
Aku terbangun pukul 19.30 wib, syukurnya aku tidak sedang sendirian di kamar, teman-temanku juga sedang main handphone sambil rebahan di kamar. Karena kami tau ibu kos tidak ada di rumah, sejak saat itu kami selalu membuka pintu kamar kami, hanya tidur malam kami mengunci pintu kamar kami.
Handphone ku berbunyi.
"kring.. kring..kring"
Ku lihat layar handphone ku, ternyata itu Alex, dia meneleponku.
"Ngapain dia nelpon aku." Ucapku sambil melihat layar handphone ku.
"Siapa Jo??" tanya Tasya yang sedang berada di sampingku.
"Alex, dimana dia??" tanyaku sambil melirik Tasya.
"Tuh di luar duduk sama Jonathan dari tadi." jawab Tasya.
Telpon masuk dari Alex tidak ku jawab, namun aku langsung bangun dan mengintip dari kamar.
"Lex, ada apa??" tanyaku.
"Aku mau nyari makan, pesan apa??" tanya Alex.
"Mau nyari makan kemana emang??" tanyaku kembali.
"Di alun-alun lapangan di ujung desa." Jawab Alex.
"Aku ikut." Ucapku.
"Enggak, bilang aja mau apa. Baru juga sembuh." Ucap Alex.
Ku lirik dia dengan wajah memelas.
"Enggak bisa Joana, udah biar aku aja yang beliin, bilang aja mau apa. Kasih tau juga tuh ke mereka kalau aku mau keluar." Ucap Alex.
Aku balik badan dan menanyakan ke teman-temanku.
"Alex mau keluar tuh beli makanan, mau pesan apa kalian??" tanyaku.
"Sekarang??" tanya Tasya.
"Iya.." Jawabku.
Tasya langsung bangkit dan keluar kamar.
"Bang Alex aku ikut ya beli makanannya, boleh??" tanya Tasya.
"Boleh aja, tapi aku pergi sama Jonathan malam ini bilang aja di grup kita mau beli apa ya ku tunggu." Ucap Alex.
Jonathan langsung melirik ke arah Alex, karena emang Alex tidak mengatakan apapun padanya. Alex memainkan matanya pada Jonathan, kode untuk ikut menemani Alex beli makan. Jonathan hanya pasrah, menuruti Alex.
"Yaudah deh kalau gitu." Ucap Tasya.
__ADS_1
"Joana, beli apa??" tanya Alex.
Aku menoleh ke arahnya lagi.
"Aku pesan bakso bakar, roti bakar dan burger." Jawabku.
"Yang lain mau apa?? bilang sekarang aja." Ucap Alex.
"Samakan aja semua bang kayak Joana." Jawab Tasya.
"Oke.." Ucap Alex.
"Hati-hati." Ucapku kembali.
"Iya." jawab Alex.
Alex dan Jonathan keluar membeli makanan, kami semua nunggu di kamar. Ruth keluar kamar, diikuti dengan Irene, Anggi, Tasya dan akhirnya aku juga ikut keluar kamar. Karena aku terakhir keluar, ku tutup pintu kamar dan kami semua menunggu di ruang tengah.
Kami sudah menyimpan air mineral gelas beberapa kardus di dalam kamar, sehingga ketika malam hari kami beli makanan di luar kami hanya membeli makanan saja, karena air minum kami sudah banyak di kamar. Beda cerita saat siang hari, kami selalu beli es di luar karena jika siang hari Desa Tanjung Beringin ini sangat panas. Mungkin karena daerah pesisir yang dekat dengan pantai.
Kami menunggu cukup lama, akhirnya Jonathan dan Alex pulang. Kami makan bersama di ruang tengah sambil mengobrol, Jonathan membuka pembicaraan.
"Sabtu ini, kelompok Jesica mau datang katanya mereka sekitar 10 orang. Mereka mengajak untuk barbeque disini, bagaimana kalian setuju??" tanya Jonathan.
Semua melirik ke arahku.
"Kenapa?? kok lihat hanya ke aku??" tanyaku.
"Loh kok minta persetujuan ku, ya bolehlah bagus malah kita jadi rame malam minggu." Jawabku.
"Oh, oke bang kita siapkan apa aja??" ucap Ruth kemudian setelah mendengar persetujuan ku.
"Minuman aja, mereka yang menyediakan makanannya." Ucap Jonathan.
Kami semua pun mengangguk tanda setuju.
Karena semua sudah selesai makan dan sampah juga sudah di satukan, aku berdiri mengambil sampah dan membuangnya keluar. Saat aku hendak keluar Alex mengikuti ku.
"Gakpapa ada jesica??" tanyanya tiba-tiba dari arah belakangku.
Aku menoleh sebentar dan menjawabnya.
"Gakpapa Lex, lagian kan udah lewat dan kita semua disini satu fakultas. Aku juga udah lupain kok." Jawabku.
"Semoga saja gak ada drama lagi ya bocil." Ucapnya.
"Iya abang.." Jawabku dengan wajah datar.
Dia pun tertawa.
Setelah membuang sampah aku berbalik hendak masuk ke rumah, aku kaget karena ku pikir Alex akan menyingkir ternyata tidak.
__ADS_1
"Awas napa Lex, aku mau masuk." Ucapku.
Dia memegang tanganku.
"Sebentar, aku mau nanya." Ucapnya.
"Apa??" tanyaku sambil melihat ke arahnya.
"Udah gimana keadaanmu?? udah minum obat??" tanyanya.
"Aku gakpapa Lex, masih berpikir ini karena hujan??" tanyaku kembali.
"Ya aku cuma mau memastikan aja" jawabnya.
Spontan ku lepas tangannya yang memegang tanganku, ku ambil kedua tangannya dan ku letakkan di kedua pipiku.
"Aku gakpapa, sekarang percaya??" tanyaku.
Alex terdiam menatapku, aku pun ikut terdiam karena di tatap olehnya. Aku mulai mendengar detak jantungku sendiri.
"Sial, bodoh Joana." ucapku dalam hati.
Ku palingkan mataku ke arah lain, ku pegang tangan Alex mengisyaratkan agar dia menurunkan tangannya dengan ku coba dorong ke bawah, namun dia tetap tidak menurunkan tangannya di kedua pipiku.
Ku lihat lagi ke arahnya, dia menekan pipiku dengan kedua tangannya sambil berkata.
"Syukurlah kau sudah normal." Ucgap Alex sambil tersenyum dan menurunkan tangannya.
Aku langsung lari masuk ke dalam rumah dan berjalan ke kamar, tanpa melihat kanan kiri aku langsung masuk ke kamar dan menutupi wajahku dengan bantal.
"Ah dasar Alex, buat susah hatiku aja." Ucapku dalam hati.
"Kenapa Jo??" tanya Irene tiba-tiba.
Aku kaget mendengar suara Irene karena tidak mendengar suara langkah kakinya masuk, ku singkirkan bantal dari wajahku untuk memastikan itu benar Irene atau bukan. Setelah ku buka bantal, ternyata semua teman-temanku sedang melihatku kecuali Alex dan Jonathan ya. Aku semakin kaget dan malu. Aku langsung membelakangi mereka.
"Gakpapa, aku mau tidur." Ucapku.
Teman-temanku tertawa lumayan kencang dan Tasya bilang.
"Kami tadi lihat loh dari jendela adegan langka itu." Ucapnya menggodaku.
Aku mulai sadar bahwa jendela di rumah ibu kos kami hanya di tutupi dengan gorden berwarna putih jaring-jaring yang tipis. Aku semakin malu.
"Ah sial." Ucapku dalam hati.
Teman-temanku semakin tertawa, sampai akhirnya kami semua tertidur.
To be continue.
Terimakasih untuk semua pembaca setiaku, dukungan like, komen, vote, hadiah dan favorit kalian adalah semangatku ❤️.
__ADS_1