Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 77


__ADS_3

Kami semua berkumpul dan makan bersama, setelah selesai makan bersama kami mengobrol dan saling bercanda. Saat semua sibuk bercerita, aku berbisik ke Alex karena Alex duduk tepat di sampingku.


"Sayang, aku pengen golek, tanganku pegal." Bisikku.


Alex langsung berdiri, membantuku berdiri dan permisi ke semua orang yang ada di situ untuk membawaku ke kamar. Tanganku kaku, pegal, karena di selimuti parem yang di balut kain putih.


"Kakek, pakde, bude, om, tante, teman-teman semuanya kami permisi ke kamar ya, katanya Joana pengen golek." Ucap Alex.


"Yaudah sana, temani Joana di kamar ya. Kamar nya buka aja ya Lex." Jawab bude.


"Iya bude pasti." Jawab Alex sambil membantuku berdiri.


"Nanti selesai kuliah nikah aja mereka, biar jangan pacaran berduaan terus." Ucap kakek.


Aku tertawa mendengar ucapan kakek.


"Kerja dulu kek, nanti biaya nikahnya gak ada. Saya suku Batak biaya nikahnya mahal kek." Jawabku sambil tertawa.


"Loh iya saya tau, walaupun saya suku Jawa istri saya suku Batak, Maharnya mahal. Gitu-gitu Alex udah banyak tuh tabungannya neng Joana siap nikah itu, bisnisnya gede." Ucap kakek.


"Si kakek bisa aja deh, udah ah jangan ngaco kek." Ucap Alex.


Semua tertawa, aku dan Alex pun pergi ke kamar agar aku istirahat. Sampai di kamar Aku tidur di paha Alex dan Alex bersandar menggunakan bantal.


"Sayang, aku mau tanya??" tanyaku.


"Tanya apa sayang??" jawab Alex kembali bertanya.


"Tadi maksud kakek apa ya, aku akan berbeda dari diriku yang dulu dan aku bisa melihat yang tidak bisa dilihat orang lain. Itu maksudnya apa sayang??" tanyaku pada Alex.


"Artinya kamu sudah lebih peka terhadap makhluk halus dari pada sebelumnya sayang. Kamu akan lebih banyak melihat makhluk-makhluk halus seperti saat kamu melihat anak kecil di rumah kos kita itu. Artinya mata kebatinan kamu terbuka sayang." Jawab Alex.


"Kalau aku bisa melihat gitu, aku harus apa. Aku takut sayang." Ucapku.


"Asalkan sayang gak lepas cincin nenek lagi, makhluk seperti itu tidak akan mendekati sayang walaupun sayang sudah melihat mereka. Jadi mulai sekarang sayang jangan lepas cincin ini ya. Kalau emang tidak mau sayang pake di jari jadikan kalung saja, mengerti." Jawab Alex sambil menyentuh hidungku.


"Iya sayang." Ucapku sambil tersenyum dan memegang tangan Alex.


"Sayang.." Ucapku setelah beberapa menit kami saling diam.


"Iya sayang??" jawab Alex.


"Sayang ada bisnis apa??" tanyaku.


"Kenapa sayang??" tanya Alex padaku.


"Sayang bisnisnya halal kan??" tanyaku lagi.


Alex tertawa sangat kencang, hingga tak lama teman-temanku semua datang ke kamar.

__ADS_1


"Kencang banget ketawanya bro, senang banget kayaknya." Ucap Jonathan.


"Bro, bisnisku halal gak bro??" tanya Alex pada Jonathan.


"Emangnya kenapa??" tanya Jonathan kembali.


"Calon istriku nanya bro, bisnisku halal atau enggak." Jawab Alex.


Seketika semuanya tersenyum.


"Gimana ya Jo aku jawabnya, di bilang halal gak terlalu sih tapi kalau kau nikah samanya pasti amanlah bisnisnya dan uang bulanan mu pasti bakal terpenuhi." Jawab Jonathan.


"Bisnis apaan sih sayang, ih jangan buat takut gitu ah." Ucapku.


"Pokoknya Jo halal belum tentu, tapi uangnya emang banyak." Jawab Jonathan serius.


"Ih yang serius lah bang Nat " Ucapku.


Jonathan tersenyum.


"Joana, serius gatau bisnis bang Alex apaan??" tanya Irene padaku.


"Enggak." Jawabku.


"Ya Allah Jo serius??" tanya Tasya padaku dan duduk dekat denganku.


"Kita udah kuliah hampir 4 tahun Jo, masa gatau sih, selama ini yang aku sering cerita samamu." Ucap Irene.


"Aku lupa Ren, udah bilang aja kenapa sih." Jawabku dengan wajah cemberut.


"Jo ingat selama ini kalau kita ada acara di fakultas meeting. atau catering di Restoran Nusantara??" tanya Irene.


"Iya ingat." Jawabku.


"Ingat gak kalau kita pergi penelitian keluar kota kita pake Bus dan travel dari Travel Angkasa yang selalu dapat makanan gratis di perjalanan.." Ucap Irene kembali.


"Iya ingat, emangnya kenapa Ren??" ucapku.


"Itu semua bisnis pacarmu sayang, bisnis calon bojomu tuh. Kenapa mereka berdua ini terkenal, karena mereka punya bisnis untuk sponsor di fakultas kita sayang " Jawab Irene sambil menunjuk Alex dan Jonathan.


"Iya sayang, bener??" tanyaku dengan semangat.


"Iya sayang.." Jawab Alex.


"Gimana sayang bisa punya bisnis gitu?? gimana caranya??" tanyaku semangat.


"Kenapa sayang nanya gitu??" tanya Alex.


"Aku juga mau punya bisnis, aku juga mau belajar sukses di usia muda." Jawabku.

__ADS_1


Alex tersenyum mendengarnya.


"Puji Tuhan bro, pacarku beda. Fixs nikah aku nih kayaknya." Ucap Alex pada Jonathan.


Jonathan tertawa.


"Joana-Joana baru kau sebagai pacar Alexander nanya kayak gitu. Tinggal nikmati harta calon suami aja seharusnya Joana, gausah ikut sukses juga nanti kalian terlalu kaya." Ucap Jonathan.


Teman-temanku tertawa mendengar ucapan Jonathan.


"Aku kan juga punya mimpi pengen punya brand make up sendiri." Jawabku.


"Yaudah nanti kita sama-sama belajar ya sayang, sayang belajar make up nya nanti bisnisnya aku yang bimbing, oke." Ucap Alex sambil mengelus kepalaku.


"Oke.." Jawabku tersenyum sumringah.


Setelah membahas hal-hal random, kami pun membahas untuk pertemuan besok dengan kepala desa, dosen-dosen, pak Kodir dan bu Bety. Besok mereka sudah mengkonfirmasi akan sampai jam makan siang antara jam 11/12 siang. Karena hal itu, keluarga Joana menginap juga di rumah kakek. Kami semua tidur di kamar Alex, keluarga Joana tidur di lantai atas di kamar tamu.


Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamar.


" Permisi semuanya." Ucap seorang pria di depan pintu.


"Eh bang udah datang, ini pasiennya " Jawab Alex menunjuk ke arahku.


Aku mencoba bangkit untuk duduk, tapi di tahan oleh Alex.


"Gausah bangkit sayang, tidur aja. Ini sepupuku bang Rudi dokter yang akan periksa kamu." Ucap Alex.


"Hai bang Rudi, maaf ya saya gak bisa duduk." Ucapku menyapa bang Rudi.


"Gakpapa Joana, sini biar saya periksa dulu ya." Jawab bang Rudi.


Setelah beberapa saat bang Rudi periksa keadaanku, bang Rudi hanya memberi satu bungkus obat yang harus ku minum setiap hari, satu hari sekali. Katanya itu obat pasca syok supaya tidak jadi trauma berat untukku.


Aku menurutinya, dan sesudah itu bang Rudi keluar kamar dan berbincang dengan kakek, ibu dan ayahku.


"Yo Lex aku keluar dulu ya." Ucap bang Rudi


"Iya bang sorry gak bisa antar." Jawab Alex.


"Santai ajalah, yok Joana." Ucap bang Rudi.


"Terimakasih bang." Ucapku sambil tersenyum.


Tak terasa kami berbincang makan malam pun tiba, setelah selesai makan malam bersama kami semua istirahat menyiapkan tenaga untuk pertemuan yang panjang besok. Jam 9 malam setelah makan malam bersama, kami semua sudah terlelap di kamar Alex yang wangi dan sangat nyaman.


To be continue.


Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Dukung cerita saya dengan like, komen, share, vote dan tambahkan ke favorit teman-teman ya❤️.

__ADS_1


__ADS_2