
Kami makan bersama tanpa ngobrol sedikit pun semua hanya fokus ke makanan masing-masing, sepertinya kami semua sudah kelaparan berat. Gimana gak lapar berat gak makan malam, dikejutkan dengan kejadian di dini hari, bangun kesiangan belum makan bahkan minum air sedikit pun. Kami semua sangat menikmati makanan, namun berbeda denganku aku yang tidak makan nasi bingung karena tidak ada roti disana. Aku lupa membawa roti yang ada di tasku alhasil aku hanya makan ikan bakar dua ekor dan ayam bakar empat potong.
Syukurnya masih ada yang bisa ku makan, tidak di pungkiri semua temanku menatapku ketika pesanan ku tiba. Pesanan ku datang paling akhir karena cuma aku yang pesan ikan dan ayam bakar, di rumah makan ini jika ada yang memesan ikan atau ayam bakar. Ikan dan ayam tersebut dibakar terlebih dahulu tidak ada stok yang disediakan, hal ini agar tidak mengurangi cita rasa dari aroma khas bakar nya.
Mereka semua hanya menatapku tanpa menanyakan apapun, setelah menatapku mereka melanjutkan makan mereka. Aku berdoa dan mulai makan juga tanpa mengobrol, aku sangat kelaparan benar-benar lapar mimpi yang tidak bisa ku lupakan malam itu. Benar-benar membuatku kehabisan banyak energi. Kami semua menghabiskan makanan dengan cepat tanpa ada sedikit pun yang tersisa, tapi tidak dengan duri dan tulang ya itu tetap bersisa karena tidak bisa dimakan jika bisa mungkin juga tidak akan tersisa di piringku.
Baru kali ini aku merasakan makanan seenak itu, enak sekali sampe aku lupa kalau aku makan bersama teman-temanku. Hari itu aku makan sangat puas, wah seperti menemukan tempat spesial.
Setelah kami semua selesai makan, kelompok lain yang satu desa dengan kami datang juga kesana untuk makan. Salah satu dari mereka menyapa ku yaitu Arumi.
“Jo, hai Jo.” Ucapnya sambil melambaikan tangan.
Aku dan Jonathan saling pandang, mungkin Jonathan sudah sangat sadar kami punya panggilan yang sama jadi dia cuek dan tidak menghiraukan panggilan Arumi. Ku lihat Arumi dia sudah jalan mendekat menghampiri kami semua.
“Hai mi,” jawabku setelah Arumi berada di hadapanku.
“Ihh tadi kok gak respon aku sih Jo??" tanya Arumi dengan nada sedikit ngambek.
Aku tersenyum dan berkata, “gak gitu Umi, ini abang kelas kita namanya Jonathan sama panggilannya denganku, jadi kami sempat bingung juga siapa yang kau panggil mi.”
“Oh ini abang kelas itu, satu rumah dengan kalian ya. Wah enak kalian ya ada yang jagain." Ucap Arumi.
“Umi....Umi... kebanyakan baca komik jadi gini ni," jawabku sambil menggelengkan kepala.
“Woi Arumi, gak makan lo. Teman-teman lo tuh udah pada duduk pesan makanan ntar ditinggal lagi.” Ucap Ruth tiba-tiba.
“Apaan sih Ruth, kelompok ku gak kayak kamu yang asal main tinggal aja.” Jawab Arumi dengan wajah seperti meledek.
“Udah ah sono no, ganggu kita aja lo. Kita udah mau cabut nih, sibuk banyak urusan.” Sambung Ruth.
“Ihh apaan sih lu. Yaudah ya Joana cantik, aku gabung sama kelompokku dulu. Hati-hati ya jangan sampe ngasih hati untuk kedua orang yang kamu lihat." Ucap Arumi sambil menggodaku dan melirik kedua abang kelas.
Abang kelas yang dengar kata-kata Arumi spontan keduanya melihat ke arah Arumi dengan wajah datar dan tatapan dingin.
“Udah ah sana, ada-ada aja deh kau Mi. Ngaco tau gak,” ucapku kepada Arumi dengan sedikit ngusir Arumi.
Arumi pun tertawa dan berjalan ke tempat kelompoknya makan. Selain Arumi teman kelompok Arumi yang lain sangat cuek dan bodo amat, mereka memang tidak suka basa basi seperti Arumi yang memang memiliki kepribadian yang ramah serta berisik. Saat pertama kali melihat Arumi masuk ke kelompok itu aku juga sedikit tertawa dalam hatiku karena aku tau Arumi akan butuh usaha ekstra untuk masuk ke mereka, yang semua sifatnya memang gamau tau banget.
“Masih lama lagi ni wee mau duduk disini?? Udah siang loh udah jam setengah 2 ni,” ucap Anggi.
“Iya nih yok wee, udah siang nih.” Sambung Tasya.
“Yaudah yuk gerak, kalian gimana bang?? masih mau disini ??” tanya Irene.
“Kita ikut kalian aja.” Jawab Alex.
“Iya, kita ikut kalian aja.” Sambung Jonathan.
“Oke kalau gitu yuk jalan." Ucap Irene.
Kami semua serentak berdiri bersama, sebelum pergi kami sempat berpamitan dengan teman-teman lainnya yang berada disana. Kami membayar makanan kami perorangan, kami keluar satu per satu setelah selesai bayar makanan kami masing-masing. Diperjalanan aku lupa membawa topiku, terik matahari siang itu berhasil membuat kepalaku panas sekali.
Aku berjalan di barisan akhir teman-temanku yang cewe, di belakangku berjalan kedua abang kelasku, aku kaget tiba-tiba Jonathan sudah berada di sampingku. Aku lirik dia, namun sepertinya dia tidak sadar dia berjalan sudah tepat di sampingku karena matanya yang selalu fokus ke handphone yang sedang ia pegang. Aku alihkan pandanganku menunduk ke bawah dan mempercepat langkahku karena memang aku malas berjalan di sampingnya.
Aku sangat kaget ketika dia narik bajuku dari samping, langsung ku tatap dia sambil mengernyitkan dahi ku.
“Apaan si Nathan, kok narik-narik bajuku,” ucapku dengan nada kesal.
__ADS_1
Dari semua teman-temanku, akulah yang jarang sekali memanggil abang kelasku dengan sebutan abang tapi hanya ketika aku sedang kesal ya. Bukannya tidak sopan, aku paling tidak suka jika diganggu tanpa sebab bisa-bisa aku langsung sinis dan marah gak jelas.
Jonathan tersenyum dan berkata, “aku sengaja jalan di sampingmu, ada yang ingin abang tanyakan Joana jadi santai dong jangan buru-buru."
“Kalau mau tanya langsung aja dong, dari tadi juga main hp terus,” balasku dengan nada kesal.
“Wah berarti kamu perhatiin aku terus ya.” Balas Jonathan.
“Idih enggak gitu, ya aku gak sengaja liat kamu jalan di sampingku.” Jawabku.
Alex yang tadinya berjalan dibelakang kami tiba-tiba maju ke depan jalan berdampingan dengan Ruth yang posisinya tepat di depanku dan Jonathan. Ruth yang kaget spontan melirik ke arah Alex dan berkata.
“Nape lo bang?? muka asem bener.” Ucap Ruth.
“Itu tuh, teman lo berdua bising kayak berantem urusan rumah tangga." Jawab Alex dengan wajah kesal.
Aku dan Jonathan terdiam sesaat melihat Alex dan mendengar perkataan Alex.
Ruth tertawa dan melihat ke arahku.
“Apaan Ruth??” tanyaku pada Ruth.
“Gakpapa Jo, kok wajahnya asem bener??” goda Ruth padaku.
“Gak, gadak biasa aja kok.” Jawabku.
Ruth hanya tersenyum melihatku, sekitar 15 menit kami berjalan kami sampai di aula. Di aula belum ada kelompok lain, ruangan aula tertutup kami memutuskan untuk bicara di teras aula. Di aula suasana sepi dan sejuk membuat kami merasa nyaman jika ingin berdiskusi. Sampainya di aula kami duduk membentuk lingkaran dan diskusi di buka oleh abang kelas kami yaitu Jonathan.
“Jadi apa yang ingin kalian bicarakan??” tanya Jonathan kepada kami.
Kami menunjuk Ruth sebagai ketua kelompok cewe kami karena penampilan Ruth yang seperti laki-laki dan dia tidak mudah ngambek ataupun marah menurut kami. Ruth akan dengan mudah masuk dan akrab dengan kedua lelaki ini, jadi kami meminta Ruth untuk menjelaskan semua yang kami bahas kemarin. Ruth pun setuju dan ia yang menjelaskan semuanya kepada abang kelas kami.
“Ada sih, aku agak kurang suka nih sama cermin besar dibelakang pintu kamar mandi, selama aku hidup baru kali ini nih aku liat yang begini.” Jawab Jonathan.
“Nah iya bener tu Jo, aneh banget gak sih.” Sambung Alex.
“Nah itu dia yang kami bahas kemaren bang, aku bukannya nuduh atau gimana tapi aku juga agak kurang nyaman sebenarnya liat ibu kos kita itu bang. Maaf ya ni Joana aku baru bilang sekarang karena aku gak enak bahas nya di rumah itu.” Ucap Ruth sambil melihatku. Belum Ruth menyelesaikan omongannya aku langsung menyela perkataan Ruth.
“Emang kenapa Ruth??” tanyaku penasaran.
“Dengerin dulu makanya baru nyambung.” Ucap Alex sambil melihatku.
“Apaan sih ih aku tuh ngomong sama Ruth bukan samamu.” Jawabku kesal.
“Ihh kok jadi ribut sih, lanjut Ruth nanti mereka makin heboh.” Ucap Irene pada Ruth.
Ruth tersenyum tipis sebelum melanjutkan omongannya.
“Dari awal kita sampai di aula di barisan sampe kita ke rumahnya aku selalu melihat ibu kos kita melirik mu dan tersenyum tipis-tipis, jujur itu membuatku geli namun aku merasa ada yang tidak beres dengan itu. Menurutku tatapannya padamu itu tidak normal, mulai sekarang lu jangan kemana-mana sendirian, jika didekati dengannya berikan tembok batasan di dirimu supaya dia tidak tertarik lagi melirik mu oke, Jo.” Ucap Ruth.
Mendengar itu jantungku berdegup dengan kencang, aku tidak mengerti apa maksud tatapan itu tapi membuatku jadi merinding seketika. Aku terdiam dan tanpa sengaja ku lihat Jonathan dan Alex melirik ke arahku dengan raut wajah cemas. Aku menarik nafasku dan menjawab perkataan Ruth.
“Oke Ruth, makasih ya udah mau cerita.” Jawabku.
“Tadinya jo aku gamau cerita, gamau ambil pusing sama hal itu, tapi melihatmu mimpi seperti itu membuatku semakin khawatir. Emang sih lu belum ceritain mimpi lu sama kita-kita tapi perasaanku bilang mimpimu ada kaitannya sama rumah dan ibu kos kita" Ucap Ruth.
“iya sih Ruth aku gatau dalam mimpiku itu rumah siapa tapi disana aku melihat ibu kos kita dan kalian semua." Ucapku menjelaskan sambil melihat Ruth.
__ADS_1
“Yaudah nanti aja ceritain mimpimu ya Jo, sekarang lanjutin hal penting apa yang ingin kalian sampaikan.” Ucap Jonathan.
“Aku lanjut nih ya, karena kita tinggal dirumahnya bang ada kemungkinan kan dia nawarin dua pilihan sama kita mengenai makan kita sehari-hari. yang pertama dia bakal nawarin kita makan sama dia, yang kedua kita masak sendiri, yang ketiga kita makan diluar. Gimana menurut kalian bang??” ucap Ruth.
“Apanya yang gimana Ruth??” tanya Jonathan.
“Ya menurut abang gimana kalau dikasih pilihan begitu abang milih yang mana??” tanya Ruth.
“Gitu dong yang jelas, kalau aku ya milih makan diluar deh. Dari yang kita udah curiga sama dia aja udah ogah makan sama dia, masak sendiri repot kita juga butuh tenaga buat pdkt sama masyarakat.” Jawab Jonathan.
“Aku juga setuju sama lo bro.” Sambung Alex.
“Kita juga mikirnya gitu bang, berarti jika nanti ada yang ditanya jawabnya makan diluar ya. Deal ya,”ucap Ruth.
“Oke deal.” jawab Jonathan.
“Bentar-bentar aku mau kita diskusikan hal ini juga, penting nih mengenai kamar mandi,” Ucapku dengan cepat.
Irene sudah tersenyum karena bisa membaca apa yang hendak ku sampaikan, karena insiden pasta gigi yang membuatku hampir jatuh.
“apaan lagi Joana.” Ucap Jonathan.
“Tadi pagi waktu aku mandi lantai kamar mandi licin banget, ada sisa pasta gigi di lantai dan itu membuatku hampir jatuh. Aku mau kita buat kesepakatan setiap habis mandi pastikan lantai tidak licin ya, tidak harus di beros terlalu sering tapi ya minimal disiram yang bersih dong dan jangan sampe ada sisa pasta gigi di lantai.” Ucapku sambil melirik Alex.
Alex yang juga menatapku berkata, “ngapain melirik gitu?? emang salahku??” tanya Alex padaku.
“Ya Tuhan, emang dari tadi aku ada nyalahin kamu bang. Aku cuma melirik mu apa salah?? Aku punya mata bisa liat gak bisa ku kontrol Alex. Please deh jangan semua jadi masalah cuma karena aku lirikmu.” Ucapku setengah kesal.
“Iya deh iya, maaf Jo. Tapi kenapa kamu keringatan banget gitu Jo kayaknya disini gak panas deh, banyak angin juga.” Ucap Alex.
“Gatau nih, karena jalan jauh kali capek aku tuh,” jawabku sedikit lesu.
“Jadi gimana itu, kamar mandinya setuju kan??” tanyaku kembali.
“Iya Jo setuju,” jawab Jonathan.
“Iya setuju,” jawab Alex.
“Iya Jo kita setuju semua kok,” ucap Tasya dan Anggi.
"oke kalau gitu, terimakasih.” Ucapku sambil senyum.
Irene dan Ruth hanya tersenyum melihatku tersenyum, karena mereka berdua yang tadi menghadapi ku marah-marah kesal gak jelas sepanjang menunggu Anggi dan Tasya mandi.
“Hanya ini yang akan dibahas??” tanya Jonathan ke Ruth.
“Untuk hari ini hanya ini bang, besok kalau kita diskusi lagi disini aja ya bang adem banget nih disini.” Ucap Ruth.
“Oke.” Jawab Jonathan singkat.
“Oia gimana mimpimu, kenapa tadi malam histeris banget tidur lu hah?? buat gue gak tidur tau gak.” Ucap Alex.
“Ya maaf, aku juga gamau tuh mimpi kayak gitu.” j,awabku.
“Yaudah ceritain lah mimpinya,” ucap Jonathan.
Kira-kira gimana ya tanggapan teman-teman mereka mendengar mimpi Joana yang sangat menyeramkan.
__ADS_1
To be continue.