
Teman-temanku membangunkan aku dan Alex yang tertidur sangat pulas. Kami pun bangun, kami lihat di handphone sudah jam 6 sore, ternyata mau magrib makanya teman-teman membangunkan kami.
Aku dan Irene memutuskan mandi sebentar, setelahnya kami semua selesai mandi sore. Tasya dan Anggi sholat magrib, dan kami semua duduk di ruang tengah menunggu Tasya dan Anggi selesai sholat.
Aku mau bercerita sedikit tentang kepercayaan kami semua. Aku, Alex dan Jonathan, kami Kristen Protestan. Sementara Ruth dan Irene Khatolik. Tasya dan Anggi Muslim. Kami yang Kristen tidak pernah beribadah di hari minggu di desa ini, karena di desa ini tidak ada gereja karena semua warga di desa ini muslim. Jadi kami yang Kristen beribadah melalui smartphone kami secara online.
Walaupun demikian warga di desa ini memiliki toleransi yang tinggi kepada kami. Seperti Kepala desa yang mengetahui bahwa kami Kristen, setiap beliau ingin menyampaikan sesuatu beliau selalu memulai dengan salam seorang muslim "Assalamualaikum" dan memberi salam kepada kami dengan mengucapkan "Shalom". Kami sangat bersyukur di sambut dengan sangat baik di desa ini.
Lanjut ke cerita sebelumnya..
Saat kami duduk di ruang tengah, kami lihat dari pinggir jalan raya ada segerombolan orang menuju ke rumah kami.
"Siapa itu??" tanyaku.
Ruth yang memang dekat dengan pintu membuka pintu rumah.
"Cewe-cewe mahasiswa yang tadi tuh." Jawab Ruth.
Akhirnya mereka sampai di depan pintu rumah kami.
"Mau cari siapa kak??" tanya Ruth.
"Mau cari Alex, Alex ada di rumah kan kak??" tanya salah satu wanita itu.
Ya benar, Jane mantan Alex.
"Dari mana sih dia tau kos kami." Gumamku dalam hati.
Alex langsung berdiri.
"Ada apa Jane??" tanya Alex.
"Masuk.." Ucap Ruth.
Aku langsung mengambil tikar di kamar kami dan kami semua jadi duduk di bawah. Tapi yang datang tidak hanya Jane dan kawan-kawannya, ada Jesica dan kawan-kawannya juga.
__ADS_1
"Oh pantesan dia tau, sama Jesica toh." Batinku.
"Jes, ngapain kemari kok gak bilang aku dulu??" tanya Jonathan.
"Jane mau reuni dengan Alex, katanya mau ajak makan malam bareng yaudah aku bawa kemari." Jawab Jesica.
Aku hanya diam dan main handphone, Alex terus melirik ke arahku.
"Lex, makan malam bareng yok di cafe dekat sini aku liat tadi di depan ada mobilmu kan udah lama kita gak makan berdua." Ucap Jane tanpa beban.
"Jane aku udah bilang padamu aku sekarang udah punya pacar, aku gak bisa makan berdua denganmu. Kalau mau makan bersama yaudah disini kita semua makan sama-sama." Jawab Alex.
"Yaudah deh kalau gitu, tapi belum ada makanannya kan, ayo kita beli." Ucap Jane sambil memegang lengan Alex.
Alex melepaskan tangan Jane dari lengannya.
"Aku aja yang cari makanannya." Jawab Alex.
Ku lihat terus tangan wanita itu, ingin sekali ku patahkan.
"Kau gak tanya." Jawab Alex.
"Ya kasih tau kek." Ucap Jesica kembali.
"Itu privasiku harus aku umbar denganmu??" tanya Alex.
"Enggak sih." Jawab Jesica.
"Ya sudah." Jawab Alex.
Tasya dan Anggi juga sudah berkumpul di ruang tengah bersama kami. Alex berdiri berjalan ke kamar kami, mengambil kunci mobil yang di letakkannya di atas bantal. Saat Alex keluar dari kamar, Alex menghampiriku.
"Temani aku cari makanan yuk." Ucap Alex lembut padaku sambil menepuk pundakku.
Aku menganggukkan kepalaku, Jane terus melihat ke arahku. Aku dan Alex pergi mencari makanan berdua.
__ADS_1
Di dalam rumah, Jesica bertanya.
"Bang Jo, Alex dan Joana mereka ada hubungan apa?? Ku lihat di jari Joana ada cincin nenek." Tanya Jesica.
"Mereka pacaran." Jawab Jonathan.
"Kok cincin nenek ada sama Joana??" tanya Jesica kembali.
"Kakek yang memberinya pada Joana." Jawab Jonathan.
Jane paham betul susah sekali bisa akrab dengan Kakek Alex, saat mereka pacaran pun Jane tidak berhasil meluluhkan hati kakeknya Alex. Jane, Jesica, Jonathan paham jika Joana sudah memakai cincin nenek berarti dia sudah di terima oleh seluruh keluarga Alex.
Karena cincin yang di pakai Joana bukan cincin sembarangan, tapi cincin turun temurun untuk menantu di keluarga itu sebelum menikah, jika cincin itu sudah diberikan besar harapan keluarga untuk mereka bersatu dalam pernikahan.
Saat ibu Alex berpacaran dengan ayah Alex dia juga mendapatkan perlakuan yang sama dengan Joana. Itu sebabnya Alex sangat menjaga perasaan Joana, Cincin itu juga sebagai penangkal hal buruk karena keluarga mereka percaya jika sepasang kekasih ingin bersama akan banyak hal buruk yang akan mencobai mereka.
Cincin itu peninggalan leluhur mereka maka tidak heran cincin itu terlihat kuno dan antik, tapi cincin itu dipercaya memiliki kekuatan oleh keluarga Alex.
Saat mengetahui hal itu wajah Jane berubah menjadi jutek, tidak secerah tadi. Sambil menunggu makanan datang mereka mengobrol santai tapi tidak dengan Jane yang menjadi pendiam seketika.
Di perjalanan aku dan Alex hanya membahas mengenai makanan dan memilih makanan yang kami beli. Kami ada membeli makanan berat berupa mie dan cemilan di grosir-grosir yang ada di desa itu.
Akhirnya aku dan Alex sampai di rumah. Tasya, Anggi dan Ruth ku lihat mengambil piring dan menyiapkan es batu untuk minuman yang sudah kami beli. Kami pun menghidangkan makanan, minuman dan cemilan.
Begitu aku dan Alex duduk, Jane langsung berpindah tempat duduk di samping Alex. Aku mencoba menahan diriku agar tidak terjadi keributan. Jujur aku orang yang sangat mudah marah tapi tidak untuk hal yang menurutku terlalu rendah untuk di tanggapi.
Jesica dan teman-teman Jane melihat ke arah Jane dan terlihat wajah mereka bingung harus berbuat apa pada Jane yang bertingkah konyol di depan Alex.
Jane membukakan makanan untuk Alex, menuangkan minuman untuk Alex.
Karena aku takut terpancing emosi, aku hanya menunduk dan makan tidak ingin melihat apapun, tapi entah kenapa makanan yang ku makan rasanya tidak bisa ku telan.
To be continue.
Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Jangan lupa dukung cerita saya dengan like, komen, vote, share, dan tambahkan ke favorit teman-teman ya. Terimakasih ❤️❤️.
__ADS_1