Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 12


__ADS_3

Keesokan harinya di pagi hari aku terbangun pukul 07.00 Wib, aku melihat teman-temanku masih tertidur pulas. Badanku terasa sangat lelah rasanya sakit semua, aku merasa aku kurang olahraga karena sebelum PKL aku memang selalu lari di pagi hari. Aku sudah gak olahraga 3 hari, jadi aku memutuskan untuk olahraga pagi sendiri karena udara masih sejuk. Walaupun sudah terang, di desa belum terlalu rame warga yang beraktivitas.


Aku mengganti pakaianku dengan training dan kaos, karena tubuhku semalam kurang fit, jadi akan bagus jika aku menghirup udara segar di pagi hari, pikirku. Setelah aku mengganti pakaianku aku keluar dari kamar, saat aku hendak menutup pintu kamarku kembali aku melihat Jonathan keluar dari kamarnya, melewati ku hendak ke kamar mandi. Ku sapa dia namun dia tidak menjawab bahkan tidak menoleh ke arahku.


“Udah bangun bang, cepat amat,,” ucapku saat dia lewat di depanku.


Namun dia hanya diam dan jalan hanya menatap ke depan, karena aku sedikit kesal ku abaikan dia, aku tidak ingin merusak mood ku di pagi hari. Aku keluar rumah dan aku lari pagi.


Aku kembali ke rumah pukul 8.30 Wib, ku lihat semua teman-temanku duduk di ruang tengah minum teh sambil makan roti.


“Udah pada bangun??” tanyaku.


Semua kaget melihat ke arahku dan kemudian melihat ke arah pintu kamar, aku heran dengan ekspresi mereka.


“Kenapa, kok gitu liat aku, kan aku cuma nanya.” Ucapku kembali.


“Dari mana Jo?? Kok kita gadak liat lo buka pintu kamar??” tanya Ruth.


“Aku tadi lari pagi, jam 7 aku udah keluar lari pagi. Oia tadi pagi bang, abang kok diam aja??” Jawabku dan bertanya pada Jonathan.


“Tapi tadi kan kamu masih tidur Jo, kapan keluar dari kamarnya, kapan lari paginya??” ucap Ruth.


“Apaan sih Ruth, tanya deh tuh sama bang Nathan” jawabku.


Jonathan mengerutkan keningnya.


“Hah??? kenapa nanya ke aku??” jawab Jonathan.


“Tadi loh bang waktu aku mau keluar lari pagi kita kan berpapasan aku mau keluar abang ke kamar mandi.” Ucapku menegaskan.


“Apaan sih Jo, aku baru bangun tadi pagi aku gadak ke kamar mandi mimpi ya,,” jawab Jonathan.


“Lah tadi siapa di kamar Jo, kau beneran masih tidur tadi..” Ucap Irene.


Anggi langsung berdiri dan membuka pintu kamar dan di dalam kamar tidak ada siapa pun. Anggi kaget dengan cepat menutup kembali pintu kamarnya.

__ADS_1


Aku terdiam kakiku tiba-tiba lemas, aku terpaku dan kakiku yang melemas membuatku ingin terjatuh. Aku terhuyung ke depan tepat di depan Alex, dengan cepat Alex memegang tanganku setengah menariknya dan alhasil aku terduduk di pangkuannya.


Aku yang lemas menjadi kaget, ku tatap Alex ku tarik tanganku dengan cepat aku langsung berdiri kembali tanpa ku sadari kakiku terlipat dan aku terjatuh.


"Duh sakit.” Ucapku lirih.


Alex berdiri langsung menarik tanganku dan membantuku untuk berdiri.


“Pelan-pelan Jo.” Ucap Alex namun nada suaranya berbeda sedikit gemetar.


Setelah menolongku Alex langsung meninggalkan minuman dan rotinya.


“Hm, aku mandi dulu ya, aku ke kamar mandi dulu. Kalau mau duduk di situ, duduk aja Jo.” Ucap Alex.


"Iya bang,” jawabku singkat sedikit canggung.


Melihat kejadian itu teman-temanku jadi melupakan kisah aneh itu dan senyum-senyum melihatku seperti itu.


“Jo, kamu lari pagi sendirian??” tanya Jonathan memecahkan keheningan yang membuatku tidak nyaman.


“Oh, besok lari pagi lagi?? “ tanya Jonathan.


“Kemungkinan iya bang.” Jawabku.


“Yaudah mulai besok kita semua lari pagi aja yuk bareng-bareng, biar enak ngejalani aktivitas.” Ucap Jonathan mengusulkan.


“Boleh tuh,,” jawab Ruth.


“Boleh juga tuh,” jawab yang lainnya serentak.


“Oke, kejadian pagi ini lupain aja ya.” Ucap Jonathan.


“Apapun yang terjadi pagi ini, anggap gak pernah terjadi. Joana kamu juga kalau mau keluar bilang ke kita-kita kalau ada apa-apa sama kamu kita gak tau gimana mau nolong kamu. Ini desa orang kita gak tau gimana lingkungan ini.” Ucap Jonathan kembali menasehatiku.


“Iya bang.” Jawabku.

__ADS_1


“Yaudah kalau gitu aku ke dapur dulu ya buat teh dan ambil roti di kamar.” Ucapku.


“Oke Jo, kalau mau mandi bilang ya.” Ucap Irene.


“Iya Ren,” jawabku.


Aku berjalan ke dapur buat teh, setelah selesai buat teh aku ingin kembali ke ruang tengah di saat bersamaan Alex keluar dari kamar mandi, kami bertatapan. Jujur aku sangat malu menghadapinya karena kejadian tadi, namun aku harus berakting agar tidak canggung. Aku tersenyum ke Alex dan melewatinya dia melihat ke arahku seperti canggung dan dia hanya tersenyum.


Aku duduk di ruang tengah sambil makan roti, tidak lama Alex kembali duduk tepat di sampingku dan meminum tehnya sampai habis.


"Agenda kita hari ini kayak yang dibicarakan kemaren kan??” tanya Alex.


“Iya, karena kita masih melakukan observasi dan tema utama kita mengenai sampah dan kebersihan kita telusuri dulu hari ini, dimana TPA nya dan kondisi sekitar desa bagaimana mereka menangani masalah sampah rumah tangga. Hari ini kita observasi ya tidak ada wawancara, karena kita kenali dulu warga dan lingkungannya jangan main masuk aja takut ada yang jadi curiga.” Ucap Jonathan.


Kami hanya menganggukkan kepala.


“Kita naik sepeda motor atau naik becak aja semua bareng-bareng??” tanya Alex kembali.


“Naik becak aja bang bareng-bareng,” jawab Ruth.


“Oke kalau gitu.” Ucap Alex dan Jonathan.


Setelah selesai sarapan roti kami semua bersiap untuk berangkat melakukan observasi bersama. Hari ini aku tidak memakai make up sama sekali, entah kenapa rasanya mager banget. Aku hanya memakai celana jeans sedikit sobek, kaos hitam polos ditambah dengan jaket jeans biru gelap, dan tas selempang. Baru kali ini rambutku ku kepang dua. Aku hanya memakai bedak bayi dan lip tint berwarna pink.


"Tumben Jo gk make up hari ini??" tanya Irene sambil memutar bahuku.


"Mager." Jawabku.


Aku berjalan hendak keluar kamar, Irene merangkul ku dan tersenyum.


Setelah semua selesai Tasya memesan dua becak, kami sudah memutuskan untuk menyewa becak ayah Dessy dan temannya ayah Dessy, selama kami disana jadi kapan pun kami telfon mereka langsung bersedia datang menjemput kami.


Tak lama becak yang akan kami tumpangi pun datang, kami pergi ke TPA yang terletak di ujung desa. Sepanjang perjalanan kami mengamati setiap rumah yang kami lewati. Di desa kecil ini sebagian rumah sudah dibangun dengan beton, namun masih ada yang terbuat dari anyaman bambu tepas dan papan. Rumah-rumah yang dibangun menggunakan papan berbentuk rumah panggung, namun ada juga rumah yang terbuat dari beton berbentuk rumah panggung dengan desain yang bagus dan unik. Rumah itu menjadi salah satu penarik bagi kami.


Kami sangat menikmati perjalanan kami.

__ADS_1


To be continue.


__ADS_2