
Setelah kami saling diam beberapa saat, Alex berkata.
"Aku juga ada sedikit cerita, Aku pernah melihat anak kecil di halaman belakang rumah saat dini hari. Aku juga sesekali mendengar suara tangisan, suara orang ramai mengobrol tapi aku gak pernah dengar suara orang jalan. Aku juga pernah mengalami hal aneh saat aku sedang tidur, aku terbangun itu kalau gak salah tengah malam. Gak sengaja aku melihat ke arah dinding kamar, Dari dinding itu tiba-tiba keluar kain putih yang lama-lama melebar membentuk manusia tapi hanya kain saja waktu itu. Setelah itu aku entah tertidur entah pingsan aku terbangun di pagi hari." Ucap Alex.
"Kita udah saling cerita gini, malam ini yakin kita balik ke rumah itu??" tanya Anggi.
"Kita mau kemana kalau gk pulang ke sana??" tanya Alex kembali.
"Kita ke rumah bu Bety aja malam ini, kayak gini gak bener bang Lex aku takut." Jawab Anggi.
"Kita semua juga takut, cemas Anggi, tapi kita sama-sama ya hadapin ini bu Bety janji akan cerita setelah kita akan benar-benar keluar dari rumah itu." Jawab Alex.
"Gini aja deh, kalau kalian gak keberatan teman-teman malam ini kita semua tidur satu kamar aja, kita bagi batasnya untuk laki-laki dan perempuan, gimana??" usul Ruth.
"Boleh tuh, biar rame-rame aja kita." Ucapku.
"Okelah kalau gitu." Ucap Irene.
"Aku setuju." Jawab Tasya.
"Aku setuju tapi aku di pojok ya." Ucap Anggi.
"Aku yang akan tidur di dekat perbatasan laki-laki." Ucap Ruth.
Kami semua mengangguk tanda setuju, karena Ruth juga berpenampilan tidak jauh berbeda dengan laki-laki pasti tidak akan canggung jika tidur berdekatan.
__ADS_1
Gak terasa hari sudah mau gelap, kami memutuskan untuk pulang agar tidak kemalaman di jalan. Kami naik becak yang tadi membawa kami ke pantai, sepanjang perjalanan kami semua saling diam tidak membahas apapun atau mengungkit apapun sepertinya semua fokus pada pikirannya masing-masing.
Sesampainya di rumah, kami semua berkumpul di dapur untuk menunggu giliran ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Akibat dari semua cerita yang kami utarakan adalah kami selalu melakukan hal apapun secara bersama-sama.
Setelah semuanya selesai bebersih, kami berkumpul di ruang tengah karena belum mengantuk. Semua fokus pada handphone masing-masing, sampai akhirnya Alex mengatakan sesuatu padaku.
"Joana, sebenarnya ada yang mau aku omongin samamu kita ngomong diluar sebentar yuk." Pinta Alex.
"Mau ngomong apa Lex, kenapa gak disini aja??" tanyaku.
"Aku mau ngomong berdua denganmu." Jawab Alex.
"Udah sana Jo, bang Alex mau ngomong tu." Ucap Irene.
Aku menatap Alex beberapa detik, jantungku berdegup kencang menduga-duga apa yang hendak disampaikannya padaku. Aku memikirkan hal-hal lain, apakah Alex akan menyampaikan perasaannya padaku, begitu pikirku saat itu.
Alex pun ikut berdiri mengambil kunci motor dan jaketnya. Saat diluar rumah, aku bingung karena dia melemparkan jaketnya padaku.
"Pake tuh." Ucapnya.
"Emang mau kemana??" tanyaku.
"Kita ngomong di cafe aja." Jawab Alex.
Alex pun menyalakan sepeda motornya, aku memakai jaket yang dilemparkan Alex dan naik ke atas motornya. Kami pun pergi ke salah satu cafe yang tidak terlalu jauh dari kos kami.
__ADS_1
Di dalam rumah teman-temanku yang lain bergosip.
"Ih mau kemana mereka, Alex mau nembak Joana ya??" tanya Tasya sang ratu kepo.
"Mungkin." Ucap Irene.
"Bang Jo, bang Jo, pasti kau tau sesuatu kan??" tanya Tasya.
"Tau apa??" tanya Jonathan.
"Mereka mau membicarakan apa, pasti kau tau kan bang??" tanya Tasya.
"Gak tau aku, Alex gadak bilang apapun samaku." Jawab Jonathan.
"Ah aku gak percaya, mana mungkin abang gak tau." Ucap Anggi.
"Emang gatau, jadi gimana??" jawab Jonathan.
"Iya deh iya." Ucap Anggi.
"Kita tanya aja nanti kalau mereka udah pulang." Ucap Jonathan.
"Iya bang.." Jawab Anggi dan Tasya.
Mereka fokus kembali ke handphone masing-masing tanpa saling banyak bicara.
__ADS_1
To be continue.
Terimakasih untuk semua pembaca setiaku, dukungan like, komen, share, vote dan hadiah kalian adalah semangatku ❤️.