
Desa Tanjung Beringin desa yang kecil dan asri. Di desa ini 85% rumah masih tradisional. Adapun rumah yang terbuat dari papan maupun yang sudah beton memiliki arsitektur seperti rumah adat melayu yaitu rumah panggung. Tidak hanya bentuk rumah saja yang masih tradisional, setiap rumah yang berbentuk rumah panggung dihiasi dengan ornamen-ornamen khas Melayu.
Kami sangat menikmati perjalanan kami di desa yang menurut kami unik, namun ada satu kekurangan di desa ini. Desa ini kurang bersih, sampah dimana-dimana sangat jarang kami temuin tempat sampah sepanjang perjalanan kami menuju ujung desa. Bahkan banyak halaman dari rumah warga, selokan warga yang penuh dengan sampah.
Tugas kami di desa ini sesuai dengan ketentuan prodi, kami harus bisa setidaknya mengurangi sedikit penyebaran wabah sampah yang ada di desa ini. Dengan memberikan edukasi serta membangun fasilitas tempat sampah di desa ini agar masyarakat lebih memperhatikan kebersihan lingkungannya. Dengan begitu akan jauh dari wabah penyakit.
Sesampainya di TPA kami melihat sangat sedikit sampah disana, hal itu dapat membuat kami menyimpulkan hal inilah yang menyebabkan penyebaran sampah di desa merata. Karena warga tidak membuang sampah rumah tangga, plastik di TPA dan hanya menumpuk sampah-sampah di depan rumah tanpa dibakar atau di daur ulang.
Syukurnya TPA yang ada di desa ini tidak terlalu dekat dengan rumah masyarakat, sepertinya memang di desain pemerintah daerah TPA yang jauh dari lingkungan masyarakat tinggal, agar masyarakat tidak terkontaminasi oleh bau tak sedap dari sampah. Namun kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di TPA amat sangat rendah.
Setelah kami melakukan observasi kami memutuskan untuk berkumpul lagi setelah makan siang di gazebo (teras) aula desa. pagi tadi kami berangkat pukul 09.30 wib dan selesai observasi kami pukul 11.00 wib. Setelah selesai melakukan observasi kami pergi mencari rumah makan yang ada di sekitaran tidak jauh dari kami melakukan observasi untuk makan siang, kami makan bersama di rumah makan itu. Kami makan sambil saling bercerita mengenai rumah unik di desa ini.
Sepanjang kami bersama-sama aku sangat merasa canggung dengan Alex, sehingga sepanjang hari ini aku terus menghindarinya. Aku sangat menjaga jarak dengannya karena aku malu dan tidak bisa melupakan kejadian itu. Ditambah lagi aku kesal karena harus canggung seperti itu membuatku tidak bisa menarik perhatian Jonathan. Jujur saja aku menyukai Jonathan, walaupun pertemuan pertama kami tidak begitu baik. Namun di mataku Jonathan sangat menarik, lembut dengan tatapannya yang sejuk membuatku terus ingin menatapnya.
Setelah selesai makan kami mencari angkutan umum yang sedang parkir di daerah itu, kami menghampiri dua becak dan pergi ke aula desa. Sesampainya di aula desa kami duduk bersama-sama di teras yang tidak jauh dari aula desa, disana kami membicarakan mengenai pembagian tugas yang kami susun menjadi dua kelompok. Kelompok pertama Ruth, Anggi dan Jonathan tugas mereka melakukan wawancara ke masyarakat sekitar mengenai sampah.
Aku, Irene, Tasya dan Alex menjadi kelompok dua tugas kami melakukan observasi dan sosialisasi ke masyarakat mengenai penanggulangan sampah serta bahayanya sampah bagi lingkungan dan masyarakat.
Setelah kami membicarakan tugas kami Irene membahas masalah tadi pagi.
“Jujur ya, aku tuh masih bingung tadi pagi jelas-jelas Jo tidur di kamar kenapa kau tiba-tiba pulang lari pagi. Tapi setelah di cek ulang di kamar kosong, kok aku jadi males ya tinggal disana.” Ucap Irene.
“Ren, kan tadi sepakat gak bahas lagi kok jadi di bahas sih ren.” Ucap Jonathan sambil menatap Irene.
“Iya bang, maaf. Tapi aku rada khawatir sama Joana.” Jawab Irene kembali.
“Ren, tenang aja kita doa bareng-bareng. Aku janji deh gk bakal ngapa-ngapain tanpa kalian.” Ucapku meyakinkan Irene.
“Bener ya Jo.” Ucap Irene menatapku tajam.
“Iya Irene..” Jawabku sambil mengusap tangan Irene.
__ADS_1
“Udah, gausah di bahas deh yang aneh-aneh. Kita masih tinggal disana lama lagi.” Ucap Jonathan.
“Iya Ren, bener tuh kata bang Nathan.” Ucap Anggi.
Seketika semuanya hening, angin yang berhembus membuat kami merasa nyaman dan tenang disana, aku duduk tepat di samping Jonathan dan Irene. Tapi entah mengapa aku selalu kepikiran kejadian yang ku alami bersama Alex. Aku jadi canggung dan bingung melihat Alex, dia yang tadinya sangat menyebalkan mengapa menjadi begitu pendiam hari ini. Membuatku bingung dan tidak nyaman, ku beranikan diri mengatakan sesuatu padanya.
“Hmm, lex.. bang lex.” Ucapku kepada Alex.
Sontak semua teman-temanku melihatku sambil tersenyum menggelikan.
“Apaan.” Jawab Alex datar.
“Sorry masalah tadi pagi, aku gk sengaja. Jadi jangan bete gitu aku jadi canggung serba salah tau.” Ucapku sambil menundukkan kepala.
“Iya tau kok, lagian aku gk bete. Situ aja yang canggung dari tadi. Kenapa terbayang-bayang di pangkuanku ya,,” Jawab Alex sambil menggodaku.
Aku kaget, spontan menatap ke arahnya dengan pandangan menggelikan.
“Ihh belajar dari mana sih gombalan mu receh banget lex.” Jawabku sambil memandangnya geli.
“Idih, apaan sih gak jelas.” Jawabku spontan.
Alex hanya tersenyum.
“Setelah ini kita kemana nih Ruth??” tanya Tasya pada Ruth.
“Kita kan udah observasi nih, udah bagi kelompok juga yaudah besok tinggal jalan aja sama kelompok masing-masing, setiap malam kita ngumpul buat hasil laporan biar cepat kelar kita juga bisa santai sekalian liburan ya gak,,” jawab Ruth sambil melirik ke Tasya.
“Oke deh, berarti hari ini udah selesaikan??” tanya Tasya kembali.
“Udah.” Jawab Ruth.
__ADS_1
Tasya hanya terdiam, tiba-tiba aku kepikiran pantai, kayaknya seru kalau ke pantai. Jarak pantai dari rumah kos kami tidaklah jauh sekitar 45 menit.
“Ke pantai yuk,,” ajakku.
“Boleh juga tuh Jo.” Ucap Anggi.
“Yuk lah yuk,,” ucap Irene dengan semangat.
“Naik apa kita woi, lumayan juga loh jaraknya.” Ucap Ruth.
“Tanya tukang becak kita mau gak mereka antar kesana, nego harga kitanya.” Usulku.
“Oke, aku telfon dulu ya.” Ucap Tasya.
Tasya langsung bergegas menelfon dan menanyakan harga dengan tukang becak langganan kami. Tanpa sengaja aku melirik Jonathan yang sedari tadi hanya diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu. Karena aku melihatnya seperti itu rasa ingin mengagetkannya pun muncul dari dalam pikiranku. Aku bersiap mengagetkannya supaya dia berhenti melamun seperti itu.
Saat aku ingin memukul pundaknya, entah emang dia sadar atau emang sudah membaca gerak gerik ku dengan cepat dia memegang tanganku yang hendak memukul pundaknya. Alhasil aku yang kaget bukan dia.
“Ihh bang Nat buat kaget aja.” Ucapku.
“Habisnya kamu mau ngagetin orang gerak geriknya kebaca banget,,” ucap Jonathan sambil tertawa melihat ekspresi wajahku.
“Yaudah deh, awas deh.” Ucapku sambil menarik tanganku.
Nathan tertawa, aku melihatnya tertawa hatiku menjadi senang kembali. cara bicara Nathan, tatapannya, sentuhannya terasa hangat bagiku sepertinya aku benar-benar menyukainya.
“Udah ya guys, bapak itu mau sebentar lagi mereka datang.” Ucap Tasya dengan wajah sumringah.
“Akhirnya liburan juga ya Tuhan,,” ucapku senang.
“Go..go.. pantai,,” ucap Irene tertawa dan memelukku dari samping.
__ADS_1
Teman-teman yang lain melihat heran ke arah kami sambil tersenyum.
To be continue.