jantungku terus berdetak kencang saat di tatap olehnya. Aku juga takut, aku takut terjadi hal yang sama saat aku mulai terlalu dekat dengan Alex. Oleh karenanya, sampai hari ini aku masih membatasi diriku walaupun aku juga mulai menyukainya.
To be continue.
Terimakasih untuk semua pembaca setiaku, dukungan like, komen, share, vote dan hadiah kalian adalah semangatku ❤️❤️.
__ADS_1