
Setelah Alex menepi, kami melanjutkan perjalanan.
"Joana.." Panggil Alex.
"Hmm.." Gumamku dan melihat ke arahnya.
"Joana.." Pangil Alex kembali.
"Iya ada apa Lex.." Jawabku.
Tiba-tiba dia memanggilku kembali namun kali ini berbeda.
"Sayang.." Panggilnya.
Aku kaget dan langsung melihat ke arahnya, jujur saja aku merinding di panggilnya begitu.
"Kok wajahnya gitu sih, di panggil pacarnya sayang bukan senang malah heran." Ucap Alex.
Tadinya aku tidak ingin tertawa, aku mecoba menahan tawaku dan akhirnya terlepas juga. Aku tertawa.
"Jangan panggil sayang ah Lex, aku belum terbiasa, nanti aja selesai PKL kita pikirkan apa panggilan yang bagus. Jangan sekarang, aku gamau teman-teman tau kita ada hubungan." Ucapku.
"Jadi gamau di panggil sayang??" tanya Alex dengan wajah kesal.
"Bukan gamau, aku belum terbiasa". Jawabku sambil menyentuh lengan Alex.
"Jadi kenapa gak mau teman-teman sampe tau kita ada hubungan??" tanya Alex kembali.
"Aku masih malu Lex.." Jawabku.
"Oh kamu malu pacaran sama aku ya." Ucapnya lirih.
__ADS_1
"Enggak, gak gitu sayang." Ucapku sambil tertawa.
"Jadi apa??" tanyanya kesal.
"Iya iya deh, tapi jangan kita kasih tau ya ke teman-teman kita ada hubungan biar mereka tau secara alami saja." Ucapku.
"Hmm.." Jawabnya cuek.
"Jangan marah dong." Ucapku sambil melihat terus ke arah Alex.
Alex hanya diam. Entah apa yang di pikiranku, entah bagaimana terkumpulnya keberanianku. Aku mencium pipi Alex saat kami berhenti di lampu merah, dia yang kaget sontak melihat ke arahku.
Alex terus menatapku, sampai dia tidak sadar bahwa lampu sudah berubah hijau.
"Lex, udah hijau jalan." Ucapku karena sudah banyak yang menghidupkan klakson mobilnya.
"Hah, iya." Jawab Alex dan terus melihat ke depan.
Sejak saat itu kami tidak berbicara sedikit pun, aku gatau Alex kenapa, tapi dia seperti menghindar melihat ke arahku. Akhirnya kami sudah sampai gapura desa, Alex makin mempercepat laju mobilnya dan akhirnya kami sampai di depan rumah.
"Kenapa kok jadi diam aja setelah ku cium pipimu??" tanyaku.
"Gakpapa Jo." Jawab Alex.
"Kamu gak suka ya aku cium pipinya, aku minta maaf udah lancang." Ucapku sambil menunduk.
"Buka kuncinya, biar aku turun." Ucapku pada Alex.
Jujur saja waktu itu aku sangat malu, rasanya aku ingin pura-pura pingsan.
Alex memegang tanganku menahanku turun.
__ADS_1
"Bukan itu Jo, lihat aku." Ucap Alex.
"Aku melihat ke arah Alex." Dengan tatapan yang lumayan kesal.
"Aku menyukainya, tapi aku sedang menahan dan mengendalikan diriku." Ucap Alex.
"Kenapa??" tanyaku.
Tiba-tiba Alex menurunkan kursi mobilnya dan membuatku jadi tertidur, aku yang kaget berpegangan pada lengan Alex.
"Lex." Ucapku karena kaget.
"Aku menahan untuk melakukan ini." Ucap Alex sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan matanya yang ku lihat melirik ke bibirku.
Aku pun menutup mataku, namun kurasakan hembusan nafas Alex, ku rasakan sesuatu yang hangat mendarat di pipiku.
"Aku tidak akan melakukannya sayang, tanpa seizinmu." Ucap Alex dan kemudian menegakkan kursiku kembali.
Aku yang kaget, langsung menatapnya tajam dan dia tertawa dengan kencang. Ku pukul lengannya, dan dia tetap tertawa.
"Genit." Ucapku.
"Yuk kita turun sayang, sebelum aku berubah pikiran." Ucap Alex.
Aku langsung dengan cepat membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil. Aku menoleh ke belakang melihat ke arah Alex namun dia hanya tersenyum ke arahku.
Aku langsung masuk ke dalam rumah yang tidak di kunci hanya di tutup saja.
"Wee aku bawa kue, di kasih bude Alex." Teriaku.
Dan beberapa menit kemudian teman-temanku keluar kamar dan semua berkumpul di ruang tengah, dan sibuk melihat isi kotak yang sudah ku letakkan di atas meja.
__ADS_1
To be continue.
Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca ceritaku. Dukungan like, komen, share, vote, hadian dan favorit kalian adalah semangatku ❤️.