Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 68


__ADS_3

Jarak dari tepi pantai ke pondok tidak terlalu jauh maka dari itu aku memintanya menggendong ku. Sampainya kami di depan teman-teman mereka menggelengkan kepalanya karena tingkah kami yang seperti anak kecil sedang bermain.


"Kalian itu kayak gak pacaran tau gak, tapi kayak bapak sama anak." Ucap Irene.


Spontan yang lain tertawa mendengar Irene bilang begitu, aku dan Alex pun juga ikut tertawa.


"Emang bener aku kayak anaknya??" tanyaku pada Irene.


"Iya, nih tadi ku foto liat nih." Jawab Irene sambil menyodorkan handphone nya agar aku lihat foto hasil jepretan asalnya.


Aku pun tertawa melihat foto kami, Alex juga ikut tertawa.


"Bagus deh kalau gitu. Nanti kalau kita liburan bareng bisa satu kamar di hotel, iya gak??" ucap Alex sembari menggodaku.


"Dasar mesum." Ucapku sambil mengusap wajah Alex.


"Bang Alex mesum." Ucap Tasya.


Kami pun tertawa kembali bersama. Kami mulai makan menikmati seafood dan suasana sejuknya pantai. Sesekali kami bercanda dan tertawa, selebihnya kami sangat menikmati makanannya yang sangat enak bagi kami. Mungkin karena di barengi rasa lapar dan suasana yang nyaman.


Setelah makan, kami berencana langsung pulang ke rumah karena banyak hal yang harus kami persiapkan untuk besok memulai program kami di desa. Program pertama kami ingin mensosialisasikan cara memisahkan sampah agar dapat di daur ulang kembali dan dapat di jual untuk menambah kas setiap dusun.


Maka dari itu besok kami harus bisa mengunjungi 2-3 dusun agar dalam menyelesaikan program pertama dalam dua hari. Kami punya target akan menyelesaikan program kami di hari sabtu dan pulang di hari senin.


Walaupun belum pas 30 hari setidaknya kami menyelesaikan penelitian dan program kami dalam waktu 25 hari. Lebih cepat lebih baik.

__ADS_1


Akhirnya kami pulang, di perjalanan pulang kami semua bernyanyi bersama. Di tengah perjalanan kami singgah ke supermarket untuk membeli makanan dan minuman instan karena kami mulai bosan makan, makanan yang menunya itu-itu aja setiap harinya.


Sampailah kami di rumah, kami menyusun barang-barang yang akan kami pakai besok. Memberikan label ke wadah-wadah yang akan kami bagikan ke setiap lingkungan di desa, agar mempercepat kinerja kami.


karena pekerjaan kami banyak, kami bergantian untuk mandi agar tidak mandi malam. Semenjak peringatan ibu bidan dan kejadian-kejadian aneh yang menimpa kami, kami jadi tidak berani lagi untuk mandi lewat jam 6 sore.


Tanpa terasa kami menyelesaikan pekerjaan kami pukul 11 malam.


"huahh akhirnya selesai juga." Ucapku dan menguap karena kelelahan.


Aku langsung merebahkan tubuhku di lantai, diikuti dengan Irene yang juga merebahkan tubuhnya dan memelukku. Melihat Irene memelukku, Alex berkata.


"Aku boleh gak sekarang peluk kamu kayak Irene peluk kamu gitu??" tanya Alex yang sedang bersandar di dinding.


"Gak bisa bang, untuk sekarang cuma aku yang boleh gini. Kalau mau ya nikah dulu dong." Jawab Irene.


"Aku nanya ke pacarku Ren, bukan kau." Ucap Alex.


"Aku mewakili." Jawab Irene.


"Joana ingat ya tanpa persetujuanku tidak ada laki-laki yang bisa memelukmu seperti ini, oke besti." Ucap Irene kembali dan mencium pipiku.


"Irene... jijik sana ah." Teriakku.


"Hus.. udah malam Joana." Ucap Tasya dan menutup mulutku.

__ADS_1


"Eh...eh nampaknya kalian mau nyiksa pacarku, minggir semua minggir." Ucap Alex sambil menarik kaki Irene yang memelukku, alhasil aku juga ikut tertarik.


"Alex.." Teriakku.


Teman-temanku yang lain pada tertawa dan kurang asemnya lagi Jonathan malah asik merekam kami. Spontan aku bicara karena tau Jonathan merekam kami.


"Jonathan awas ya kalau sampai tersebar." Teriakku.


"Eh udah gak sopan adek ya." Ucap Jonathan yang kemudian berdiri dan malah ikut membantu Alex menarik kaki kami.


Yang semakin membuatku jengkel Irene makin memelukku dengan kencang. Akhirnya mereka berhenti menarik kami karena kami sudah sampai di dapur. Mereka berdua lari ke depan, Irene yang juga langsung lari meninggalkanku.


Aku pun berlari ke depan untuk menangkap Irene tapi aku tidak berhasil. Alhasil aku berusaha menangkap Alex dan dia pun menyerahkan dirinya padaku karena aku mengancamnya. Begitu Alex sudah menyerahkan dirinya ku ambil lengannya dan ku gigit.


Alex teriak kesakitan, teman-temanku tertawa puas, aku pun tertawa melihat raut wajahnya.


"Ya Tuhan sakit banget, untung aku sayang." Ucap Alex sambil melihat ke arahku.


Kami pun tertawa bersama, aku sangat bersyukur bisa merasakan hal ini. Membuatku lebih bisa membuka diri dengan orang sekitarku.


To be continue.


Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Dukung cerita saya dengan like, komen, share, vote dan tambahkan ke favorit teman-teman.


Maaf ya teman-teman telat upload nya 🙏.

__ADS_1


__ADS_2