
Pagi ini aku dan teman-temanku tidak lari pagi, kami semua tertidur dengan amat pulas karena kelelahan. Pagi ini aku dan Irene sama-sama bangun, kami bangun pukul 08.00 Wib. Kami keluar dari kamar membuat teh dan duduk berdua di ruang tengah, teman-teman yang lain belum bangun jadi kami memutuskan untuk menunggu mereka bangun sambil minum teh di teras rumah. Aku dan Irene duduk menghadap ke jalan raya sambil meminum secangkir teh hangat.
"Ren, tadi malam kenapa manggil aku??" tanyaku.
" Aku mau cerita Jo, tapi jangan kau marahi ya cukup dengarkan aku dan beri solusi jika itu tidak menyakitkan, oke." Ucap Irene.
" Cerita apa?? pacarmu?? aku gk jamin gk akan memberimu solusi menyakitkan jika ini tentang pacarmu." Ucapku.
" Yaudah deh, Jo aku harus gimana ya, pacarku selingkuh sama teman satu tongkrongan ku di rumah." Ucap Irene.
" Hah?? pacarmu dan temanmu selingkuh?? kok bisa ??? mereka saling kenal ??" tanyaku.
" Iya aku dan pacarku sebenarnya kami berteman, teman satu tongkrongan di rumahku, kami dari SMP sudah sering nongkrong bareng. Kami biasanya berenam 3 cowo 3 cewe, dan aku jatuh cinta sama salah satu temanku dan ternyata dia juga makanya kami berpacaran." Ucap Irene.
" Ren.. ren.. mau bilang kau bego tapi sebenarnya pintar, mau bilang polos juga enggak, tapi kayaknya emang deh kau kurang pintar dalam hal percintaan ya." Ucapku sambil menyeruput teh.
" hmm.. ya gimana aku jatuh cinta sama dia." Ucap Irene.
" Ren, jangan pernah suka sama satu tongkrongan gitu, kalau masalahnya gini kan ribet Ren hancur deh tu satu tongkrongan." Jawabku.
" Iyakan, makanya aku bingung Jo, aku mau putusin dia karena alasan itu aku takut tongkrongan kami akan bubar Jo." Ucap Irene.
" Cuma dua solusi untuk ini, kau putuskan pura-pura gatau dia selingkuh sama temanmu atau kau tetap mempertahankan hubungan itu biar semua gk rusak, pikirkan berapa persen sakitnya dan sakit mana yang bisa kau terima." Jawabku.
" Maksudnya Jo??" tanya Irene.
"Putus sakit kan??" tanyaku.
"Iya sakit Jo" jawab Irene.
" Kira-kira berapa persen??" tanyaku kembali.
__ADS_1
" Hm 80 persen mungkin,," jawab Irene.
" Putus dan pura-pura gak tau kalau mereka selingkuh di belakangmu sakitnya berapa persen?? " tanyaku.
" Hmm 90 persen kayaknya,," jawab Irene.
" Mempertahankan hubungan pertemanan, hubunganmu dengan pacarmu dan pura-pura gatau dia selingkuh sakitnya berapa persen??" tanyaku.
" Kenapa nanya gitu terus sih.." Jawab Irene menggerutu.
" Udah jawab aja." Ucapku.
" Sakit banget pastinya dan aku gk bisa kayak gitu." Jawab Irene.
" Yaudah putuskan aja tanpa alasan apapun, menghilang dan jauhi tongkrongan mu." Jawabku.
" Yah kehilangan semuanya dong Jo." Jawab Irene.
Irene terdiam, namun ku liat wajahnya sedikit memerah seperti menahan tangis, aku yakin ini sangat menyakitinya tapi harus seperti ini agar dia mengerti. Irene anak yang lumayan polos soal pertemanan dia merasa semua orang sama tidak menyimpan apapun sepertinya, padahal semua orang tidak akan ada yang sepertinya. Bagiku Irene terlalu tulus sehingga menjadikannya gampang di manipulasi oleh keadaan sekeliling nya.
" Udah setengah 9 ini kita mandi aja yuk, pikirkan pelan-pelan Ren, aku kasih tau hal buruk padamu bukan untuk membuatmu jauh dari teman-temanmu. Tapi bagiku seorang teman tidak akan seperti itu pada temannya, benar bukan?? " tanyaku ke Irene.
" Iya Jo, kau benar seharusnya aku lebih cepat tanggap walaupun menyakitkan." Ucap Irene.
" Yaudah yuk mandi, biar cepat ke pantai aku udah gak sabar." Ucap Irene kembali.
Aku dan Irene mandi, sambil bersiap untuk pergi. Saat kami mandi ku dengar ruang tengah seperti ada yang menggeser kursi dan duduk, sepertinya teman-teman yang lain sudah bangun.
Benar saja, begitu aku dan Irene keluar dari kamar mandi semua temanku sudah duduk di ruang tengah menunggu giliran mandi, sepertinya semua sudah tidak sabar ingin pergi ke pantai semoga saja hari ini kami menyelesaikan laporan kami bukan malah liburan 😁.
Akhirnya tepat pukul 10.30 wib semua selesai bersiap, namun hanya aku dan Irene yang sudah minum teh untuk mengganjal perut kami agar tetap hangat.
__ADS_1
" Woi gimana gak sarapan dulu kalian para wanita??" tanya Alex.
" Makan di pantai ajalah ya, kan lebih nikmat tuh. lagian aku masih kenyang tadi malam makan banyak banget, kalian gimana??" tanya Anggi.
Semua mengangguk kan kepala tanda setuju untuk makan di pantai, tanpa banyak cerita kami langsung memanggil becak langganan kami dan menuju Pantai.
Walaupun sudah beberapa hari di rumah ini tetap saja rasanya sangat mengganjal karena pemilik rumah tidak pernah terlihat pada kami, kecuali Anggi yang selalu sholat subuh mengambil wudhu. Anggi lah yang sering berpapasan tanpa bicara oleh pemilik rumah ini. Bingung campur penasaran tapi kami terus berusaha meyakinkan diri bahwa mereka punya keperluan lain sehingga tidak pernah berjumpa dengan kami saat pagi hari dan malam hari ketika kami hendak istirahat.
Emang benar sih kami hanya berada di rumah saat pagi hari dan malam hari karena kami lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, mungkin hal ini juga yang membuat kami tidak pernah berpapasan dengan pemilik rumah. Gangguan aneh yang kami rasakan masih ada tapi hanya seperti suara ketukan benda jatuh dan benda berpindah itu membuat kami sudah mulai biasa saja. Asalkan tidak menyerupai lagi mungkin kami masih bisa menoleransi ganggu aneh itu.
Sepanjang perjalanan di becak aku memikirkan Jonathan, aku sedikit merasa ada yang aneh tentangnya. Setiap kali aku mengalami hal aneh dia selalu cepat tanggap seolah-olah tau apa yang ku lihat, kurasakan, dan menenangkan ku dengan percaya diri. Sorotan matanya yang amat sangat tajam jika menyangkut hal aneh, serta nasehat-nasehatnya yang bagiku selalu masuk ke pikiranku seolah-olah dia bisa membaca isi pikiranku.
Apa karena aku menyukainya, atau aku mengaguminya sehingga apa yang dia katakan padaku membuatku terkesan. Mungkin saja seperti itu, aku mencoba meyakinkan pikiranku mengenainya seperti itu.
Irene memecah lamunanku.
"Joana, mikirin apa?? kau jangan melamun gitulah, aku sekarang jadi sedikit takut kalau kau melamun seperti itu." Ucap Irene.
" Takut kenapa Irene?? emangnya aneh jika aku melamun memikirkan sesuatu.." Jawabku.
" Makanya ingat terakhir kali kau melamun gimana?? nangis-nangis kan,," ucap Irene.
Aku hanya tertawa melihat ekspresi wajah Irene yang menyatukan alisnya saat berbicara.
" Idih di bilangin malah ketawa, tapi baguslah berarti kau masih waras seperti Joana yang ku kenal selama ini." Ucap Irene kembali.
Teman-teman yang lain hanya tersenyum, oia yang satu becak denganku kali ini semuanya perempuan ya guys yaitu Aku, Irene, Anggi, Dan Tasya. Yang lainnya berada di becak kedua, yah bisa dibilang perkumpulan para lelaki 😅.
Tidak sabar sebentar lagi kami sampai di pantai, aroma-aroma laut sudah tercium aroma kehidupan.
To be continue.
__ADS_1
Terimakasih untuk semua pembaca yang masih setia menunggu upload cerita dari saya, saya minta maaf karena belum bisa upload setiap hari seperti janji saya, tapi saya sedang berusaha mengerjakan ini sambil belajar agar cerita yang saya bawakan dapat lebih baik dan menyentuh hati para pembaca. Terimakasih untuk semua dukungannya.