Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 34


__ADS_3

Kami semua pun tertidur pulas di siang itu. Siang itu aku sadar aku mau ikut pergi dengan Alex dan ingin melihat jam di handphone ku, aku takut ketiduran dan Alex malah menunggu lama. Aku ingin membuka mataku tetapi rasanya berat sekali, perlahan ku buka mataku dan aku menggapai handphone yang tepat berada di sampingku. Posisi aku tidur menghadap pintu kamar sehingga kalau aku miring aku akan melihat pintu kamar. Siang itu pintu kamar sengaja kami buka agar tidak terlalu panas.


Aku memiringkan badanku yang terasa amat sangat berat. Siang itu, saat aku ingin mengambil handphoneku untuk melihat jam aku juga merasa seperti ada yang sedang memperhatikanku dari pintu. Spontan aku melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka, ku lihat samar seperti ada jari kecil yang memegang daun pintu. Karena aku penasaran aku semakin memperjelas pandanganku apa yang sedang menempel di pintu, aku sangat terkejut saat pandanganku mulai jelas jari kecil yang menempel di daun pintu bergerak dan ada sesosok kepala muncul dari balik daun pintu.


Aku sangat kaget, aku ingin menutup mataku tapi aku tidak bisa bergerak sama sekali. Badanku kaku, lidahku kelu tidak bisa mengeluarkan suara. Kepala itu muncul dari balik daun pintu dengan rambut terurai panjang, wajah yang amat sangat pucat hampir berwarna putih, bola mata hitam sepenuhnya, senyumnya yang sangat lebar membuatku lemas tak berdaya dan hanya bisa menangis karena ketakutan. Ya, dia sesosok anak kecil yang menyeramkan, kepala itu muncul dari balik daun pintu seperti mengintip. Sebanyak tiga kali dia masuk lagi ke belakang pintu dan memunculkan kembali wajahnya.


Saat itu aku menangis dan berdoa kepada Tuhan agar ada seseorang yang menolongku, aku sungguh takut saat itu. Syukurnya tiba-tiba seseorang datang membuka pintu kami yang memang sejak awal sudah terbuka. Ternyata dia Alex, dia datang untuk membangunkan ku.


" Woi Joana, bangun katanya mau ikut ke indomaret." Ucap Alex.


Aku yang baru saja menangis dan bisa bergerak menjawab Alex dengan suara serak.


" Iya ini udah bangun kok, sebentar ya tunggu di ruang tengah aku mau basuh wajah dulu." Jawabku.


Aku pun berdiri dan ingin keluar kamar untuk ke kamar mandi, disana Alex masih berdiri di pintu. Ketika aku melewatinya dia menahan ku.


" Kenapa, kok nangis??" tanya Alex.


" Gakpapa." Jawabku.


" Temani aku, berdiri di dekat pintu kamar mandi ya Lex aku gk akan lama." Ucapku kembali.


Biasanya dia membantahku, sepertinya dia kasian padaku, siang itu dia menuruti kata-kataku dengan menungguku di dekat pintu kamar mandi. Karena masih takut aku selalu mengecek apakah Alex masih disana atau enggak.


" Lex, masih disitu kan??" tanyaku.


"Iya.." Jawab Alex.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian setelah aku selesai membasuh wajah, karena aku amat sangat parno, aku takut membuka pintu jadi aku menanyakan kembali ke Alex.


" Lex, masih di situ kan??" tanyaku kembali.


" Ya Tuhan, iya Jo aku masih disini kenapa sih." Jawab Alex setengah kesal.


Aku pun keluar dari kamar mandi melihatnya sambil tersenyum.


" Ya maaf, makasih ya Lex." Ucapku.


" Hmm, jadi sekarang nih jalannya??" tanya Alex.


" Iya, aku permisi ke teman-teman dulu dan ambil dompetku sebentar ya." Ucapku.


" Hmm iya, aku nunggu di depan mau nyalain motorku dulu." Jawab Alex.


Di kamar ternyata Ruth dan Irene sudah bangun.


" Wee aku pergi sebentar ke indomaret ya sama Alex, kalau ada yang mau di pesan chatting ke grup oke." Ucapku.


" Oke Jo, hati-hati awas di turunin Alex di tengah jalan." Jawab Irene sambil tertawa.


" Gak akan berani dia. " Ucapku sambil tersenyum.


" Bye bye.. " Ucapku kembali.


Aku pun keluar dari kamar menemui Alex, ternyata dia sudah di atas motornya menungguku.

__ADS_1


" Aku udah boleh naik??" tanyaku.


" Udah, naiklah." Ucap Alex sambil menurunkan pijakan kaki di motornya.


Aku yang jomblo bertahun-tahun di perlakukan seperti itu oleh Alex merasa senang, walaupun gak punya pacar ternyata gak harus pacaran dulu untuk merasakan sensasi ini ucapku dalam hati.


Aku naik ke motornya.


" Makasih ya Lex, aku udah naik." Ucapku.


" Makasih apaan?? oke kita jalan ya, pegangan nanti jatuh." Ucap Alex sambil memasukkan kopling dan gas motornya.


" Ya, makasih udah nurunin tempat kakinya. Aku pegangan di mana motormu seperti ini." Ucapku.


" Oh itu, baru kau Jo yang bilang makasih hanya karena itu. Joana-Joana, mantanku dulu aja gak begitu keliatan ya yang jomblo bertahun-tahun." Ucap Alex.


Ku pukul punggungnya dengan keras.


"Duh, sakit ya Joana." Alex meringis kesakitan.


" Makanya jangan nyebelin." Jawabku sambil memegang bajunya yang sedikit ku tarik.


" Jangan di tarik bajuku, nanti jatuh pegang yang lain kek, pundak kek, pinggang kek jangan tarik baju Jo." Ucap Alex setengah mengomel.


" Duh ribet amat sih." Jawabku sambil memegang pinggangnya.


Saat ku pegang pinggangnya badan Alex seperti setengah kaget, dia diam dan malah melajukan motornya dengan kencang.

__ADS_1


To be continue.


__ADS_2